Liga 2
Kerusuhan Suporter Gresik United vs Deltras Sidoarjo: Sorotan Pasca Kekalahan Tim
Kerusuhan suporter meletus setelah pertandingan sengit antara Gresik United dan Deltras Sidoarjo, di mana tim tamu meraih kemenangan 1-2.
Kerusuhan Suporter Gresik United vs Deltras Sidoarjo: Sorotan Pasca Kekalahan Tim
TRIBUNGAYO.COM - Kerusuhan suporter meletus setelah pertandingan sengit antara Gresik United dan Deltras Sidoarjo, di mana tim tamu meraih kemenangan 1-2.
Suporter yang diduga berasal dari Gresik United meluapkan kemarahannya karena tim kesayangannya kalah dalam pertandingan tersebut.
Dalam video yang beredar luas di media sosial, terlihat aksi melempar batu dan benda-benda oleh suporter di luar stadion.
Polisi yang berusaha mengendalikan kerusuhan pun terlihat menembakkan gas air mata.
Bahkan, beberapa tembakan gas air mata mengenai area jalanan di sekitar stadion, menambah intensitas kekacauan.
Peristiwa ini dengan cepat menjadi perbincangan hangat di media sosial, terutama di platform X (Twitter).
Hashtag terkait peristiwa ini menjadi trending topic, mengingatkan pada tragedi Kanjuruhan di Stadion Kanjuruhan Malang beberapa waktu lalu.
Baca juga: Berikut Link Live Streaming Persiraja vs PSMS Medan Liga 2, Kick Off 20.30
Tragedi tersebut terjadi setelah pertandingan antara Arema FC dan Persebaya Surabaya, yang menyebabkan 135 orang tewas.
Topik Kanjuruhan kembali mencuat pada pagi Senin (20/11/2023), di mana lebih dari lima ribu cuitan memuat kata "Kanjuruhan" dalam konteks kerusuhan suporter Gresik.
Kecemasan dan kritik terhadap keamanan stadion serta pengelolaan pertandingan sepakbola di Indonesia mencuat kembali sebagai dampak dari insiden ini.
Jumlah Korban
Buntut kericuhan di Stadion Gelora Joko Samudro, puluhan mengalami luka peristiwa ini.
Baik dari Ultras suporter Gresik United dan pihak kepolisian.
Pertandingan berakhir dengan skor 1-2 untuk kemenangan tim tamu Deltras Sidoarjo.
Aksi lempar batu dan tembakan gas air mata terjadi di luar stadion, tepatnya di depan pintu masuk VIP dan parkiran sepeda motor.
"Ada 17 suporter, 11 polisi, total 28. Kita cek semua, sebagian besar sudah bisa pulang," ujar Panpel Gresik United, Muhammad Syamsud Dluha saat ditemui di depan RS Semen Gresik , Minggu (19/11/2023), diberitakan TribunJatim.com.
Sebagian besar korban kericuhan mengalami sesak nafas, matanya sakit, sebagian besar sudah bisa pulang. Selain di RS Semen Gresik, ada pula yang menjalani perawatan di RS Petrokimia Gresik, RSUD Ibnu Sina. Kemudian di puskesmas.
"Sesak, pusing, matanya perih," katanya.
Sementara korban luka sebagian besar dialami petugas kepolisian, karena lemparan batu.
Baca juga: Prediksi Skor Persiba Balikpapan vs Persipura Jayapura di Liga 2, Apakah Mutiara Hitam Tambah Poin?
Tragedi Kanjuruhan
Tragedi Kanjuruhan adalah sebuah peristiwa mencekam yang terjadi pada dunia sepak bola.
Tragedi itu terjadi di Malang, Jawa Timur, Indonesia pada Sabtu, 1 Oktober 2022.
Akibat dari tragedi itu 135 orang meninggal dunia.
Korban yang meninggal dunia pada Tragedi Kanjuruhan, Malang Indonesia ini adalah suporter sepak bola dan dua anggota Polri.
Penyebab meninggalnya para suporter yakni terinjak-injak.
Selain itu, penyebab lainnya adalah sesak nafas akibat semprotan gas air mata yang dilakukan oleh jajaran keamanan.
Insiden kerusuhan bermula saat Arema FC kalah dari Persebaya Surabaya 2-3.
Seusai pertandingan, ribuan Aremania mendesak masuk ke lapangan Stadion Kanjuruhan Malang.
Melihat ribuan suporter masuk ke lapangan, pihak keamanan dari Polri dan TNI langsung melakukan pengamanan.
Kejadian berlanjut dengan aksi lempar-lemparan antara suporter dengan petugas keamanan.
Lantaran kalah jumlah personel dan suporter tak dapat dikendalikan, petugas keamanan akhirnya mengeluarkan gas air mata.
Ada juga gas air mata yang mengarah ke tribun sehingga membuat suporter berusaha menyelamatkan diri.
Lantaran berdesak-desakan untuk menyelamatkan diri, banyak suporter, baik pria maupun wanita yang jatuh dan terinjak.
Banyak juga yang mengalami sesak napas hingga akhirnya jatuh dan tak sadarkan diri.
Insiden di Kanjuruhan merupakan tragedi stadion sepak bola terbesar kedua dalam sejarah jika melihat jumlah korban meninggal.
Adapun kejadian paling memilukan dalam sejarah sepak bola terjadi pada 24 Mei 1964 di Estadio Nacional, Lima, Peru.
Saat itu, Peru bertanding melawan Argentina dalam kualifikasi Olimpiade. Peru tertinggal 0-1 dan berhasil menyamakan kedudukan pada menit-menit akhir.
Namun, gol penyama kedudukan Peru dianulir oleh wasit. Hal itu kemudian menimbulkan kerusuhan yang mengakibatkan 328 orang tewas. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Kanjuruhan Trending Video Kerusuhan Suporter Laga Gresik United vs Deltras Sidoarjo, Korban 28 Orang
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Instagram-Deltras-FC-1.jpg)