Banjir Aceh Tengah

Kuet Mi Uyet: Ketika Seniman Gayo Duduk Melingkar dan Luka Dibacakan Pelan 

Sabtu (10/1/2026) sore, sebuah ruang di Asir-Asir Atas, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah, Tanah Gayo menjadi hening dengan cara yang berbeda.

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Mawaddatul Husna
TribunGayo.com/Fikar W Eda
PERTEMUAN - Para seniman berkumpul dan saling berbagi luka lewat seni. Mengalir begitu saja dalam acara bertajuk "Kuet Mi Uyet", Sabtu (10/1/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Sabtu (10/1/2026) sore, sebuah ruang di Asir-Asir Atas, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah, Tanah Gayo menjadi hening dengan cara yang berbeda.
  • Bukan hening karena sepi, melainkan karena orang-orang di dalamnya sedang saling mendengarkan dengan dada terbuka dan mata yang tak sepenuhnya kering.
  • Pertemuan itu bertajuk Kuet Mi Uyet, silaturrahmi dan solidaritas seniman terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor.

Laporan Wartawan Tribun Gayo Fikar W Eda | Aceh Tengah

TribunGayo.com, TAKENGON - Sabtu (10/1/2026) sore, sebuah ruang di Asir-Asir Atas, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah, Tanah Gayo menjadi hening dengan cara yang berbeda.

Bukan hening karena sepi, melainkan karena orang-orang di dalamnya sedang saling mendengarkan dengan dada terbuka dan mata yang tak sepenuhnya kering.

Pertemuan itu bertajuk Kuet Mi Uyet, silaturrahmi dan solidaritas seniman terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor.

Acara ini diselenggarakan oleh Komunitas Desember Kopi Gayo bersama The Gayo Institute, lembaga yang didirikan Salman Yoga.

Para seniman lintas genre hadir dan duduk melingkar, tanpa jarak, tanpa panggung.

Diantara mereka tampak para ceh didong yaitu M Din, Daud Kalampan, dan Irfan Dewantara.

Hadir pula para penyair dan musisi Purnama Kahar, Win Gemade, Zuliana Ibrahim, Devie Matahari, Asmira Dieni.

Rio Rendra, Iwan Bintang, Azam Pegayon, Ipap Suprapto, Darwin Sopacua, Yus Oloh Guwel, serta Salman Yoga sendiri.

Kemudian ada Murtada, Ulan Sanggar Nayu, Zuhra Ruhmi, Rembune, Indra Tessy. 

Hangat dan Bersahaja

Pertemuan dipandu oleh Yus Oloh Guwel, dengan suasana yang sejak awal terasa hangat dan bersahaja.

Salman Yoga menyambut para hadirin dengan ucapan selamat datang singkat, namun penuh makna menegaskan bahwa rumah ini dibuka untuk luka yang ingin disembuhkan bersama.

Founder Desember Kopi Gayo, Fikar W Eda, kemudian menyampaikan landasan pemikiran pertemuan ini. Bukan seremoni, bukan pula pertunjukan.

“Ada seniman yang jadi korban langsung, ada yang menjadi relawan, ada pula yang menyimpan duka dengan caranya sendiri.

Semua mengalirkan energi dukanya melalui seni,” ujar Fikar pelan.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved