Berita Aceh

Melihat Kisah 3 Peristiwa Kelam sebagai Pelanggaran HAM Berat di Tanah Rencong Aceh

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui adanya 12 peristiwa pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat yang terjadi di masa lalu

Editor: Rizwan
Web Serambi Indonesia
Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama Menko Polhukam, Mahfud MD, dan Tim Penyelesaian Non-Yudisial Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu memberikan keterangan terkait pelanggaran HAM masa lalu di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (11/1/2023). 

TRIBUNGAYO.COM - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui adanya 12 peristiwa pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat yang terjadi di masa lalu.

Dari jumlah tersebut, tiga di antaranya terjadi di Aceh, sedangkan 9 lainnya berada di sejumlah daerah lain di Indonesia.

Ketiga peristiwa kelam yang meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Tanah Rencong adalah Tragedi Rumoh Geudong dan Pos Sattis pada tahun 1989, Peristiwa Simpang KKA tahun 1999, dan Peristiwa Jambo Keupok tahun 2003.

Pengakuan itu disampaikan Presiden setelah menerima laporan dari Tim Penyelesaian Non-Yudisial Pelanggaran Hak Asasi Manusia (PP HAM) di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu (11/1/2023).

Dikutip dari Serambinews.com, berikut ulasan sekilas tentang ketiga tragedi kelam tersebut yang dilansir Serambi dari berbagai sumber.

Pertama, Peristiwa Rumoh Geudong dan Pos Sattis.

Rumoh Geudong adalah rumah bangsawan (ulee balang) Aceh yang dibangun pada tahun 1818 lampau oleh Ampon Raja Lamkuta di tengah lahan seluas 150×80 meter persegi.

Pada masa penjajahan Belanda, rumah tersebut sering digunakan sebagai tempat pengatur strategi perang yang diprakarsai oleh Raja Lamkuta bersama rekan-rekan perjuangannya.

Sejak April 1990, Rumoh Geudong yang lokasinya tak jauh dari jalan Banda Aceh-Medan, Kawasan Desa Bilie Aron, Kecamatan Glumpang Tiga, Pidie, itu digunakan sebagai pos militer (Pos Sattis).

Baca juga: Relawan Jokowi Apresiasi Negara Akui 12 Pelanggaran HAM dari Aceh sampai  Papua

Dilansir dari berbagai sumber, kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh aparat negara yang melampaui akal sehat mereka di Rumoh Geudong menyisakan luka yang mendalam bagi masyarakat Aceh dan bahkan masyarakat luar Aceh.

Menurut keterangan warga setempat, sejak Maret 1998 sampai Daerah Operasi Militer (DOM) dicabut pada 7 Agustus 1998, Rumoh Geudong dijadikan tempat tahanan bagi lebih dari 50 laki-laki dan perempuan yang dituduh terlibat dalam Gerakan Pengacau Keaamanan Aceh Merdeka (GPK-AM).

Namun, berdasarkan penuturan seorang korban yang sempat ditahan di Pos Sattis selama tiga bulan, dia menyaksikan 78 orang dibawa ke pos dan mengalami berbagai penyiksaan.

Tragedi Rumoh Geudong Aceh 1989, Peristiwa Masa Lalu yang Diakui Negara Sebagai Pelanggaran HAM Berat
Tragedi Rumoh Geudong Aceh 1989, Peristiwa Masa Lalu yang Diakui Negara Sebagai Pelanggaran HAM Berat (Museum HAM)

Dilansir dari Museum HAM, setiap kali proses penyiksaan, dimulai dengan menghidupkan musik bervolume besar sehingga segala jeritan pilu para korban tidak terdengar ke luar.

Perempuan-perempuan yang dicurigai berafiliasi dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), baik sebagai istri, anak, atau keluarga difoto di Rumoh Geudong.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved