Berita Nasiional
Buku "Aceh 8,9 Skala Richter" Berisi Kisah 16 Wartawan Aceh Korban Tsunami
Tahun 2024 ini genap 20 tahun peristiwa tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004.
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Rizwan
Laporan Fikar W.Eda I Jakarta
TRIBUNGAYO. COM, JAKARTA - Tahun 2024 ini genap 20 tahun peristiwa tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004.
Sebuah buku berjudul "Aceh 8,9 Skala Richter" diterbitkan oleh Perhimpunan Jurnalis Indonesia dan Koordinatoriat Bangkit Aceh, memuat kesaksian 16 wartawan Aceh yang menjadi korban dalam peristiwa tragis tersebut.
Buku setebal 192 halaman ini dieditori oleh Fikar W Eda, penyair yang saat ini bekerja sebagai wartawan Tribun Gayo, dan Tarsih Eka Putra, seorang jurnalis di Jakarta .
Koordinatoriat Bangkit Aceh, yang didirikan oleh Fikar W Eda, Doddi Ahmad Fauji, Tarsih Eka Putra, dan sejumlah wartawan serta seniman di Jakarta, mendukung penerbitan buku ini.
Organisasi ini diketuai oleh seniman teater Kostaman.
Buku "Aceh 8,9 Skala Richter" menampilkan kisah-kisah dari wartawan Aceh yang menjadi korban tsunami, yaitu Adnan NS, Arief Rahman, Aldin Nainggola, Bedu Saini, HA Dahlan TA, Hendra Syahputra M, Hilmi Hasballah, Muhammad Harus ST, Muhammad Zairin, Munawardi Ismail, Murizal Hamzah SP, Muhammad Hanafiah, Nurdinsyam, Riznal Faisal, Umar HN, dan Said Kamaruzzaman.
Diterbitkan pertama kali pada Mei 2005, buku ini menjadi dokumentasi penting yang menggambarkan pengalaman dan perjuangan para wartawan Aceh dalam menghadapi bencana dahsyat tersebut.
Kisah-kisah yang terhimpun dalam buku ini tidak hanya menggambarkan tragedi, tetapi juga semangat dan ketangguhan manusia dalam menghadapi bencana.
Pada tanggal 26 Desember 2004, gempa bumi berkekuatan 8,9 skala Richter mengguncang wilayah Samudera Hindia, dengan episentrum di lepas pantai barat Sumatera, Indonesia.
Gempa tersebut memicu tsunami yang menerjang pesisir Aceh dengan gelombang setinggi hingga 30 meter, menghancurkan permukiman dan infrastruktur, serta menewaskan lebih dari 230.000 orang di 14 negara, termasuk Indonesia, Sri Lanka, India, dan Thailand.
Aceh menjadi wilayah yang paling parah terkena dampak, dengan lebih dari 160.000 korban jiwa dan ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal.
Tragedi ini memicu respons internasional yang besar, dengan bantuan kemanusiaan mengalir dari seluruh dunia untuk membantu upaya penyelamatan dan rekonstruksi.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Buku-Aceh-89-Skala-Richter-Kesaksian-wartawan.jpg)