Selasa, 12 Mei 2026

Berita Nasional

MERETAS IDENTITAS GAYO, Buku Terbaru dari Dr Yusra Hanib Abdul Ghani

Khalayak pembaca, baik masyarakat Gayo maupun non-Gayo, kini sudah bisa menikmati buku terbaru dari Dr Yusra Habib Abdul Ghani, SH.

Tayang:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Rizwan
TribunGayo.com
MERETAS IDENTITAS GAYO, Buku Terbaru dari Dr Yusra Hanib Abdul Ghani 

Laporan Fikar W.Eda I Jakarta

TRIBUNGAYO.COM, JAKARTA - Khalayak pembaca, baik masyarakat Gayo maupun non-Gayo, kini sudah bisa menikmati buku terbaru dari Dr Yusra Habib Abdul Ghani, SH.

Buku tersebut berjudul "Meretas Identitas Gayo."

Buku ini merupakan karya keempat dari penulis, setelah sebelumnya menerbitkan buku-buku "Gayo dan Kerajaan Linge", "Marechaussee di Gayo Lues, 1904", dan "Legenda dan Falsafah Gayo".

Semua karya tersebut merupakan hasil kajian dan analisis mendalam terhadap tamadun Gayo yang kaya akan nilai-nilai universal dan positif, terutama dalam konteks historis dan sosial budaya.

"Meretas Identitas Gayo" diterbitkan. oleh institute for ethnics civilization research, Denmark, cetakan pertama, 2024, ISBN 978-87-972322-5-5,  Cover designer:Tarmizi, Lay-outer: Hasan bin benbuleun

Buku ini hadir sebagai rangkuman dari karya-karya yang telah dipublikasikan melalui media sosial berskala provinsial (Serambi Indonesia) dan lokal, seperti Lintas Gayo.

Dalam pandangan penulis, pengamatan terhadap perubahan atau pergeseran nilai-nilai sosial-politik dan budaya di tanah Gayo lebih jeli dan cermat jika dilihat dari 'luar kandang', karena dapat disaksikan secara jelas dan luas.

Namun, untuk menuangkannya ke dalam karya ilmiah, diperlukan instrumen ilmu pengetahuan sosial yang mencukupi, metodologi, dan pisau analisis yang tajam agar pembaca dapat memberikan penilaian objektif terhadap karya tersebut.

"Meretas Identitas Gayo" memperkenalkan 27 jenis isu yang diakui berkembang dalam tamadun masyarakat Gayo, serta memaparkan biografi 12 tokoh pahlawan Gayo yang sebelumnya hanya dipertuturkan secara lisan.

Buku ini mengakui bahwa sebagian adat-istiadat, sosial-politik, dan budaya Gayo masih bisa dilestarikan, seperti acara beguru dan pacuan kuda, sementara sebagian lainnya telah punah.

Salah satu penyebabnya adalah desakan budaya asing yang mempengaruhi dan mengubah nilai-nilai sosial-politik dan hukum, sehingga beberapa hukum adat, seperti 'Jeret Naru', yang dulu diamalkan, kini harus berhadapan dengan gelombang globalisasi dalam dunia telekomunikasi dan transportasi.

Pergeseran nilai-nilai sosial ini mengakibatkan berkurangnya efek jera terhadap pelanggaran seperti hubungan incest, yang kini dianggap melanggar hak asasi manusia (HAM).

"Meretas Identitas Gayo" dapat memberikan kontribusi berharga dalam memahami dan melestarikan tamadun Gayo, serta menjadi referensi penting bagi pembaca yang tertarik dengan kajian budaya dan sejarah Gayo.(*) 

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved