Kamis, 4 Juni 2026

Berita Nasional

Antologi Sengkewe, Telaga Tak Pernah Kering, Terbit Dalam Tiga Bahasa

Puisi adalah ruang pencerahan, ia melahirkan makna, mengungkap perasaan, serta menyampaikan kritik sosial.

Tayang:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Sri Widya Rahma
Generated by AI
ILUSTRASI BUKU PUISI - Forum Beru Gayo bersama Komunitas Desember Kopi Gayo akan menerbitkan kumpulan puisi "Sengkewe" ditulis para penyair peeemiuan Gayo. Dalam tradisi Melayu, Raja Ali Haji pun menjadikan puisi sebagai suluh kehidupan dalam Gurindam Dua Belas, begitu pula dengan Sengkewe. 

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

TRIBUNGAYO COM, JAKARTA - Forum Beru Gayo bersama Komunitas Desember Kopi Gayo akan menerbitkan kumpulan puisi "Sengkewe" ditulis para penyair peeemiuan Gayo.

Buku tersebut diluncurkan dalam Hari  Puisi Nasional (Harsinas) 27-28 April 2025 di Taman Ismail Marzuki dan PDS HB Jassin Jakarta.

Puisi-puisi dalam buku tersebut diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan bahasa Gayo. 

Ini merupakan buku kedua yang mereka terbitkan setelah Subang (2022).

Penerbitan buku ini juga merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Desember Kopi Gayo, yang digelar setiap Desember untuk merayakan panen raya kopi.

Puisi adalah ruang pencerahan, ia melahirkan makna, mengungkap perasaan, serta menyampaikan kritik sosial.

Seperti yang dilakukan Rendra dalam Pesan Pentjopet kepada Patjarnja (1967) dan Tjiliwung Yang Manis (1955), atau Mansur Samin dalam Sketsa Djakarta (1966).

Puisi menjadi media yang kuat untuk menyoroti ketimpangan dan perjuangan rakyat.

Dalam tradisi Melayu, Raja Ali Haji pun menjadikan puisi sebagai suluh kehidupan dalam Gurindam Dua Belas, begitu pula dengan Sengkewe.

Puisi-puisi di dalamnya menyuarakan perjuangan hidup, romantisme, sejarah, kelestarian alam, kritik sosial, serta penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Kopi bagi masyarakat Gayo bukan sekadar komoditas ekonomi.

Ia adalah bagian dari kehidupan, budaya, dan identitas. Dalam setiap cangkir kopi, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan dan kebersamaan.

Dalam adat Gayo, kopi bahkan menjadi bahasa diplomasi.

Tak ada peristiwa adat yang bisa mencapai inti tanpa secangkir kopi. Dalam prosesi pernikahan, sebelum segala kesepakatan dibuat, seorang telangke akan menyerahkan kopi kepada reje atau imem sebagai tanda kehormatan dan pembuka pembicaraan.

Begitu pula dalam acara adat lainnya. (*)

Baca juga: Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin Terima Buku Kumpulan Puisi "Kopi 1550 MDPL" 

Baca juga: Hari Puisi Nasional 2025 Diperingati Pengibaran Bendera Puisi dan Panggung "Si Binatang Jalang"

Baca juga: Penyair Berkunjung ke Linge Mungoro, Ziarah, dan Baca Puisi

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved