Kupi Senye
Tujuh Dimensi dalam Universitas Kehidupan
Tujuh dimensi umum universitas kehidupan yang bersumber dari surah al-Fatihah adalah panduan komprehensif.
Oleh: Dr Joni SPd MPd BI dan Dr Johansyah MA *)
Universitas Kehidupan (UK) merupakan wujud dari dimensi proses Pendidikan Seumur Hidup.
Orientasi prioritas di dalam menjalani proses pembelajaran pada UK ini melalui praktik, seperti praktik dan teori “tabulala rasa”.
Proses berorientasi pada pembelajaran yang bersifat sepanjang hayat dan bermakna.
Islam senantiasa mendorong manusia untuk belajar sepanjang hayat tanpa henti.
Proses belajar tersebut diawali dengan kemampuan mengenal Tuhan dengan baik sehingga secara otomatis terintegrasi dalam setiap lapisan dan tahapan pengetahuan manusia.
Energi ketuhanan itu akan mengalir dan meresap pada setiap pengetahuan manusia sehingga melahirkan sebuah pemahaman dan perilaku manusiawi.
Tujuh dimensi yang dimaksud dalam tulisan ini adalah tujuh ayat pada surah al-Fatihah.
Surah ini merupakan abstraksi dari al-Qur’an sebagai fondasi dasar kehidupan yang hakiki dan ma’rifati, yakni menyandarkan segala sesuatu pada Allah.
Sebab apapun yang dilakukan atas nama Allah, pada akhirnya akan membuahkan hasil yang maksimal.
Kita dalam koridor ihdina ashirath al mustaqim, yakni secara terbuka bersedia dibimbing oleh Allah dalam mengarungi kehidupan, tidak ghairi al maghdhubi alaihim wala al-dhalli, yakni terjebak pada jalan sesat karena tidak berada dalam naungan bimbingan-Nya.
Inilah kehidupan makrifatullah yang mengantarkan seseorang menjadi insan sejati.
Tujuh dimensi umum universitas kehidupan yang bersumber dari surah al-Fatihah adalah panduan komprehensif.
Jika dilakukan kajian munasabah antar surah, yakni antara surah al-Fatihah dengan surah al-‘alaq ayat satu hingga tujuh, maka ada korelasi yang sangat kuat antara keduanya.
Misalnya, ayat pertama surah al-‘alaq memiliki korelasi dengan ayat pertama surah al-fatihah, dan begitu terus sampai ayat ke tujuh.
Surah al-fatihah sebagai petunjuk umum, dan surah al- ‘alaq sebagai petunjuk operasionalnya. Inilah yang kemudian dijadikan salah satu dasar pijakan manusia dalam mengembangkan diri.
Untuk menumbuhkan pendidikan sepanjang hayat maka diperlukan fondasi tujuh dimensi di atas bagi seluruh proses pembelajaran dan pencarian ilmu pengetahuan yang bermakna.
Metode pendekatan dan teknik pelaksanaannya juga harus memiliki kandungan ajaran nilai yang menyentuh lapisan kesadaran, sehingga baik dan benar yang dikerjakan serta capaian saat berjalannya proses pendidikan benar-benar ada pada zona kesadaran yang berasa.
Untuk mencapai hal ini proses pendidikan tidak cukup hanya disentuh dengan penalaran logis semata dengan daya jelajah pengetahuan terbatas.
Tetapi harus dihidupi dengan nalar wahyu sebagai dimensi pengetahuan tanpa batas.
Sehingga keluaran pendidikan kita ke depannya tidak hanya pintar dan cerdas berargumentasi dengan landasan teoritis milik orang.
Dan buktinya tidak hanya sekedar rasionalitas atau menjelimetnya argumen saja.
Membangun Nalar Wahyu
Lebih dari itu, keterbatasan pemikiran barat yang selama ini menyusup ke dalam sel-sel jaringan otak kita dapat dipecahkan dengan penalaran “Maqulat” dan/atau pemungsian detail nalar wahyu.
Nalar wahyu dimaksud adalah nalar yang melampaui standar pengetahuan sain yang empiris maupun filsafat yang rasional.
Yakni seperti disentil dalam filsafat ilmu, ada standar pengetahuan mistik yang objeknya abstrak-supra rasional, paradigmanya mistis, metodenya latihan dan percaya, dan kriterianya meliputi rasa, iman, logis, kadang empiris.
Maksud dari sebutan tujuh dimensi dalam universitas kehidupan adalah bagaimana pendidikan itu lebih mengedepankan proses dari pada hasil.
Karena rahasia bukti kebesaran Tuhan itu sebenarnya lebih banyak ditemukan secara tersirat (di balik yang ada), ketika kita mau menggali apa yang tersurat dibalik yang tersirat dan juga penggalian makna dari arti yang ada.
Khususnya dalam dunia pendidikan, sejatinya konsep tujuh dimensi dalam universitas kehidupan yang menekankan pada pendekatan proses serta pengembangan nalar wahyu dapat dijadikan sebagai salah satu landasan utama.
Dengan kata lain, konsep ini dapat dijadikan sebagai kompas pendidikan yang berkesadaran baik dan benar.
Hal ini sejalan dengan visi pendidikan nasional, yakni melahirkan manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cerdas, dan kreatif.
Di sinilah kemudian konsep tujuh dimensi dalam universitas kehidupan menjadi jalan penuntun dalam mengembangkan dan menerapkan sistem pendidikan yang tepat dalam mewujudkan visi pendidikan dimaksud.
Sebagian besar proses pendidikan kita saat ini nyatanya lebih mengedepankan nalar logis dengan capaian capaian standar yang sederhana serta terjebak pada pengukuran-pengukuran kuantitatif.
Lebih dari itu, sebenarnya pendidikan bukan soal peserta didik dapat meraih nilai matematika secara sempurna, namun yang lebih penting lagi mereka mampu menerapkannya dalam proses kehidupan nyata.
Ada matematika kualitatif yang semestinya diajarkan, yakni bagaimana berbagi, menambah, mengurang, maupun mengali dalam konteks interaksi sosial.
Jika pengembangan ini dimulai dari desain dan rancangan Capaian Pembelajaran Umum (CPU) dan Capaian Pembalajaran Khusus (CPK) dengan serius dan maksimal.
Maka nalar yang hidup dalam diri peserta didik kita tidak hanya nalar logis semata.
Tetapi mereka sudah memiliki paradigma shift yang kuat dan bakal mampu menghidupkan nalar wahyu yang menyentuh rasa dengan cakupan jelajah pengetahuan tanpa batas.
Serta meretas jangkauan sain dan filsafat, hingga tidak ada lagi kemustahilan yang mutlak.
Konsep ini dapat disebut dengan istilah membangun universitas kehidupan dengan konsep tujuh dimensi (UK7D).
Jika ditilik kembali dengan menggunakan perangkat analisis, sintesis, dan evaluasi maka dapat tarik benang merahnya bahwa di dalam surah dan ayat-ayat Al-Quran sarat akan cara, strategi.
Petunjuk dan teknik pencapaian segala aspek dalam praktik memenuhi kehidupan di dunia bahkan akherat kelak.
Untuk memulainya, tentu peran Fakultas Pendidikan (Tarbiyah) di Perguruan Tinggi sangat vital.
Terutama dalam menata kurikulum berbasis UK7D untuk melahirkan calon tenaga pendidik yang paham akan makna dan hakekat hidup sehingga nanti setelah menjadi guru,
mereka mengarahkan peserta didiknya agar mampu menjadi pribadi yang berkesadaran sejati; takwa, aktif, keratif, inovatif, kontributif, dan berakhlak mulia.
Semoga dapat dirumuskan dan menjadi panduan dalam memproses hidup untuk berkehidupan dan mampu membangkitkan kembali nalar wahyu dengan maksimal agar tertutup pintu kebobrokan moral dan akhlak manusia saat ini hingga ke depannya.
Jika ini sudah diterapkan dengan maksimal, maka akal yang diilhami oleh Tuhan kepada kita dapat digunakan dengan baik, benar dan penuh kesadaran.
Sebaliknya anugerah akal tersebut tidak difungsikan untuk mengakal- akali.
Akhirnya inti dari tujuh dimensi pada universitas kehidupan adalah meninggalkan larangan-Nya dan mengerjakan perintah-Nya, dan ini menjadi bagian dalam makna tertip (Gayo).
*) Penulis adalah Dr Joni SPd MPd BI merupakan Dosen Pascasarjana INISNU Temanggung dan Dr Johansyah MA merupakan Dosen STIT Al-Washliyah Aceh Tengah.
KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/OPINI-TRIBUNGAYO-JONI.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.