Banjir Aceh Tengah

Beginilah Kondisi Masjid Darurat Atu Singkih, Warga Rindu Salat Berjamaah Pascabencana

Masjid darurat ini menjadi simbol kebangkitan harapan, bahwa di tengah puing bencana, iman dan solidaritas masyarakat tetap tegak.

Penulis: Romadani | Editor: Sri Widya Rahma
Dokumen Bardan Sahidi
MASJID DARURAT - Kondisi masjid darurat di Kampung Atu Singkih, Kecamatan Rusip Antara, Kabupaten Aceh Tengah, Jumat (10/1/2026). Masyarakat Kampung Atu Singkih, Kecamatan Rusip Antara, Kabupaten Aceh Tengah, kembali melaksanakan ibadah salat Jumat setelah enam pekan terdampak bencana banjir dan longsor. 

Ringkasan Berita:
  • Salat Jumat kembali digelar di Kampung Atu Singkih, Kecamatan Rusip Antara, Aceh Tengah, setelah terhenti akibat banjir dan longsor.
  • Masjid Babul Ulum ambruk diterjang bencana pada 26 November 2025, sehingga warga membangun masjid darurat dari papan bekas, seng, dan tiang kayu sederhana.
  • Tulisan “Masjid Darurat Kampung Atu Singkih” terpampang di dinding, sebagai simbol keterbatasan namun penuh harapan.

Laporan Wartawan Tribun Gayo Romadani | Aceh Tengah 

TribunGayo.com, TAKENGON - Masyarakat Kampung Atu Singkih, Kecamatan Rusip Antara, Kabupaten Aceh Tengah, kembali melaksanakan ibadah salat Jumat setelah enam pekan terdampak bencana banjir dan longsor.

Baca juga: DAFTAR Nama Desa dan Dusun Hilang Diterjang Banjir di Aceh Tengah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara

Pada Jumat (10/1/2026), rindu sujud berjamaah akhirnya terobati. Warga tampak antusias menunaikan salat Jumat perdana di masjid darurat yang mereka bangun secara swadaya pascabencana.

Masjid Babul Ulum Ambruk Diterjang Banjir

Masjid darurat tersebut didirikan menyusul rusaknya Masjid Babul Ulum Atu Singkih yang ambruk diterjang banjir dan longsor pada 26 November 2025 lalu. 

Sejak saat itu, warga tidak lagi memiliki tempat ibadah permanen untuk melaksanakan salat lima waktu maupun salat Jumat.

Ibadah dilaksanakan di sebuah masjid darurat yang dibangun dari papan-papan bekas, seng bergelombang dan tiang kayu sederhana. 

Bangunan itu berdiri apa adanya, namun cukup menjadi tempat berlindung bagi rindu warga untuk kembali bersujud bersama.

Tampak di dalam masjid darurat, hamparan sajadah membentang di atas lantai kayu.

Tiang-tiang penyangga berdiri di tengah ruang salat, sementara atap seng membiarkan cahaya matahari masuk melalui celah-celahnya. 

Pada salah satu dinding terpampang tulisan sederhana bertuliskan “Masjid Darurat Kampung Atu Singkih”, menjadi penanda bahwa bangunan ini lahir dari keterbatasan, namun sarat harapan.

Salat Jumat Perdana Pascabencana

Tokoh agama sekaligus mantan anggota legislatif Aceh, Bardan Sahidi, dipercaya sebagai khatib pada salat Jumat perdana tersebut. 

Dalam khutbahnya, ia mengingatkan jamaah bahwa musibah memang telah meruntuhkan bangunan fisik masjid, namun tidak mematahkan iman dan kebersamaan masyarakat.

Baca juga: Dua Jembatan Bailey Sebagai Akses Tranportasi ke Aceh Tengah Sudah Bisa Dilintasi

“Masjid ini ambruk diterjang banjir dan longsor, tetapi semangat masyarakat untuk beribadah tidak ikut runtuh,” ujar Bardan.

Kepada TribunGayo.com, Sabtu (10/1/2026), Bardan Sahidi menyampaikan bahwa harapan warga begitu besar untuk kembali memiliki masjid yang nyaman dan layak sebagai pusat ibadah. 

Ia mengajak para dermawan dan kaum muhsinin untuk menjadikan Kampung Atu Singkih sebagai ladang amal, khususnya dalam pembebasan tanah wakaf serta penyediaan material bangunan guna membangun kembali Masjid Babul Ulum secara permanen.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved