Jumat, 10 April 2026

Berita Nasional

Tidak Hanya DN Aidit, Ada 2 Pentolan PKI Lainnya yang Kemudian Mayatnya Dibakar Secara Diam-diam

Akan tetapi perintah Stalin itu tidak dilakukan oleh Musso. Dia malah melakukan pemberontakan kepada Belanda di Batavia dan Sumatera Barat.

KOLASE TRIBUNGAYO.COM/TRIBUN MAKASSAR
DN Aidit merupakan seorang politikus yang menjabat sebagai pemimpin terakhir Partai Komunis Indonesia (PKI). 

Akan tetapi perintah Stalin itu tidak dilakukan oleh Musso. Dia malah melakukan pemberontakan kepada Belanda di Batavia dan Sumatera Barat.

TRIBUNGAYO.COM - DN Aidit merupakan seorang politikus yang menjabat sebagai pemimpin terakhir Partai Komunis Indonesia (PKI).

Ketika pemberontakan G30S/PKI terjadi, sosok DN Aidit pun langsung menjadi kontroversi.

Bahkan, di buku-buku sejarahpun, kita sering menemukan nama DN Aidit dan keterlibatannya dalam G30S/PKI.

Namun ternyata bukan hanya DN Aidit yang menjadi sosok kontroversial di balik partai komunis ini.

Ada lagi sosok lain yang merupakan pentolan PKI. Siapakah mereka?

Dilansir dari sosok.grid.id pada Kamis (29/9/2022), DN Aidit memang dianggap sosok yang paling bertanggungjawab atas peristiwa berdarah G30S/PKI.

Baca juga: Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiyono Jadi Korban Keganasan G30S/PKI di Yogyakarta

Namun pentolan PKI yang dimaksud adalah Alimin bin Prawirodirdjo dan Muso Manowar atau Munawar Muso alias Musso.

Keduanya pernah terlibat dalam berbagai aksi PKI.

Misalnya saat ada rencana pemberontakan di seluruh nusantara yang dilakukan oleh kaum tani dan buruh kepada pendudukan Belanda.

Saat itu, para pemimpin PKI bertemu di Prambanan, Klaten, Jawa Tengah pada 25 Desember 1925.

Rencananya mereka ingin melapor ke wakil Komunis Internasional (Komintern) yang berada di Singapura.

Oleh karenanya, Alimin dan Musso pun dikirim ke Singapura.

Namun siapa yang menyangka rencana itu malah membuat Alimin dan Musso bertemu dengan Joseph Stalin, pemimpin besar Komunis di Moskow, Uni Soviet.

Baca juga: Pengkhianatan G30S PKI, Film Bertema Sejarah Dirilis 1984, Biaya Produksi Mencapai Rp 800 Juta

Tak hanya bertemu, Alimin dan Musso juga mendapat perintah dari Stalin.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved