Jumat, 5 Juni 2026

Berita Aceh

Malahayati, Panglima Perang dan Diplomat Ulung

Acara ini diprakarsai oleh Nyakman Lamjame sebagai inisiator dan dihadiri berbagai narasumber dari kalangan budayawan, akademisi seni, arkeolog.

Tayang:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Sri Widya Rahma
Foto IST
Membincanhgkan Laksamana Malahayati secara online. 

Laporan Fikar W Eda | Aceh Tengah

TRIBUNGAYO.COM, TAKENGON - Dalam rangka memperingati Hari Internasional II Laksamana Malahayati, Meurak Jeumpa Institut menggelar diskusi interaktif virtual bertema "Internasional Legacy dan Warisan Arkeologi sebagai Identitas Bangsa," Senin (1/1/2025).

Dalam diskusi tersebut Merak Jeumpa Institut bekerja sama dengan Komunitas The Power of Emak-emak dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh.

Acara ini diprakarsai oleh Nyakman Lamjame sebagai inisiator dan dihadiri berbagai narasumber dari kalangan budayawan, akademisi seni, arkeolog, dan pegiat seni.

Dalam sambutannya, Nyakman menyatakan bahwa pengakuan UNESCO atas Laksamana Malahayati sebagai simbol emansipasi dan kepahlawanan adalah momen bersejarah yang perlu dirayakan oleh seluruh bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Aceh.

“Penetapan ini semakin mengukuhkan posisi Indonesia di dunia internasional, seiring dengan terpilihnya negara kita sebagai anggota Dewan Eksekutif UNESCO,” ungkapnya.

Dr Sulaiman Juned MSn, narasumber utama diskusi menjelaskan bahwa Laksamana Malahayati tidak hanya berjaya di medan perang.

Akan tetapi juga seorang diplomat dan politikus ulung yang mengangkat martabat Kesultanan Aceh di mata dunia.

“Beliau adalah laksamana perempuan pertama di dunia yang mempraktikkan emansipasi wanita, bahkan berhasil menundukkan dua penjelajah Belanda, Cornelius dan Frederick de Houtman,” ujarnya.

Menurut Ir Oni Imelva ST, nilai-nilai perjuangan Malahayati harus menjadi teladan bagi generasi muda, terutama perempuan.

“Semangat nasionalisme Malahayati dapat diterapkan dalam berbagai bidang, seperti seni, olahraga, dan ilmu pengetahuan untuk mengharumkan nama bangsa,” katanya.

Pelestarian Warisan Sejarah

Arkeolog Ambo Isse SS MSi menyoroti pentingnya menjaga situs-situs bersejarah seperti Benteng Kuta Inong Balee dan Makam Laksamana Malahayati.

Ia mendesak pemerintah untuk segera melakukan konservasi dan restorasi benteng tersebut.

“Ini adalah bentuk penghormatan terhadap sejarah dan cara efektif untuk menarik wisatawan,” tambahnya.

Sementara itu, Ir Razuardi Ibrahim MT mengusulkan penelitian mendalam tentang sejarah Malahayati dan pentingnya kolaborasi lintas disiplin ilmu.

“Nilai-nilai luhur beliau harus dikemas agar relevan dan dapat menginspirasi generasi muda,” ujarnya.

Sulaiman Juned juga menekankan potensi wisata edukatif yang dapat dikembangkan dari situs-situs bersejarah terkait Malahayati.

Ia menyarankan pengenalan teknologi digital untuk menyajikan situs-situs tersebut secara virtual.

“Hal ini akan mempermudah akses bagi masyarakat luas dan memperkuat identitas budaya Aceh,” jelasnya.

Oni Imelva menggarisbawahi pentingnya pemberdayaan masyarakat lokal dalam menjaga dan mengembangkan wisata sejarah.

“Masyarakat tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga subjek yang aktif dalam mempromosikan nilai-nilai budaya Aceh,” katanya.

Dialog ini ditutup dengan seruan Razuardi Ibrahim kepada seluruh peserta untuk berkomitmen memperingati Hari Laksamana Malahayati setiap tahunnya.

“Setiap langkah kecil yang kita lakukan akan berdampak besar dalam menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan beliau,” tutupnya. (*)

Baca juga: Pj Gubernur Aceh Perintahkan Bangun Jembatan Bailey di Kande Mende Leuser Aceh Tenggara

Baca juga: Kemenag Gayo Lues Peringati HAB ke-79, Pj Bupati Serahkan Hadiah Bagi Pemenang Lomba

Baca juga: Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Ringkus Tersangka DPO Kasus Peredaran Sabu

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved