Jumat, 5 Juni 2026

Kupi Senye

Total-Awareness Menuju Perubahan

Dalam pandangan Muhammad Asad, takwa merupakan self-awareness (kesadaran diri) seseorang tentang eksistensinya di alam raya ini.

Tayang:
ISTIMEWA
OPINI TRIBUNGAYO- Dr Johansyah MA adalah Dosen STIT Al-Washliyah Aceh Tengah. Ia menulis opini berjudul 'Total-Awareness Menuju Perubahan', Sabtu (29/3/2025). 

Oleh: Dr Johansyah MA *)

Ramadhan segera berlalu, dan kita akan bersua dengan bulan Syawal.

Disatu sisi ada kegembiraan karena kita telah berusaha menjalani Ramadhan penuh makna dengan berbagai amalan yang dianjurkan; puasa, shalat tarawih, membaca Alquran memperanyak infaq dan sebagainya.

Di sisi lain ada rasa sedih yang mendalam karena kita tidak memiliki kesempatan untuk fokus melakukan peningkatan kualitas diri sebagaimana yang kita lakukan di bulan mulia ini. 

Lagi pula, tidak ada jaminan bagi kita untuk dapat bertemu lagi dengan bulan Ramadhan tahun depan.

Tujuan akhir ibadah puasa adalah untuk menumbuhkan karakter takwa.

Dalam pandangan Muhammad Asad, takwa merupakan self-awareness (kesadaran diri) seseorang tentang eksistensinya di alam raya ini.

Bahwa dia menyadari dengan sepenuhnya bahwa hidup adalah dedikasi kepada Tuhan secara total dalam semua aspek kehidupan.

Dalam teori Humanistiknya, Abraham Maslow menegaskan bahwa self-awarenesss adalah cara seseorang memahami dirinya sendiri.

Apa kelebihan dan kekuragan dirinya. Bagaimana caranya dia dapat melejitkan kelebihannya dan dapat menutupi kekurangannya, serta ke arah mana pengembangan diri yang akan dia tuju.

Sutton (Dalam Alias et.el, 2019) menyatakan kesadaran diri secara umum adalah sejauh mana seseorang sadar akan keadaan internal diri mereka dan hubungan mereka dengan orang lain.

Penting Bagi Manusia

Self-awareness menjadi penting bagi manusia sebagai makhluk yang diberikan kepercayaam mengelola bumi.

Hal ini terutama berkaitan dengan kenyamanan dalam menjalin interaksi sosial dan menjaga keharmonisan dengan makhluk Tuhan lainnya hingga menghadirkan sesuatu yang bermanfaat bagi alam semesta.

Dalam terma Alquran disebut dengan rahmatan li al ‘alamiin (rahmat bagi seluruh alam semesta).

Dari awal hingga akhir, secara umum Alquran bercerita tentang orang-orang yang memiliki self-awareness sebagai kelompok manusia yang senantiasa mempertahankan keutuhan alam semesta, dan mengelolanya berdasarkan regulasi wahyu dan sabda.

Jika terjadi kerusakan dia akan tampil sebagai kelompok yang berjuang melakukan perbaikan.

Di seberang sana, ada kelompok lain sebagai lawan yang mengaku menjadi orang-orang yang berkesadaran diri dan sebagai pejuang kemanusiaan.

Padahal yang mereka lakukan adalah merusak keseimbangan alam raya, mengacaukan hubungan yang harmonis antar sesama manusia dan menciptakan malapetaka (fasad). 

Alquran menyebut kelompok ini dengan munafik (hypocrite), dan mereka juga disebut dengan mufsidun (para perusak).

Kelompok ini sebenarnya kebalikan dari yang pertama tadi, yakni orang-orang yang tidak memiliki kesadaran diri.

Lebih jauh, kesadaran diri dalam alqur’an bersifat menyeluruh (total-awareness). Yakni kesadaran yang mencakup aspek ketuhanan, kemanusiaan, dan kealaman.

Pertama, kesadaran ketuhanan berarti adanya kesadaran yang penuh dalam dirinya bahwa dia adalah seorang hamba yang sangat fakir lagi hina dihadapan Allah SWT karena diciptakan dari setetes air hina.

Namun dengan penghambaan yang totalitas kepada Allah SWT, kehinaan itu dapat mengubahnya menjadi makhluk mulia (QS. al-‘Alaq: 1-5).

Kedua, kesadaran kemanusiaan. Yaitu sebuah kesadaran diri seseorang bahwa dirinya adalah manusia yang membutuhkan manusia lainnya.

Sehebat apapun dia, tetap tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri.

Kalau pun dia memiliki segudang emas, dia tetap membutuhkan yang lain untuk memenuhi kebutuhan makanan, kesehatan, tempat tinggal dan sebagainya. 

Contoh yang lebih ekstrim adalah pasangan hidup. Sehebat-hebatnya manusia, pasti membutuhkan pesangan hidup.

Ini menunjukkan bahwa manusia itu memang makhluk yang saling membutuhkan, saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya.

Ketiga, kesadaran kealaman, di mana manusia juga menyadari bahwa dirinya hidup di alam raya yang berdampingan dengan makhluk-makhluk Tuhan lainnya.

Dalam proses ini manusia dipercaya sebagai pengelola dan pengendali alam raya sehingga sifat-sifat melindungi, melestarikan, memperbaiki, menyayangi, mewariskan, dan sifat positif lainnya harus menjadi bagian yang menyatu dalam dirinya.

Tidak Dikategorikan pada Makhluk Perusak

Seekor harimau yang buas menerkam mangsanya untuk dimakan tidak akan pernah dikategorikan pada makhluk perusak, sebab fitrah harimau memakan kerbau, kambing, dan makhluk-makhluk lain yang sudah ditakdirkan menjadi mangsanya. 

Namun ketika karakter harimau ini ditiru oleh manusia, di mana dia tampil seperti seekor harimau buas yang memangsa manusia lain, merampas hak mereka, dan melakukan penindasan.

Maka inilah sesungguhnya manusia yang mufsid (perusak yang tidak memiliki kesadaran diri) dan telah keluar dari fitrahnya sebagai manusia yang seharusnya melindungi, dan saling menyayangi.

Dengan demikian, total-awareness menjadi modal utama dalam melakukan perubahan. Terlebih dalam kondisi carut-marut bangsa saat ini yang tampaknya semakin jauh dari ekspektasi publik.

Kaum elit kita tampaknya banyak diisi oleh orang-orang yang bermental hypocrite. Kesejahteraan rakyat tidak lebih dari sekedar pertunjukan baca puisi dalam panggung kekuasaan. 

Bahasanya demikian menggugah, tapi nyatanya rakyat semakin susah.

Ketika Negara dikelola oleh orang-orang yang bermental hypocrite, jangan harap akan berkembang dan maju.

Negara tersebut pasti akan menuju kehancuran. Ini adalah sunnatullah yang tidak dapat dibantah, dan Alquran juga menegaskan demikian.

Apabila penduduk sebuah negeri memiliki kesadaran tinggi, maka negeri tersebut akan dianugerahi kesejahteraan dan kedamaian (lihat QS. al-A’raf: 96).

Maka semboyan ‘NKRI harga mati’ oleh beberapa kalangan adalah ungkapan yang keliru untuk menunjukkan kecintaan terhadap negeri ini.

Semboyan yang lebih tepat adalah ‘kesadaran diri adalah harga mati’ sebab inilah yang paling kita butuhkan tanpa batas waktu.

Tanpa kesadaran diri ini semua hanya akan menjadi ilusi dan mimpi di siang hari.

Saat ini kita butuh orang-orang yang sadar akan pentingnya membangun bangsa dengan memperjuangkan hak rakyat, bukan orang yang pura-pura sadar dan mengaku melakukan perbaikan, padahal mereka terus saja merusak.

Mari berdo’a, semoga Ramadhan ini betul-betul bermakna bagi semua, terutama untuk para kaum elit yang berkuasa.

Kiranya hati mereka terketuk untuk memperjuangkan mereka yang menderita. Telinga mereka dapat mendengarkan jeritan rakyat yang sengsara.

Mata mereka bisa melihat apa yang terjadi sebenarnya. Semoga saja mereka sadar bahwa rakyat bukanlah musuh berbahaya, tapi kumpulan manusia yang masa depan mereka ada dalam genggamannya.

Wallahu alam Bisahwab!

*) Penulis adalah Dosen STIT Al-Washliyah Aceh Tengah

KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved