Berita Aceh Tengah Hari Ini

Aji Mude: Ketika Lumpur Menghapus Rumah di Kala Segi, Termasuk Buku Syair Didong

Didong menjadi ruang pemulihan, cara orang Gayo mengingat tanpa tenggelam dalam duka.

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Sri Widya Rahma
TribunGayo.com/Fikar W Eda
KORBAN LONGSOR - Ceh Didong Aribka, Aji Mude berusia 64 tahun yang menjadi korban longsor di Kala Segi, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, Kamis (8/1/2026). Banjir bandang dan lumpur melanda Kalasegi, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, dan Aji Mude menjadi salah satu korban langsungnya. 

Ringkasan Berita:
  • Aji Mude, 64 tahun, seorang Ceh Didong dari Grup Arbika (Ari Bintang Kalasegi), dikenal sebagai penjaga syair dan ingatan kolektif masyarakat Gayo.
  • Pada Rabu, 26 November 2025, banjir bandang dan lumpur melanda Kalasegi, Kecamatan Bintang, Aceh Tengah. Rumah Aji Mude hancur total, lenyap disapu air dan lumpur.
  • Ia kehilangan 422 judul syair didong catatan tangan, sebuah arsip budaya yang tak tergantikan, hasil puluhan tahun menyusun kata, makna, dan petuah hidup.

Laporan Wartawan TribunGayo Fikar W Eda | Aceh Tengah

TribunGayo.com, TAKENGON - Di usia 64 tahun, Aji Mude, seorang Ceh Didong, masih duduk tegak ketika bercerita. Suaranya pelan, tetapi kokoh seperti orang yang telah kehilangan segalanya, namun tidak kehilangan dirinya sendiri.

Baca juga: Seniman Didong Linge Aseli, Mahdi dan Kisah 105 Liter BBM untuk Kampung Linge

Ia adalah Ceh Didong dari Grup Arbika (Ari Bintang Kalasegi). Seorang penjaga syair, perawat ingatan kolektif orang Gayo.

Namun, pada Rabu (26/11/2025) malam, alam datang dengan cara yang paling kejam. Banjir bandang dan lumpur melanda Kalasegi, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, dan Aji Mude menjadi salah satu korban langsungnya.

Rumahnya hancur, lenyap disapu air dan lumpur. Tak ada yang tersisa.

“Rumah habis. Buku syair didong habis dibawa banjir. Semua habis. Baju hanya tinggal di badan,” kata Aji Mude, saat berbincang bersama TriubunGayo.com, di Java Takengon Merodot, Kamis 98/1/2026).

Yang hilang bukan hanya bangunan. Bersamaan dengan rumah itu, Aji Mude juga kehilangan dokumen budaya berisi 422 judul syair didong catatan tangan, arsip batin, hasil puluhan tahun menyusun kata, makna, dan petuah hidup.

Bagi seorang Ceh Didong, itu sama artinya dengan hilangnya sebuah perpustakaan tak tergantikan.

Air datang tiba-tiba. Tak ada waktu menyelamatkan apa pun.

“Saya tidak bisa melakukan apa-apa. Saya hanya berserah diri dan berzikir,” ujarnya.

Dalam kepasrahan itu, Aji Mude merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan nalar.

“Air seolah menjauh dari kami.”

Di tengah kekacauan, satu keputusan naluriah menyelamatkan nyawa.

Baca juga: Syair Didong Linge Aseli: Dengan Didong Kami Memulihkan Diri

Ketika istrinya sudah terperosok dan terbenam lumpur, Aji Mude menarik lengan istrinya sekuat tenaga. Mereka berhasil keluar. Istrinya selamat, meski lengan harus diurut karena cedera akibat tarikan keras dari lumpur yang menahan.

Bagi Aji Mude, keselamatan istri adalah anugerah terbesar di antara puing-puing kehilangan.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved