Jumat, 22 Mei 2026

Kupi Senye

Menyembelih Ego: Hikmah Terdalam dari Syiar Qurban

Orang yang berqurban sejatinya sedang melatih dirinya keluar dari penjara “aku” menuju kesadaran sosial yang lebih luas.

Tayang:
ISTIMEWA
OPINI TRIBUN GAYO - Zakiul Fuady Muhammad Daud adalah Dosen IAIN Takengon. Ia menulis opini berjudul 'Menyembelih Ego: Hikmah Terdalam dari Syiar Qurban', Kamis (21/5/2026). 

Oleh: Zakiul Fuady Muhammad Daud *)

Iduladha selalu datang membawa pesan yang melampaui ritual tahunan.

Ditengah gema takbir dan hiruk-pikuk penyembelihan hewan qurban, sesungguhnya Islam sedang menghadirkan satu pelajaran besar tentang hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama, dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri.

Qurban bukan sekadar ibadah simbolik yang selesai di rumah potong atau halaman masjid.

Ia adalah syiar peradaban pesan moral yang mengandung dimensi spiritual, sosial, psikologis, bahkan ekonomi sekaligus.

Dalam sejarah Islam, qurban lahir dari sebuah ujian eksistensial yang sangat dalam.

Nabi Ibrahim AS diperintahkan mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya: putranya sendiri, Ismail AS.

Peristiwa itu bukan sekadar kisah ketaatan personal, tetapi representasi tentang bagaimana manusia harus menempatkan Tuhan di atas ego, kepentingan, dan keterikatan duniawi.

Karena itu, inti qurban sesungguhnya bukan pada darah hewan yang mengalir, melainkan pada kesediaan manusia memotong kesombongan, kerakusan, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia.

Al-Qur’an secara tegas menegaskan, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”

Ayat ini menempatkan qurban sebagai ibadah yang orientasi utamanya adalah transformasi batin.

Islam ingin membangun manusia yang rela memberi, rela berbagi, dan rela mengurangi dirinya demi menghadirkan manfaat bagi orang lain.

Ditengah kehidupan modern yang semakin individualistik, spirit qurban menjadi semakin relevan.

Dunia hari ini bergerak dalam logika kompetisi tanpa henti. Manusia diukur dari kepemilikan, pencapaian, dan status sosial.

Akibatnya, lahirlah masyarakat yang secara material mungkin berkembang, tetapi secara emosional mengalami kekeringan empati.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved