Selasa, 28 April 2026

Berita Nasional

Di Malang Terdapat 50 Mahasiswa Asal Dataran Tinggi Gayo

Para pelajar yang datang ke kota ini termasuk dari Gayo Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Rizwan
TribunGayo.com
Mahasiswa Gayo di Malang dalam acara Festival Kampung Cempluk, Kamis (22/9/2022) malam 

Laporan Fikar W.Eda I Malang

TRIBUNGAYO.COM, MALANG - Kota Malang menjadi tempat tujuan pelajar dari seluruh pelosok negeri.

Malang telah menjelma jadi kota pendidikan.

Para pelajar yang datang ke kota ini termasuk dari Gayo Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara. 

"Mahasiswa dari Gayo ada sekitar 50 orang," kata Amri Vitra, mahasiswa tingkat akhir UIN Malang, Kamis (22/9/2022) malam.

Para mahasiswa ini kuliah di sejumlah perguruan tinggi di Malang, seperti Universitas Brawijaya, UIN Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Merdeka Malang dan lain-lain.

Para mahasiswa asal Dataran Tinggi Gayo tersebut tersimpan dalam organisasi Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Asal Tanoh Gayo Malang. (Ippematang).

Baca juga: Didong Perau Kucak, Kupi Gayo dan Titik Koma di Festival Kampung Cempluk Malang

Mereka tinggal di tempat terpisah, di rumah kost atau Asrama Aceh bergabung dengan mahasiswa dari daerah lainnya di Aceh.

Para mahasiswa asal Gayo ini juga aktif di organisasi IPPMA atau Ikatan Pemuda Mahasiswa Aceh Malang.

IPPMA sudah memiliki asrama mahasiswa terdiri dari 11 kamar yang dihuni 22 mahasiswa.

IPPMA dipimpin Noval.

"Tapi dalam kegiatan tertentu, kita mahasiswa Gayo kumpul, umpamanya dalam acara keluarga dan budaya," kata Amri, yang berasal dari Ponok Ulung Bener Meriah.

"Kami datang dan pergi, ada yang sudah tamat lalu pergi, tapi kemudian ada yang datang lagi sebagai mahasiswa baru," cerita Amri.

"Saat ini ada sebahagian yang baru di wisuda dan sebagian lagi sedang praktek kerja lapangan," kata Amri.

Baca juga: Jangin Kopi Gayo Semarakkan Kampung Cempluk Festival di Malang

Sebagai orang Gayo, mereka tetap mengembangkan seni Gayo di Malang

"Kalau ada undangan tampil ya kita ikuti, seperti saat ini, kami hadir di Kampung Cempluk Festival, mementaskan didong Gayo," kata Amri.

Mereka.menyadari bahwa seni Gayo tetap melekat sebagai sebuah identitas  budaya.

Hanya saja kendalanya, tidak rutin berlatih, dan jumlah pemain yang terbatas.

"Sebab itu tadi, nanti ada yang tamat dan pergi," katanya.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved