Berita Aceh Tengah
Dosen IAIN Takengon Dr Evanirosa Raih Peringkat Ketiga Internasional di PKM OSA Batch 13
Keberhasilan Dr Evanirosa diperoleh melalui penelitian berjudul "Transformasi Budaya Iserahen Kuguru".
Penulis: Romadani | Editor: Mawaddatul Husna
Laporan Romadani | Aceh Tengah
TRIBUNGAYO.COM, TAKENGON - Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon, Dr Evanirosa MA meraih prestasi internasional dengan menempati peringkat ketiga pada ajang International Community Service Activity (PKM OSA) Batch 13.
Kompetisi bergengsi ini berlangsung pada 21-23 September 2024 dan diselenggarakan oleh The Association of Community Service Lecturers of Indonesia (ADPI).
Keberhasilan Dr Evanirosa diperoleh melalui penelitian berjudul "Transformasi Budaya Iserahen Kuguru".
Menarik perhatian, acara tersebut diikuti peserta dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, Pakistan, Rusia, Kosovo, dan Tanzania.
Penelitian Dr Evanirosa menggali perubahan budaya lokal Aceh, khususnya tradisi Iserahen Kuguru, sebagai bagian penting dari identitas budaya masyarakat Gayo.
PKM OSA Batch 13 merupakan salah satu kompetisi akademik paling prestisius di bidang pengabdian masyarakat.
Acara ini mempertemukan akademisi dan praktisi dari berbagai negara untuk berbagi penelitian, inovasi, dan pengalaman guna mendukung pembangunan sosial dan budaya.
Prestasi Dr Evanirosa tidak hanya membanggakan IAIN Takengon, tetapi juga memperkuat posisi Aceh di kancah internasional dalam hal penelitian budaya.
Dr Evanirosa berharap pencapaiannya dapat menginspirasi mahasiswa dan dosen di IAIN Takengon untuk terus berinovasi dan berkontribusi melalui penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat.
"Penelitian lokal yang berfokus pada nilai-nilai budaya dapat menjadi sorotan internasional.
Saya berharap karya ini memberikan kontribusi nyata dalam pelestarian budaya serta pengembangan komunitas lokal," ungkap Dr Evanirosa kepada TribunGayo.com, Minggu (29/9/2024).
Menurut Dr Evanirosa hasil penelitian para peneliti terus digunakan sebagai referensi utama dalam penelitian-penelitian lain terkait Asia Tenggara, baik dalam konteks geografi, antropologi, maupun etnografi.
Hasil penelitian kearifan lokal Gayo, misalnya, mampu menjadi perspektif kuat melakukan penelitian lain.
“Kenapa budaya Gayo begitu memikat? Karena etnis Gayo ini kaya akan budaya dan nilai-nilai luhur yang belum sepenuhnya dapat digali, karena masyarakat Gayo lebih intens dalam mewariskan budaya dengn tradisi lisan.
Barulah di abad ini akademisi mulai merintis untuk menulis," kata Dr Eva. (*)
Baca juga: IAIN Takengon Lepas 12 Mahasiswa KKN Melayu Serumpun Kelima se-Sumatera
Baca juga: Dekan FK Unair Dicopot Akibat Tolak Dokter Asing, Ini Tanggapan Dekan FSDU IAIN Takengon
Baca juga: Dosen dan Mahasiswa IAIN Takengon Studi ke Situs Cagar Budaya Loyang Ujung Karang
| Dua Kampung di Aceh Tengah Raih Penghargaan Website dan Media Sosial Terbaik |
|
|---|
| Pendataan Rampung, Aceh Tengah Siap Percepat Rehabilitasi Pascabencana |
|
|---|
| Harga LPG 12 Kg Tembus Rp 250 Ribu di Aceh Tengah, Pelaku Usaha Putar Otak |
|
|---|
| Kampung Atu Lintang Raih Juara II Lomba Gampong Tingkat Provinsi dan Penghargaan Medsos Kabupaten |
|
|---|
| Anggota DPRA Salwani Desak Pemerintah Aceh Tangani Jembatan Bale Nosar yang Kian Memprihatinkan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Akademisi-IAIN-Takengon-Dr-Evanirosa-MA.jpg)