Jumat, 5 Juni 2026

Berita Nasional

Teater Keliling Persembahkan "Mirah" Karya Sutradara Rudolf Puspa

Bang Bodong ingin Mirah segera menikah, tetapi Mirah hanya bersedia menerima pria yang mampu mengalahkannya dalam duel silat.

Tayang:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Sri Widya Rahma
TRIBUNGAYO.COM/FIKAR W EDA
TEATER KELILING - Teater Keliling merupakan kelompok teater yang didirikan oleh Rudolf Puspa, Ir Dery Syrna, Buyung Zasdar, dan Paul Pangemanan, sejak 13 Februari 1974, kembali menghadirkan pertunjukan musikal spektakuler berjudul Mirah. Kisah Mirah menjadi cikal bakal tradisi palang pintu dalam pernikahan adat Betawi. 

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

TRIBUNGAYO.COM, JAKARTA - Teater Keliling merupakan kelompok teater yang didirikan oleh Rudolf Puspa, Ir Dery Syrna, Buyung Zasdar, dan Paul Pangemanan, sejak 13 Februari 1974, kembali menghadirkan pertunjukan musikal spektakuler berjudul Mirah.

Sebagai salah satu kelompok teater paling berpengaruh di Indonesia, Teater Keliling telah menggelar lebih dari 1.700 pementasan di seluruh provinsi di Indonesia serta di 12 Negara, dan telah meraih berbagai penghargaan bergengsi.

Mirah diadaptasi dari kisah seorang pendekar wanita legendaris dari tanah Betawi.

Mirah adalah jawara wanita pertama dari Marunda pada abad ke-18.

Ia merupakan anak semata wayang Bang Bodong, yang membesarkannya setelah kepergian sang ibu sejak kecil.

Agar tumbuh menjadi wanita tangguh, Mirah dilatih silat oleh sang ayah yang juga merupakan pendiri Padepokan Silat Marunda.

Kisah Mirah menjadi cikal bakal tradisi palang pintu dalam pernikahan adat Betawi.

Bang Bodong ingin Mirah segera menikah, tetapi Mirah hanya bersedia menerima pria yang mampu mengalahkannya dalam duel silat.

Tak lama, terjadi perampokan di rumah Babah Yong.

Isu beredar bahwa Asni, seorang jawara dari Kemayoran, adalah pelakunya, namun tuduhan itu tak terbukti.

Asni yang tidak terima mencari pelaku sebenarnya dan menduga perampok berasal dari Marunda.

Hal ini memicu pertarungan sengit antara dua perguruan silat.

Dalam duel ini, Bang Bodong dan Mirah kalah di tangan Asni.

Terkesan dengan kehebatan Asni, Bang Bodong akhirnya menjodohkan Mirah dengan pemuda tersebut.

Selain dikenal sebagai pendekar tangguh, Mirah juga dianggap sebagai simbol emansipasi wanita.

Pada masa penjajahan Belanda, ia berani melawan dan membebaskan wanita-wanita dari Timur yang diperbudak penguasa saat itu.

Kisah heroiknya menjadikan namanya abadi dalam sejarah.

Sutradara Rudolf Puspa sendiri telah menerima berbagai penghargaan atas dedikasinya di dunia teater dan lingkungan.

Pada tahun 1984, ia mendapatkan penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia atas kepeduliannya terhadap lingkungan.

Pada tahun 2010, ia menerima penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI), dan pada tahun 2016, Federasi Teater Indonesia menganugerahinya gelar "Abdi Abadi" sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya terhadap dunia seni pertunjukan.

Pertunjukan Mirah akan digelar pada 23 dan 24 Februari di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. (*)

Baca juga: Workshop Sastra Pertunjukan Bersama Dindon WS di Sabang, Menghidupkan Seni Tradisi dan Lokalitas

Ratusan Dosen ISI Padangpanjang Gelar Aksi Seni Tuntut Pencairan TUKIN

Komunitas Seni Kuflet Roadshow Literasi ke 11 Kota di Aceh

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved