Senin, 8 Juni 2026

Ramadan 2025

Berikut Panduan Berpuasa yang Perlu Diketahui Bagi Pengidap Diabetes

Penelitian menunjukkan, rata-rata pengidap diabetes berpuasa sekitar 15 hari selama Ramadan. 

Tayang:
Tribunnews.com
PUASA- Foto ilustrasi yang menunjukkan seseorang sedang melakukan cek gula darah. Federasi Diabetes Internasional (IDF) dan Diabetes and Ramadan (DAR) International Alliance telah membuat panduan praktis untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat akan puasa Ramadan dan berpuasa. 

TRIBUNGAYO.COM -  Diabetes atau gula darah merupakan penyakit yang banyak dialami oleh masyarakat saat ini.

Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun tak luput dari penyakit diabetes ini.

Memasuki bulan suci Ramadan, bagi pengidap diabetes yang ingin berpuasa harus dilakukan dengan hati-hati.

Hal itu dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi.

Ketahui apa saja yang harus dilakukan agar puasa dapat berjalan lancar tanpa mengorbankan kesehatan.

Federasi Diabetes Internasional (IDF) dan Diabetes and Ramadan (DAR) International Alliance telah membuat panduan praktis untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat akan puasa Ramadan dan berpuasa.

Penelitian menunjukkan, rata-rata pengidap diabetes berpuasa sekitar 15 hari selama Ramadan

Perubahan waktu makan dan pola tidur di bulan puasa berpengaruh pada homeostatis (proses yang mengendalikan fungsi tubuh) dan proses endokrin dalam tubuh.

Bagi pengidap diabetes tipe 1 dan 2, berpuasa akan menyebabkan dipecahnya glikogen menjadi glukosa, serta timbunan glikogen dari sumber non-karbohidrat.

Tubuh pengidap diabetes tipe 1 memproduksi keton dari hasil dipecahnya asam lemak dan beberapa asam amino. 

Proses ini membuat pengidap diabetes beresiko tinggi hipoglikemia (gula darah turun), hiperglikemia (gula darah terlalu tinggi).

Dan kadar keton tinggi akibat kekurangan glukosa dan pemecahan lemak, yang bisa berakibat fatal.

Pola naik turunnya gula darah pada pengidap diabetes membuat persiapan dan juga panduan dari dokter sangat penting sebelum melakukan ibadah puasa.

IDF dan DAR International Alliance yang terdiri dari para pakar global di bidang diabetes, membagi tiga kategori pengidap diabetes untuk menentukan panduan berpuasa.

1. Sangat beresiko tinggi

Pengidap diabetes termasuk dalam kelompok sangat beresiko tinggi jika mengalami hipoglikemia berat, ketasidosis diabetik yang tidak bisa dijelaskan.

Serta mengalami keadaan hiperglikemik hiperosmolar dan dirawat di rumah sakit dalam tiga bulan sebelum bulan Ramadhan.

Pasien dengan riwayat hipoglikemia berulang dan mereka yang memiliki penyakit bawaan lain, termasuk ibu hamil yang juga mengidap diabetes

Pasien dalam kelompok ini tidak disarankan berpuasa, namun jika tetap memutuskan untuk berpuasa.

Maka harus berkonsultasi dulu ke dokter spesialis endokrin dan bersedia jika sewaktu-waktu diminta untuk membatalkan puasanya.

2. Pasien risiko tinggi

Kelompok ini termasuk pasien yang diabetes tipe 1 dan diabetes melitus yang mendapatkan terapi insulin dan penyakitnya dalam kondisi stabil.

3. Risiko ringan atau menengah

Pasien dalam kelompok ini adalah pengidap diabetes melitus yang kadar gula darahnya terkontrol dengan gaya hidup sehat atau obat-obatan. 

Individu dalam kategori ini bisa berpuasa, tetapi harus berkonsultasi dulu dengan dokter sebelum melakukannya.

Penderita diabetes yang berpuasa harus membatalkan puasanya saat terdapat gejala darah rendah atau tinggi, melakukan aktivitas fisik yang berat, secara mental atau emosional tidak kuat, dan tidak ada yang mengawasi. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

Baca juga: Studi Menyebutkan Konsumsi Cokelat Hitam Secara Rutin Bisa Kurangi Risiko Diabetes

Baca juga: Ketahui Ini Manfaat Minum Teh Hijau: Dapat Mencegah Diabetes Tipe 2

Baca juga: Mahasiswa KKN Unimal Berikan Psikoedukasi Dampak Stres terhadap Diabetes Melitus di Desa Dayah LB

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved