Senin, 4 Mei 2026

Berita Nasional

"Perjalananku" Tgk H Mahmud Ibrahim yang Penuh Warna

Ulama dan cendikiawan Gayo, Dr Tgk.H. Mahmud Ibrahim MA menuliskan otobiografi berisi perjalanan hidupnya sejak kecil yang penuh warna.

Tayang:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Rizwan
TribunGayo.com
Buku Otobiografi Dr Tgk H Mahmud Ibrahim, MA 

Laporan Fikar W.Eda I Jakarta

TRIBUNGAYO.COM, JAKARTA - Ulama dan cendikiawan Gayo, Dr Tgk.H. Mahmud Ibrahim MA menuliskan otobiografi berisi perjalanan hidupnya sejak kecil yang penuh warna.

Otobiografi setebal 254 halaman itu berjudul "Perjalananku" diterbitkan Mahara Publishing 2018.

Buku uji diawali dengan pengenalan para leluhur dan menerangkan dengan jelas asal usulnya.

Baik dari keluarga ayahanda maupun ibunda. Setelah itu "Perjalananku" mengalir bagai Sungai Pesangan yang bisa dibaca dengan nyaman.

Termasuk tragedi meninggalnya  abang-abangnya saat masih kecil. 

Dr Mahmud Ibrahim berpulang ke rahmatullah dalam usia 87 tahun pada 2017.

Setahun sebelumnya, pada 2016, ulama kharismatik Gayo ini meraih gelar doktor dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Baca juga: Senator Aceh Abdullah Puteh Kunjungi Pintu Rime Gayo Bener Meriah

Dr Tgk Mahmud Ibrahim adalah Sekda Aceh Tengah sejak masa Bupati M Isa Amin sampai HM Beni Bantacut.

Ia diangkat sebagai penjabat sekdwilda Aceh Tengah pada 1968 dan kemudian pensiun dengan jabatan Sekwilda pada 1985.

Ia memang seorang birokrat murni, meniti karir dari pegawai rendah  di Kantor Sekretaris Daerah  Provinsi Aceh, di awal terbentuk Provinsi dengan status Daerah Istimewa. 

Tapi ia juga seorang ulama dan tokoh sejarah dan budaya Gayo. Tgk Mahmud Ibrahim adalah anggota MPU Aceh Tengah  dan sebelumnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) Aceh Tengah.

Ia juga pengawas BPRS  Renggali dan Ketua Baitul Mal Aceh Tengah.

"Perjalananku" memang berisi kisah perjalanan kehidupan personal dan keluarga  Tgk Mahmud Ibrahim.

Namun memiliki dimensi penting terutama tentang informasi masa lalu Tanah Gayo dan Aceh.

Baca juga: Intelektual Gayo Bermukim di Denmark Dr Yusra Habib Abdul Gani Tulis Kitab Setebal 709 Halaman

Dengan bahasa jernih dilukiskan suasana Aceh Tengah masa lalu.

Sekolah di Sekolah Rendah Islam Swasta Buntul Temil dan kemudian berlanjut ke SRI Bom Takengon.

Perjalanan ke Bireuen menggunakan truk dan belakangan dengan bus Aceh Tengah. Keadaan Dayah Pulo Kitun tempat Mahmud Ibrahim dan banyak anak Gayo lainnya yang "mondok" di dayah itu. 

Tgk Mahmud Ibrahim juga mengalami kerasnya kehidupan yang harus menjadi kuli panggul pelabuhan di Sumatera Barat untuk menutup kebutuhan hidup saat sekolah di Padangpanjang.

Kiriman uang dari Aceh Tengah macet karena situasi konflik DI/TII. 

Perjalanannya ke Banda Aceh dengan kereta api dari Bireuen ke Banda Aceh digambarkan dengan sederhana tapi memberi kesan mendalam.

Barangkali bagus sebagai  perbandingan perjalanan kereta Api Aceh yang kini sedang dihidupkan kembali.(*)

Baca juga: 12 Materi Prediksi Soal Kompetensi Manajerial Tes PPPK Guru 2023 Disertai Pembahasan

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved