Selasa, 9 Juni 2026

Aceh Tengah

Mie Junior, Kuliner Legendaris yang Jadi Primadona Buka Puasa di Aceh Tengah

Namun, pada bulan Ramadan, angka penjualan bisa melonjak menjadi 40 hingga 60 kg mie  per hari.

Tayang:
Penulis: Alga Mahate Ara | Editor: Sri Widya Rahma
TRIBUNGAYO.COM/ALGA MAHATE ARA
MIE JUNIOR - Mie Junior, nama yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Aceh Tengah, kini menjadi pilihan utama untuk santapan berbuka puasa. Warung mie yang terletak di Jalan Jenderal Gatot Subroto, yang lebih dikenal dengan Jalan Pasar Impres, ini telah berdiri sejak tahun 1996 dan terus menjadi favorit sejak saat itu. 

Laporan Alga Mahate Ara|Aceh Tengah

TRIBUNGAYO.COM, TAKENGON - Mie Junior, nama yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Aceh Tengah, kini menjadi pilihan utama untuk santapan berbuka puasa.

Warung mie yang terletak di Jalan Jenderal Gatot Subroto, yang lebih dikenal dengan Jalan Pasar Impres, ini telah berdiri sejak tahun 1996 dan terus menjadi favorit sejak saat itu.

Pemilik sekaligus koki yang berdarah Tionghoa, Akuang adalah orang di balik racikan bumbu khas mie ini.

Mie Junior telah diwariskan secara turun-temurun, dengan cita rasa yang tak ada duanya. 

Kedai ini buka mulai pukul 16.00 WIB setiap hari, dan selalu dibanjiri antrean pembeli, terutama saat bulan Ramadan.

Menurut pantauan TribunGayo.com, pembeli mulai antre sejak kedai dibuka pukul 16.00 WIB, dan meskipun jam buka berakhir pada pukul 18.00 WIB, kedai ini tetap ramai pengunjung

“Jika bulan Ramadan begini, kami bisa menghabiskan puluhan kilogram (Kg) mie per harinya,” kata Akuang kepada TribunGayo.com pada Rabu (5/3/2024).

Mie yang dijual di kedai ini terdiri dari tiga jenis, yakni mie tiaw, mie hun, dan mie junior.

Dari ketiga jenis mie tersebut, mie junior menjadi yang paling digemari. 

Mie ini memiliki cita rasa khas dengan bumbu rahasia yang hanya dapat ditemukan di kedai Akuang. 

Campuran telur, bawang, lada, sawi, dan bumbu khusus menjadikan mie junior sangat nikmat dan autentik.

“Ini memang mie satu-satunya yang khas dan tidak bisa didapatkan di tempat lain di Takengon,” ungkap Akuang. 

Setiap hari, mereka biasanya menghabiskan 10 hingga 15 kg mie.

Namun, pada bulan Ramadan, angka penjualan bisa melonjak menjadi 40 hingga 60 kg mie  per hari.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved