Rabu, 17 Juni 2026

Kupi Senye

Menjaga "Bara" Keacehan di Negeri Paman Sam dan Kanada

DGA Sagoe Amerika bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan lumbung pemikiran kritis yang aktif menyoroti dinamika di tanah air.

Tayang:
ISTIMEWA
OPINI TRIBUNGAYO - Dr Surya Darma selaku Sekjen DPP DGA dan Ketua Majelis Adat Aceh Perwakilan Jakarta (kiri). DGA Sagoe Amerika bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan lumbung pemikiran kritis yang aktif menyoroti dinamika di tanah air. 
Ringkasan Berita:
  • Di kota metropolitan Seattle, terdapat beberapa keluarga asal Aceh yang telah menetap selama puluhan tahun.
  • Hebatnya, mereka kini telah melahirkan generasi ketiga (cucu) yang lahir dan tumbuh besar sebagai warga Amerika, namun tetap memegang teguh nilai-nilai keislaman dan keacehan.
  • Dua sosok utama yang menjadi pilar di Seattle adalah Adron Razi Yusuf (Ketua DGA Sagoe Amerika) dan Fauzi Daud (General Manager Holland America Lines) yang keduanya merupakan putra asli Bireuen.

Oleh: Dr Ir Surya Darma MBA *)

TRIBUNGAYO.COM - Jarak ribuan mil dari tanah indatu sama sekali bukan penghalang bagi denyut nadi keacehan untuk tetap berdetak kencang.

Pada tanggal 3 hingga 7 Juni 2026, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Diaspora Global Aceh (DPP DGA), Dr Surya Darma, melakukan kunjungan dan silaturahmi yang sarat emosi ke Seattle (AS) dan Vancouver serta Calgary (Kanada).

Kunjungan ini bukan sekadar agenda formal organisasi, melainkan sebuah misi kultural dan spiritual: membangun jembatan konsolidasi, menjaga identitas keacehan, adat istiadat, kebudayaan, serta bahasa Aceh ditengah derasnya arus globalisasi. 

Khususnya, bagi warga keturunan Aceh yang kini telah melepas status Warga Negara Indonesia (WNI) mereka, namun tetap memiliki darah dan hati yang terpaut pada Serambi Mekkah.

Eksistensi Tiga Generasi di Seattle

Di kota metropolitan Seattle, terdapat beberapa keluarga asal Aceh yang telah menetap selama puluhan tahun.

Hebatnya, mereka kini telah melahirkan generasi ketiga (cucu) yang lahir dan tumbuh besar sebagai warga Amerika, namun tetap memegang teguh nilai-nilai keislaman dan keacehan.

Dua sosok utama yang menjadi pilar di Seattle adalah Adron Razi Yusuf (Ketua DGA Sagoe Amerika) dan Fauzi Daud (General Manager Holland America Lines) yang keduanya merupakan putra asli Bireuen.

Keberhasilan mereka mendidik anak-anak hingga ada yang menjadi Imam di Seattle, (Ustadz Syarif, putra dari Adron Razi) serta menduduki posisi strategis di korporasi perkapalan global, menjadi bukti nyata bahwa SDM Aceh mampu mewarnai panggung internasional tanpa kehilangan jati diri.

Pemikiran Kritis dan Gagasan Strategis DGA Sagoe Amerika

DGA Sagoe Amerika bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan lumbung pemikiran kritis yang aktif menyoroti dinamika di tanah air.

Dalam diskusi intensif bersama Dr Surya Darma, pengurus Sagoe Amerika menyampaikan keprihatinan mendalam mengenai kondisi kehidupan di Aceh saat ini mulai dari kemunduran pola hidup masyarakat hingga isu pemenuhan layanan kesehatan dasar yang kian memprihatinkan.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, DGA Sagoe Amerika menelurkan sejumlah inisiatif dan rekomendasi program konkret bagi kemajuan Aceh:

1. Reaktivasi ITHC dan Terobosan Sektor Kebekerjaan Global (Hospitality)

Program International Training and Hospitality Center (ITHC) yang sebelumnya digagas bersama DPP DGA dan Universitas Syiah Kuala (USK) serta BPSDM Pemerintah Aceh, diakuibelum dapat berjalan sesuai harapan karena terkendala faktor pendanaan. 

Padahal, peluang pasar kerja internasional di sektor ini sangat masif.

Melihat adanya kebutuhan hingga 180.000 tenaga kerja di bidang hospitality (restoran, hotel, perkapalan, dan pariwisata) secara global, Fauzi Daud kini tengah bergerak mematangkan konsep dan kurikulum pelatihan mandiri. 

Sebagai praktisi perkapalan Amerika, Fauzi juga aktif mencari tenaga pengajar (instructor) yang kompeten.

Agar program ini berjalan masif, diharapkan Pemerintah Daerah dapat hadir sebagai mitra strategis dalam aspek pembiayaan.

Sementara proses seleksi dan standardisasi pelaksanaan pelatihan akan dipimpin langsung oleh Pak Fauzi demi menjamin lulusan Aceh mampu menembus standar industri internasional.

2. Kedaulatan Pertanian Melalui Rumah Pangan Aceh (RPA)

Di sektor ketahanan pangan, DGA Sagoe Amerika menginisiasi dan mengusulkan dibentuknya konsep Rumah Pangan Aceh (RPA), sebuah program pembinaan rantai pasok (supply chain) pertanian dari hulu ke hilir.

Sebagai pilot project, program ini telah membina 40 petani kecil di daerah, di kota Banda Aceh dan sekitarnya.

Melalui RPA, pola lama di mana hasil panen padi petani langsung ditebas dengan harga murah oleh Mugee (agen/tengkulak) coba diputus.

RPA hadir untuk menjaga stabilitas harga beli di tingkat petani sekaligus mengolahnya agar memiliki nilai tambah.

Untuk memperkuat aspek tata kelola (governance), ke depan perlu dirumuskan kejelasan hubungan struktural serta pembagian peran yang legal dan transparan antara manajemen RPA dengan institusi DGA.

RPA pada saat ini telah menghasilkan produk unggulan berupa tempe koro dengan memberdayakan petani lokal dengan menanam kacang koro sebagai pengganti kedele impor.

Meunasah Aceh Vancouver: Benteng Budaya di Tanah Kanada

Menyeberang ke utara perbatasan, perjalanan berlanjut ke Vancouver, British Columbia.

Di kota pelabuhan ini, denyut keacehan menemukan jangkar fisiknya melalui Meunasah Aceh Vancouver, yang dikelola di bawah naungan Achehnese Canadian Community Society.

Di Vancouver, terdapat sekitar 500 jiwa masyarakat keturunan Aceh yang hampir seluruhnya kini telah berstatus sebagai warga negara Kanada (Canadian Citizen), mulai dari generasi pertama hingga anak-cucu di generasi ketiga.

Meunasah Aceh hadir sebagai oase spiritual sekaligus benteng pertahanan identitas lokal melingkupi kegiatan pengenalan bahasa indatu, latihan tari tradisional, pakaian adat, pelestarian kuliner khas, hingga menjadi simpul gerakan sosial penggalangan bantuan kemanusiaan saat kampung halaman di Aceh tertimpa musibah.

Meunasah Vancouver: Penjaga Dua Pilar Identitas (Keacehan dan Keindonesiaan)

Di tengah paparan budaya barat yang sangat dominan di Kanada, Meunasah Vancouver memikul
tanggung jawab moral yang besar untuk memastikan generasi muda diaspora khususnya generasi kedua dan ketiga—tidak mengalami krisis identitas.

Uniknya, institusi ini mampu memainkan peran ganda secara harmonis: menjaga identitas lokal keacehan sekaligus merawat semangat keindonesiaan.

Merawat Identitas Keacehan: Melalui pendekatan kekeluargaan yang kental, Meunasah menjadi ruang di mana nilai-nilai keuacehan yang bersendikan Islam ditanamkan sejak dini.

Anak-anak keturunan Aceh diajarkan untuk memahami falsafah hidup indatu, menghormati orang tua melalui adat sopan santun khas Aceh, serta dibiasakan mendengar dan menuturkan bahasa Aceh dalam interaksi sosial di lingkungan Meunasah agar lidah mereka tidak asing dengan bahasa asal usulnya.

Menjaga Identitas Keindonesiaan: Kendati mayoritas jamaah dan pengurusnya kini telah menyandang status kewarganegaraan Kanada, Meunasah Vancouver tetap memosisikan diri sebagai bagian yang tak terpisahkan dari komunitas besar Indonesia di luar negeri.

Meunasah aktif berkolaborasi dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Vancouver dan berbagai organisasi kemasyarakatan Indonesia lainnya.

Melalui ruang ini, generasi muda diajarkan bahwa menjadi seorang Aceh yang taat dan berbudaya adalah potret kontribusi nyata mereka dalam memperkaya khazanah kebhinekaan identitas Indonesia di mata dunia.

Pelembagaan Aceh Cultural Center

Salah satu terobosan paling progresif yang digagas oleh komunitas Achehnese Canadian Community Society melalui Meunasah Vancouver dan pembentukan Aceh Cultural Center yang dimaksudkan untuk:

(1). Melestarikan bahasa Aceh dengan mengajar baca tulis bahasa Aceh

(2). Promosi budaya Aceh melalui kegiatan seni, kuliner dan pemeran adat istiadat.

(3). Menjaga dan memelihara tradisi Aceh dalam kehidupan adalah penyelenggaraan Aktivitas Budaya Aceh
Tahunan (Annual Aceh Culture Event).

Kegiatan rutin Meunasah dan Aceh Cultural Center ini dirancang bukan sekadar sebagai pelepas rindu bagi para perantau, melainkan sebagai sebuah sarana diplomasi budaya (cultural diplomacy) formal di Kanada.

Aktivitas utama dalam agenda tahunan ini meliputi:

1. Karya seni menampilkan kepiawaian generasi muda dalam membawakan tari-tarian energetik dan sarat pesan spiritual, seperti Tari Saman, Tari Ratoh Jaroe, atau Ranup Lam Puan. Menariknya, para penari ini sering kali adalah anak-anak muda kelahiran Kanada yang berlatih intensif di Meunasah sepanjang tahun.

2. Pengenalan detail pakaian adat Aceh (seperti baju linto baro dan dara baro) kepada publik Kanada, yang menegaskan bahwa Aceh memiliki peradaban estetika yang tinggi dan anggun.

3. Menyajikan kekayaan rempah Nusantara melalui kuliner yang dilestarikan berupa masakan khas Aceh. Acara semacam ini sekaligus dapat dipergunakan sebagai sarana penggalangan dana (fundraising) mandiri bagi operasional Meunasah dan bantuan jika mendapat musibah dan bencana.

Melalui pelestarian ada budaya ini, warga keturunan Aceh di Kanada berhasil mengubah Meunasah dari sekadar tempat ibadah domestik menjadi sebuah "etalase hidup" budaya Aceh dan Indonesia di panggung internasional.

Aktivitas ini secara psikologis menumbuhkan rasa percaya diri (self-esteem) dan kebanggaan yang besar pada diri generasi muda diaspora Aceh untuk berani berkata: "Saya adalah warga Kanada, namun darah, budaya, dan identitas saya adalah Aceh".

Merajut Sinergi Lintas Batas: Silaturahmi di Tiga Tempat

Apresiasi yang luar biasa datang dari DPP DGA untuk dedikasi tanpa batas yang ditunjukkan oleh kepengurusan di Amerika dan Kanada.

Sejak tanggal 2 Juni, Adron Razi Yusuf secara setia mendampingi perjalanan Sekjen DPP DGA dari Seattle melintasi perbatasan menuju Vancouver.

Di Kanada, estafet persaudaraan disambut hangat oleh Muhammad Taufik Evendi, Ketua DGA Sagoe Kanada yang berdomisili di Calgary.

Melalui koordinasi yang solid, Taufik berhasil menghubungkan jajaran DPP DGA dengan seluruh masyarakat Aceh di Kanada, termasuk yang berada di belahan timur seperti Toronto (diwakili oleh Pak Robby dan kawan-kawan) melalui fasilitas video call.

Di Vancouver sendiri, pertemuan dengan diaspora Aceh berlangsung maraton di tiga tempat berbeda guna memastikan seluruh elemen masyarakat sempat bertatap muka dengan perwakilan pusat.

Refleksi Akhir: Hospitality dan Modal Persatuan Dunia

Menutup rangkaian kunjungan di kawasan Pantai Barat Amerika Utara ini, Dr Surya Darma mengungkapkan rasa takjubnya atas kehangatan (hospitality) yang diberikan oleh keluarga besar DGA Sagoe USA dan Kanada.

"Kami merasa bahwa rasa persaudaraan Aceh yang dibangun oleh DGA Sagoe Amerika dan Kanada sangat positif dalam mempertahankan adat dan budaya kita di perantauan.

Pemikiran kritis mengenai perbaikan kesehatan, program peningkatan SDM perhotelan oleh Pak Fauzi,
serta aksi nyata Rumah Pangan Aceh menunjukkan bahwa diaspora kita tidak pernah melupakan tanah air," ujar Dr Surya Darma.

"Semoga semangat kebersamaan yang terbangun erat ini akan menjadi modal utama bagi persatuan DGA di seluruh dunia.

Terima kasih kepada Pak Adron, Pak Taufik, Pak Sayuti, Pak Hamdani Hamid, Tgk Bukhari Wahab serta Pak Yusuf dan seluruh penasihat serta sesepuh di Kanada.

Semoga Allah SWT memberikan ganjaran berlipat ganda atas keikhlasan jajaran pengurus di sini. Aamiin," pungkasnya.

Kunjungan awal Juni 2026 ini menegaskan satu hal: sejauh apa pun pemuda-pemudi Aceh pergi merantau, dan apa pun paspor yang hari ini mereka pegang, ikatan batin terhadap identitas keacehan, Islam, dan persaudaraan tanah air tidak akan pernah luntur.

Meunasah, Rumah Pangan, dan jaringan DGA telah sukses menjadi jembatan emas yang menjaga nyala api tersebut tetap terang di belahan bumi utara.

*) Penulis adalah Sekjen DPP DGA dan Ketua Majelis Adat Aceh Perwakilan Jakarta.

KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca juga: Legalitas Nikah Siri dan Dampaknya bagi Wanita Muda

 

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:00 WIB
France
Prancis
Live
Senegal
Senegal
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 05:00 WIB
Iraq
Irak
VS
Norway
Norwegia
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
Argentina
Argentina
VS
Algeria
Aljazair
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:00 WIB
Austria
Austria
VS
Jordan
Yordania
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved