Rabu, 10 Juni 2026

Kupi Senye

Guru Antara Kenyataan dan Harapan

Nasib guru bagaikan gula, tidak pernah tersebut jika meraih keberhasilan dan begitu kegagalan menyertainya, barulah mereka tersebut kata “guru”.

Tayang:
FOR TRIBUNGAYO.COM
Hammaddin Aman Fatih. 

Oleh: Hammaddin Aman Fatih *)

Satu kelas 31 orang, 1 orang  tidak lulus karena tidak pandai membaca. Pasti muncul pertanyaan “ngapain aja gurunya”.

30 orang yang pandai lulus tidak ada apresiasi untuk gurunya. Anak nakal salah guru. Study tour salah guru. Hari guru salah guru.

PIP gak cair salah guru. THR salah guru. Wisuda salah guru. Peserta didik sukses lupa sama guru. Ketika segelintir oknum sama dengan mayoritas guru.

Ada Istilah ketika seribu kebaikan yang guru lakukan akan sirna dengan satu kesalahan yang walaupun dilakukan oleh satu oknum guru.

Maka tidak salah kalau ada yang menyatakan kenyataan nasib guru seperti gula. Ketika seorang anak berhasil meraih apa yang ia cita-citakannya.

Maka orang tuanya mengatakan “siapa dulu orang tuanya”. Tapi, jika anaknya bermasalah maka masyarakat serta merta menyalahkan, siapa gurunya”.

Nasib guru bagaikan gula, tidak pernah tersebut jika meraih keberhasilan dan begitu kegagalan menyertainya, barulah mereka tersebut kata “guru”.

Jasa seorang guru bagaikan gula sewaktu kita meminum minuman kopi. Dalam minumam kopi ada 3 unsur ; kopi, gula dan rasa.

Kopi adalah orang tua, gula adalah guru, rasa adalah peserta didik. Jika kopi terlalu pahit, siapa yang salah?

Gulalah yang disalahkan karena terlalu sedikit, hingga “rasa” kopi menjadi pahit !!! Jika kopi terlalu manis, siapa yang disalahkan?

Gula pula yang disalahkan karena terlalu banyak, hingga “rasa” kopi menjadi manis, jika takaran kopi dan gula seimbang, sehingga rasa yang tercecap menjadi nikmat, siapa yang dipuji ???

Tentu semua akan berkata, “kopinya mantap” !!! Kemana gula ? Dimana Gula ? Yang mempunyai andil membuat “rasa” kopi menjadi mantap!

Itulah guru yang ketika “rasa“ terlalu manis, maka dia akan dipersalahkan ! Itulah guru kita “rasa” terlalu pahit maka dia pula yang akan dipojokkan !

Tetapi, Ketika “rasa” mantap, ketika peserta didik berprestasi maka orang tualah yang akan menepuk dadanya ; “anak siapa dulu”,

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved