Berita Aceh Tengah Hari Ini

Meski Mahal, Rindu Pengat Depik di Tengah Luka Bencana Tanah Gayo

Di Pasar Ikan Takengon, depik dijual Rp 60 ribu per kal, satuan takar tradisional masyarakat Gayo.

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Sri Widya Rahma
TribunGayo.com/Fikar W Eda
IKAN DEPIK - Ikan depik di Pasar Ikan Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Jumat (9/1/2026). Ikan depik, ikan kecil khas Danau Lut Tawar kini bukan sekadar lauk. Ia telah menjadi rindu yang mahal harganya. 
Ringkasan Berita:
  • Ikan depik, khas Danau Lut Tawar, kini bukan sekadar lauk, melainkan simbol rindu yang mahal harganya.
  • Di Pasar Ikan Takengon, depik dijual Rp60 ribu per kal (satuan takar tradisional Gayo). Empat kal setara dengan satu senare atau satu bambu.
  • Dua perempuan Gayo, Devi Inen Siti (Bogor) dan Mila Inen Aira (Buntul Sara Ine), merasakan kerinduan mendalam terhadap depik.
  • Hidangan itu bukan sekadar makanan, melainkan pengingat rumah, danau, masa lalu, serta penghangat hati di tengah duka bencana.

Laporan Wartawan Tribun Gayo Fikar W Eda| Aceh Tengah

Tribun Gayo.com, TAKENGON - Ikan depik, ikan kecil khas Danau Lut Tawar kini bukan sekadar lauk. Ia telah menjadi rindu yang mahal harganya.

Baca juga: Kembali Gunakan Alat Tradisional, Nelayan Lut Tawar di Aceh Tengah Bisa Dapat Depik 8 Bambu/Hari

Di Pasar Ikan Takengon, depik dijual Rp 60 ribu per kal, satuan takar tradisional masyarakat Gayo. Empat kal setara dengan senare, atau satu bambu. Harga itu setara dengan empat kilogram beras.

Mahal, bahkan terhitung sangat mahal untuk ikan sekecil itu. Namun bagi mereka yang menyimpan kenangan dan rasa, angka sering kali tak lagi menjadi penghalang.

Itulah yang dirasakan Devi Inen Siti dan Mila Inen Aira.

Devi, yang kini berdomisili di Bogor, sudah lama tak mencicipi depik.

Sementara Mila, yang tinggal di Buntul Sara Ine, tumbuh dengan rasa ikan danau ini sebagai bagian dari keseharian.

Keduanya sedang berada di Takengon bukan untuk berlibur, melainkan dalam rangka penyaluran bantuan bagi para seniman yang terdampak bencana banjir bandang dan longsor di Tanah Gayo.

Di sela agenda kemanusiaan itu, muncul satu keinginan yang sederhana namun dalam: makan depik.

“Sudah lama tidak makan depik,” kata Devi Inen Siti, lirih tapi penuh kerinduan.

Baca juga: Tampilkan Tarian Ikan Depik, Marza dan Ilma Raih Penghargaan Agam Inong Berbakat Provinsi Aceh 2024

Maka mereka pun menuju Pasar Ikan Takengon. Meski tahu harganya tinggi dan depik kini makin langka, niat itu tak surut. Depik dibeli. "Sara kal" cukup untuk satu masakan: pengat depik hidangan sederhana dengan rasa yang menautkan ingatan pada rumah, danau, dan masa lalu.

Di dapur, depik dimasak perlahan. Bukan sekadar untuk mengenyangkan perut, tapi untuk menghangatkan hati yang lelah oleh kabar duka dan kerja-kerja solidaritas.

Di tengah bencana yang merenggut sawah, kebun, dan rumah-rumah, pengat depik menjadi pengingat: bahwa kehidupan, sekecil apa pun, tetap layak dirayakan.

Ikan depik mungkin kian langka. Tapi selama masih ada orang yang merindukannya yang bersedia membayar mahal demi satu rasa depik tetap hidup. Bukan hanya di danau, tetapi di ingatan dan kasih orang-orang Gayo. (*) 

Baca juga: Wisata Aceh Tengah: Depik Tangkap Sajian Kuliner Khas Gayo yang Wajib Dicoba

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved