Kamis, 23 April 2026

Berita Nasional

Didong Dalam Trans Jakarta: Lengking Jalan Malaka Cibubur

Pertunjukan didong jalu dilakukan dalam bus Trans Jakarta, Minggu, 3 Juni 2012, pukul 14.00 WIB...

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Jafaruddin
TribunGayo.com
Kabri Wali dan Bintang Duta di Stasiun PGC 

Laporan Fikar W.EdaI Jakarta

TRIBUNGAYO.COM, JAKARTA - Pertunjukan didong jalu dilakukan dalam bus Trans Jakarta, Minggu, 3 Juni 2012, pukul 14.00 WIB.

Bus melaju dari stasiun PGC Cililitan menuju halte Grogol, pulang pergi.

Dua grup yang berdidong tanding dalam bus Trans Jakarta klop Singkite dari Ciputat dengan Bintang Duta dari Cibubur.

Itulah satu-satunya pertunjukan didong dalam Transjakarta, sejak perusahaan angkutan umum milik Pemerintah DKI Jakarta  itu beroperasi.

Pertunjukan itu sebagai bagian tugas akhir dari mahasiswa angkatan III Program Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ) 2010-2012, FIkar W.Eda.

Pembimbing  Prof Sardono W Kusumo, dan Arthur S Nalan.

Penguji  terdiri dari Hadi Artomo, M.Sn, Merwan Yusuf, DEA, dan DR. Iwan Gunawan.

Baca juga: Rivan Nurmulki Pemain Voli Putra Indonesia tak masuk Skuad Timnas di SEAVA Grand Prix 2023

Seperti apa  persiapan dan jalannya pertunjukan? Saya menceritakannya untuk Anda.

"PABRIK KIMIA"

Bintang Duta menjadi lawan tanding Singkite pada pertunjukan didong dalam Trans Jakarta nanti.

Kedua grup itu sebenarnya sudah pernah bertanding di panggung didong di Jakarta.

Hanya saja bukan dalam format didong berbahasa Indonesia.

Kabri Wali, yang menjadi ceh utama Bintang Duta sudah tiba di Jakarta.

Ia berangkat dari Aceh Tengah, khusus untuk keperluan pertandingan didong berbahasa Indonesia ini.

Sejak setahun terakhir, Kabri Wali lebih banyak beraktivitas di Aceh Tengah. Ia menjadi ceh pada grup didong Teruna Jaya.

Kabri memberikan alamat berlatih di Jalan Malaka No 86, Cibubur, jakarta Timur.

Baca juga: Hari Bhayangkara Meriah di Aceh Tengah, Pj Bupati Suapi Tumpeng ke Polisi Tertua dan Termuda

Sebelumnya kami lebih banyak bicara melalui telepon mendiskusikan tema-tema didong yang akan dipertandingkan.

Hujan sangat lebat, ketika saya dan kru dokumenter tiba di  alamat itu. Sebuah pabrik chemical. Letaknya persis di tepi Jalan Raya Malaka.

Dindingnya batako dengan pintu gerbang besi bercat biru. Tertera jelas No 86.

Lambok dan kru mengatur lampu. Eh lampunya tak bisa nyala.

Rupanya bohlam-nya putus.

Terpaksa dibeli dulu ke pasar elektronik terdekat.  Hujan sudah reda ketika bohlam tiba. Hari menjelang maghrib.

Kabri Wali sudah memperlihatkan didongnya, tentang korupsi, macet, dan korupsi.

Baca juga: Puisi dari Tanah Gayo: Cara Menanam Kopi dalam Didong Sidang Temas

“Wah sebaiknya masing-masing tema itu dipisah. Jangan jadikan satu puisi,” kata saya.

Saya lalu memperjelas lagi tentang konsep didong tanding di atas Trans Jakarta itu. Kabri mulai paham. 

Saya katakan paling kurang dibutuhkan sepuluh puisi yang ditulis dalam bahasa Indonesia, mengisahkan tentang Jakarta dengan segala sisinya.

Pada pertemuan itu saya meninggalkan dua teks puisi ciptaan saya, berjudul “Ini Zaman Jakarta” dan “Rencong.”

Saya minta ia mendidongkan dua puisi itu. Kabri menyanggupi.

Sepekan setelah itu, saya datang lagi ke Jalan Malaka 86.

Puisi pertama yang ia dendangkan adalah “Ini Zaman Jakarta” puisi kritik sosial.

Kabri juga mengkoordinasikan variasi tepukan tangan dan bantal serta koor-nya.

Baca juga: Timnas Voli Putra Korea Selatan Turunkan Skuad Utama di AVC Challenge Cup 2023, Alarm Bagi Thailand

Termasuk gerakan tangan, ketika ia mendendangkan puisi  berjudul “Jakarta Macetnya Jakarta.”

Jakarta  jalannya macet

Mobil motor sudah berdempet

Banyak yang keserempet

Sampai lecet kaki dan muka kita

Masuk rumah sakit

Dijahit yang luka-luka

Singkite orangnya susah

Menerobos lampu merah

Ban motor pecah 

Di tengah jalan raya

Polisi marah-marah

Karena salah tarik tiga

Jakarta macetnya Jakarta


Jalan sering tersendat

Singkite tak bisa lewat

Pergi  dari Ciputat

Ke pasar Jumat belanja

Kakak penyakit kumat

Karena obat lambat tiba

Jakarta macetnya Jakarta


Penduduk makin banyak

Kendaraan tinggi melonjak

Singkite habis minyak

Dia kejebak di Kalibata, dia

Dorong di jalan rusak

Kena tabrak sama vespa

Jakarta macetnya Jakarta


Jakarta gue pun bingung

Bising kagak ketulung

Lewat daerah Serpong

Ke Tangerang luar biasa, sana

Singkite kenalpot bolong

Masuk lorong di kejar warga

Jakarta macetnya Jakarta


Siang aku pun salut

Banyak tabrakan maut

Motor tak pernah surut

Mobil angkot dan bis kota

Malam kami ngebut, 

Di Daan Mogot tutup mata

Jakarta macetnya Jakarta

Kabri menjelaskan, lagu akan mudah dicari apabila syairnya sudah tersedia.

Didong itu mudah didendangkan karena susunan bunyinya teratur.

Baca juga: Didong Dalam Trans Jakarta: Beli Dua Tiket Dengan Kabri Wali

Rangkaian penciptaan karya ini mengacu kepada  teori kreativitas yang diutarakan Utami Munandar, (1987:47), menyatakan bahwa “Kreativitas adalah kemampuan membuat kombinasi baru berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada.”

Acuan lain adalah teori interteks yang didefinisikan sebagai hubungan atau jaringan  antara satu teks dengan teks-teks lain (Nyoman Kutha Ratna, 2010: 212).(*)

Update berita lainnya di TribunGayo.com dan GoogleNews

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved