Banjir Bener Meriah

Kisah Pilu dari Bener Meriah, 49 Rumah di Kampung Uning Mas Lenyap dalam Semalam

Deru mesin mobil off-road milik Taslim memecah kesunyian lembah di Kecamatan Pintu Rime Gayo.

Penulis: Bustami | Editor: Rizwan
ISTIMEWA
RUMAH LENYAP - Eri Tanara relawan BRI Peduli berdiri melihat kondisi rumah warga di Kampung Uning Mas, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah Rusak porak-poranda, Minggu (4/1/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Kampung Uning Mas, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah yang dulunya asri, kini berubah menjadi hamparan bebatuan dan puing. 
  • Tak ada lagi deretan rumah maupun jalan mulus yang baru dibangun dua tahun lalu.
  • Semuanya sirna, ditelan bumi dalam satu malam. 

Laporan Wartawan Tribungayo Bustami | Bener Meriah

TRIBUNGAYO.COM, REDELONG – Deru mesin mobil off-road milik Taslim memecah kesunyian lembah di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah.

Di bawah rodanya, sebuah jembatan darurat merintih, melengkung seolah tak sanggup lagi menahan beban.

Namun, tak ada keraguan di wajah Taslim. Ia sadar, di balik rintangan maut tersebut, ratusan nyawa tengah menanti secercah harapan.

"Ini tidak seberapa dibanding beban yang mereka tanggung," gumam Taslim tenang, mencoba menenangkan para relawan BRI Peduli yang menahan napas saat kendaraan mereka bergoyang di atas titian kayu yang rapuh.

Dua kilometer setelah melewati jembatan, pemandangan memilukan menyambut.

Kampung Uning Mas, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah yang dulunya asri, kini berubah menjadi hamparan bebatuan dan puing. 

Tak ada lagi deretan rumah maupun jalan mulus yang baru dibangun dua tahun lalu.

Semuanya sirna, ditelan bumi dalam satu malam.

Gemuruh yang Mengakhiri Segalanya

Andika Winara (35), warga setempat, berdiri di atas tanah yang kini hanya menyisakan kerikil dan duka. Ingatannya kembali ke subuh mencekam pada 26 November 2025.

"Suaranya bukan sekadar gemuruh air. Itu seperti suara gunung yang runtuh," kenang Andika dengan mata berkaca-kaca, Minggu (4/1/2026).

Pagi itu kata Andika, jeritan histeris membelah udara. Tanpa peringatan, banjir bandang yang membawa material kayu dan batu raksasa menyapu 49 rumah warga. 

Gedung SDN Uning Mas dan masjid yang menjadi pusat aktivitas warga hancur berkeping-keping dalam sekejap mata.

"Kami hanya bisa terpaku melihat rumah-rumah hanyut dibawa arus yang sangat ganas. Tak ada yang bisa diselamatkan, kecuali nyawa yang melekat di badan," lirihnya.

Bertahan Hidup di Tengah Isolasi

Duka di Uning Mas kian mendalam saat itu, di tengah isolasi pascabencana, warga terpaksa mengonsumsi ubi bakar dari sisa-sisa kebun untuk bertahan hidup.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved