Berita Aceh
5 Bukti Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai, Mulai Dirham hingga Lonceng Cakra Donya di Museum Aceh
Kerajaan Samudera Pasai menyisakan beberapa peninggalan yang kemudian digunakan oleh para ahli sebagai sumber sejarah.
Lonceng setinggi 125 cm dan lebar 75 cm ini berupa mahkota besi berbentuk stupa yang kini ditempatkan di Museum Aceh, Banda Aceh.

Lonceng Cakra Donya merupakan hadiah dari Laksamana Cheng Ho dalam kunjungannya ke Nusantara pada tahun 1414 Masehi.
Adapun Lonceng Cakra Donya ini merupakan hadiah persahabatan antara Kesultanan Samudera Pasai dan Kaisar Tiongkok.
Isi karya sastra ini menceritakan tentang Kerajaan Samudera Pasai, termasuk mimpi Marah Silu yang bertemu Nabi Muhammad kemudian mengislamkannya.
Pada batu nisan ratu pertama Kerajaan Samudera Pasai ini, terdapat kaligrafi yang berisi kutipan Surat Yasin dan Ayat Kursi.
Nisan Sultanah Nahrasiyah yang sangat megah didatangkan langsung dari Kamboja.
Baca juga: Prof Azyumardi Azra, Ilmuan Berkelas hingga Pernah Peroleh Gelar Kehormatan dari Kerajaan Inggris
Selain makam Sultan Malik Al-Saleh dan Sultanah Nahrasiyah, Kerajaan Samudera Pasai juga meninggalkan beberapa makam raja lainnya.
Seperti contohnya Makam Sultan Muhammad Malik Al Zahir dan makam putranya, Sultan Mahmud Malik Az Zahir.
5. Makam Sultan Malik Al-Saleh
Kerajaan Samudera Pasai meninggalkan jejak berupa beberapa makam dengan batu nisan yang indah bentuknya.
Salah satunya adalah makam Sultan Malik Al-Saleh atau Marah Silu, pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Samudera Pasai.
Baca juga: Hitei Urat Kawasan Khusus untuk Orang Gayo dari Raja Kerajaan Raya Simalungun
Makam dengan angka 1297 M ini diklaim sebagai batu nisan tertua yang ditemukan.
Batu nisan pada makam Sultan Malik Al-Saleh menunjukkan bukti adanya pengaruh Islam dari Gujarat di Samudera Pasai. (*)
Sumber: Intisari