Minggu, 19 April 2026

Berita Bener Meriah Hari Ini

UTU Gelar Riset di Bener Meriah Tentang Penguatan Rantai Nilai Pisang Cavendish

Tim peneliti UTU terdiri dari Dedy Darmansyah SP MSi sebagai ketua, dengan anggota Dr Abdul Latif MP dan Hartini SE ME.

Penulis: Romadani | Editor: Budi Fatria
For Tribungayo.com
UTU Gelar Riset - Tim dosen Fakultas Pertanian dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UTU berhasil meraih pendanaan penelitian dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemdikbudristek melalui skema Kolaborasi Penelitian Strategis (KATALIS). 

Laporan Romadani | Aceh Tengah 

TRIBUNGAYO.COM, TAKENGON - Universitas Teuku Umar (UTU) kembali menorehkan prestasi di bidang riset strategis nasional. 

Pada tahun 2025, tim dosen Fakultas Pertanian dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UTU berhasil meraih pendanaan penelitian dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemdikbudristek melalui skema Kolaborasi Penelitian Strategis (KATALIS). 

Penelitian ini mengangkat tema “Penguatan Rantai Nilai Pisang Cavendish Melalui Konsep UMKM Hijau untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Pengentasan Kemiskinan di Pulau Sumatera”. 

Tim peneliti UTU terdiri dari Dedy Darmansyah SP MSi sebagai ketua, dengan anggota Dr Abdul Latif MP dan Hartini SE ME, serta menggandeng mitra Koperasi Produsen Bukit Diana Makmur di Kabupaten Bener Meriah

Penelitian ini juga menjadi bagian dari konsorsium tiga kampus, yakni Universitas Teuku Umar, Universitas Malikussaleh, dan Universitas Bengkulu, dengan tema payung "Strategi Swasembada Pangan Berbasis Kearifan Lokal, Sustainability Agribisnis, dan Digitalisasi Pisang Cavendish untuk Pengentasan Kemiskinan di Pulau Sumatera”.

Pisang Cavendish dipilih karena potensinya sebagai komoditas hortikultura unggulan yang berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus memiliki peluang besar untuk ekspor. 

Namun, rantai nilai komoditas ini di Aceh dan Bengkulu masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan infrastruktur jalan, fluktuasi harga di pasar lokal, kesulitan dalam memenuhi kuantitas ekspor, hingga rendahnya penerapan digitalisasi pemasaran. 

Analisis Important Performance Analysis (IPA) yang dilakukan tim peneliti menemukan bahwa akses jalan, stabilitas harga, dan perluasan pasar modern atau ekspor adalah faktor paling krusial yang perlu segera ditangani. 

Di sisi lain, aspek teknis seperti bibit unggul, efisiensi logistik, tenaga kerja, dan mutu produk sudah cukup baik, namun tetap memerlukan dukungan berkelanjutan.

Untuk memperkaya temuan, tim melaksanakan survei lapangan, wawancara mendalam, serta forum Group Model Building (GMB) yang melibatkan petani, koperasi, dan pemerintah daerah. 

GMB pertama digelar di Provinsi Bengkulu pada 1 Agustus 2025, dan GMB kedua dilaksanakan di Provinsi Aceh pada 11 Agustus 2025. 

Kedua kegiatan ini dihadiri para pemangku kepentingan strategis dan melibatkan kolaborasi tiga kampus, yakni UTU, UNIMAL, dan UNIB

Ketua tim peneliti, Dedy Darmansyah dalam keterangan resmi kepada TribunGayo.com, Sabtu (20/9/2025) mengatakan, dari forum GMB, para pihak menyepakati strategi bersama untuk memperbaiki rantai nilai serta menanamkan praktik UMKM hijau yang ramah lingkungan. 

Selanjutnya, kata Dedy tim menyusun model bisnis dengan pendekatan Business Model Canvas (BMC) yang menekankan ramah lingkungan, efisiensi distribusi, produk turunan bernilai tambah, serta digitalisasi pemasaran. 

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved