Kamis, 4 Juni 2026

Berita Nasional Hari Ini

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Anjlok, Depresiasi Mingguan Capai 0,82 Persen

Salah satu penyebab utama tekanan terhadap rupiah adalah ketegangan di Timur Tengah, khususnya antara AS dan Israel dengan Iran.

Tayang:
Editor: Sri Widya Rahma
TRIBUNJATIM
NILAI TUKAR RUPIAH - Ilustrasi uang. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren pelemahan hingga akhir pekan pertama Maret 2026. 

Ringkasan Berita:
  • Rupiah melemah hingga Rp16.925 per dolar AS pada Jumat, 6 Maret 2026, mendekati level psikologis Rp17.000.
  • Dalam sepekan terakhir, rupiah terdepresiasi sekitar 0,82 persen dibanding akhir Februari 2026.
  • Pelemahan dipicu oleh kondisi pasar global yang tidak menentu, membuat investor mengambil posisi aman (risk-off).
  • Konflik di Timur Tengah, khususnya antara AS dan Israel dengan Iran, menimbulkan tekanan pada mata uang Asia termasuk rupiah.

TribunGayo.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren pelemahan hingga akhir pekan pertama Maret 2026.

Baca juga: BI Imbau Masyarakat Waspadai Uang Mutilasi, Kenali Keaslian Uang Rupiah Melalui 3D

Penutupan pasar spot pada Jumat (6/3/2026), mencatatkan rupiah di posisi Rp16.925 per dolar AS, lebih rendah dibandingkan hari sebelumnya yang berada di Rp16.902 per dolar AS. 

Dengan pergerakan ini, rupiah semakin mendekati ambang psikologis Rp17.000 per dolar AS, menimbulkan kekhawatiran bagi pelaku pasar mengenai potensi volatilitas (tingkat ketidakstabilan atau fluktuasi nilai tukar rupiah) yang lebih tinggi.

Dalam sepekan terakhir, rupiah tercatat mengalami depresiasi sekitar 0,82 % , atau setara 138 poin jika dibandingkan dengan posisi pada akhir Februari 2026 di level Rp16.787 per dolar AS.

Faktor Global Tekan Rupiah

Pendiri Traderindo.com, Wahyu Laksono menilai pelemahan rupiah didorong oleh faktor eksternal yang cukup kuat.

Kondisi pasar global yang tidak menentu membuat investor cenderung mengambil posisi aman (risk-off), sehingga menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Salah satu penyebab utama tekanan terhadap rupiah adalah ketegangan di Timur Tengah, khususnya antara AS dan Israel dengan Iran.

Konflik ini memicu gejolak di pasar energi dan keuangan global, yang berdampak pada mata uang Asia.

Baca juga: DPR Siap Bahas Usulan Redenominasi Rupiah, Berpotensi Masuk Prolegnas Prioritas 2026

Tekanan tambahan juga datang dari kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi membebani fiskal Indonesia, terutama terkait subsidi energi.

Kenaikan harga minyak juga meningkatkan risiko naiknya harga bahan bakar non-subsidi yang dapat menekan daya beli masyarakat.

Sentimen negatif lainnya muncul dari revisi outlook kredit oleh lembaga pemeringkat internasional yang menyoroti besarnya kewajiban pembayaran utang luar negeri Indonesia di tengah tren penguatan dolar AS.

Peluang Penguatan Rupiah

Meski demikian, Wahyu menilai rupiah berpeluang sedikit menguat apabila ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mereda atau setidaknya tidak semakin memburuk.

“Jika eskalasi berlanjut, tekanan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven kemungkinan masih akan berlanjut,” katanya.

Ia menambahkan, pelaku pasar juga menunggu langkah lanjutan dari pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga kredibilitas pasar keuangan domestik serta meredam kekhawatiran investor asing.

Untuk sepekan ke depan, Wahyu memproyeksikan rupiah bergerak dalam kisaran Rp 16.700 hingga Rp 17.100 per dolar AS.

Adapun level support diperkirakan berada di Rp 16.800 per dolar AS, sementara resistance berada di sekitar Rp 17.000 per dolar AS. (*)

Baca juga: Ekonom Angkat Bicara Terkait Redenominasi Mata Uang Rupiah

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved