Jumat, 5 Juni 2026

Idul Adha 2023

Berikut Niat Sholat Idul Adha dan Tata Cara Mengerjakannya

Berikut niat sholat hari raya Idul Adha lengkap dengan tulisan Arab, latin dan artinya serta tata cara mengerjakannya.

Tayang:
Penulis: Intan Mutia | Editor: Malikul Saleh
Tribungayo.com
Berikut Niat Sholat Idul Adha dan Tata Cara Mengerjakannya 

Berikut Niat Sholat Idul Adha dan Tata Cara Mengerjakannya

TRIBUNGAYO.COM- Berikut niat sholat hari raya Idul Adha lengkap dengan tulisan Arab, latin dan artinya serta tata cara mengerjakannya.

Hari raya Idul Adha biasa dikenal dengan hari raya haji atau hari raya qurban.

Dimana, umat Muslim yang berkemudahan akan ber qurban pada hari raya Idul Adha ini.

Selain itu, hari raya Idul Adha juga merupakan salah satu hari besar umat Muslim yang diperingati setiap tahun.

Hari raya Idul Adha jatuh pada 10 Dzulhijjah.

Selain itu, hari raya Idul Adha 2023 diketahui telah ditetapkan oleh pemerintah.

Baca juga: Tgk Mahadir, Khatib Shalat Idul Adha 2023 di Masjid Agung Babussalam Bener Meriah

Dimana, hari Raya Idul Adha 2023 atau 10 Dzhulhijjah 1444 H jatuh pada 29 Juni 2023.

Berbeda dengan Muhammadiyah yang akan merayakan hari raya Idul Adha 2023 pada besok 28 Juni 2023.

Sebagaimana kita ketahui, ada beberapa tata cara dan niat sholat yang harus dipahami sebelum melaksanakan sholat idul Adha.

Meskipun sebenarnya, melaksanakan sholat Idul Adha hukumnya adalah sunnah, namun lebih baik dikerjakan.

Dilansir Tribungayo.com dari laman Kementerian Agama RI pada Selasa (27/6/2023), berikut ini bacaan niat sholat Idul Adha.

Bacaan Niat Sholat Idul Adha

أُصَلِّيْ سُنَّةً لعِيْدِ اْلأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَــــــــالَى

Usholli sunnatan 'iidil adhaa rok'ataini lillaahi ta'aalaa

Artinya: "Aku berniat Salat sunah ldul Adha dua rakaat karena Allah ta'ala".

Baca juga: Muhammadiyah Aceh Tengah Rabu Besok Shalat Idul Adha di 4 Lokasi, Berikut Khatibnya

Tata Cara Mengerjakan Sholat Idul Adha

Rakaat Pertama

- Membaca bacaan niat sholat Idul Adha

- Membaca takbiratul ihram sambil mengangkat kedua tangan.

اللهُ أَكْبَرُ

Allahu Akbar

Artinya: 'Allah Maha Besar'

- Untuk rakaat pertama, membaca takbir sebanyak 7 (tujuh) kali (di luar takbiratul ihram)

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Subhaanallaahi walhamdu lillaahi wa laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar

Artinya: 'Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar'.

Baca juga: Disdikbud Aceh Tengah Ikuti Kalender Akademik untuk Libur Idul Adha 2023

- Membaca surah al-Fatihah, diteruskan membaca surah dari Al-Quran.

Dalam rakaat pertama ini dianjurkan surat Qaf atau lainnya.

Surat Qaf 1-5

قۤ ۗوَالْقُرْاٰنِ الْمَجِيْدِ ۖ ١ بَلْ عَجِبُوْٓا اَنْ جَاۤءَهُمْ مُّنْذِرٌ مِّنْهُمْ فَقَالَ الْكٰفِرُوْنَ هٰذَا شَيْءٌ عَجِيْبٌ ۚ ٢ ءَاِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا ۚ ذٰلِكَ رَجْعٌۢ بَعِيْدٌ ٣ قَدْ عَلِمْنَا مَا تَنْقُصُ الْاَرْضُ مِنْهُمْ ۚوَعِنْدَنَا كِتٰبٌ حَفِيْظٌ ٤ بَلْ كَذَّبُوْا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاۤءَهُمْ فَهُمْ فِيْٓ اَمْرٍ مَّرِيْجٍ ٥

qāf, wal-qur`ānil-majīd,bal 'ajibū an jā`ahum munżirum min-hum fa qālal-kāfirụna hāżā syai`un 'ajīb, a iżā mitnā wa kunnā turābā, żālika raj'um ba'īd qad 'alimnā mā tangquṣul-arḍu min-hum, wa 'indanā kitābun ḥafīẓ bal każżabụ bil-ḥaqqi lammā jā`ahum fa hum fī amrim marīj

Artinya: 'Qāf. Demi Al-Qur’an yang mulia. (Mereka menolaknya,) bahkan mereka heran karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri. Berkatalah orang-orang kafir,'

- Ruku' dengan tumakninah lalu membaca:

Baca juga: HORE! PNS dan PPPK Libur Panjang Lagi Jelang Idul Adha 2023, Ini Kata Menpan-RB

سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ

Subhana rabbiyal azimi wabi hamdih.

Artinya: "Maha Suci Rabbku yang Maha Agung dan segala puji bagi-Nya."

- Sujud, duduk di antara dua sujud, dan seterusnya hingga berdiri lagi seperti salat biasa.

Rakaat Kedua

- Pada rakaat kedua sebelum membaca al-Fatihah, takbir sebanyak 5 (lima) kali sambil mengangkat tangan.

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Subhaanallaahi walhamdu lillaahi wa laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar

Artinya: 'Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar'.

- Membaca surah al-Fatihah, diteruskan membaca surah yang dari Al-Quran.

Dalam rakaat kedua ini diutamakan surat Al-Ghasyiyah.

Baca juga: Jelang Idul Adha 2023, Ini Keutamaan Puasa Dzulhijjah, Tarwiyah, Arafah, Yuk Simak Niat Bacaannya

Surat Al-Ghasyiyah

هَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ الْغَاشِيَةِۗ ١ وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ خَاشِعَةٌ ۙ ٢ عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ ۙ ٣ تَصْلٰى نَارًا حَامِيَةً ۙ ٤ تُسْقٰى مِنْ عَيْنٍ اٰنِيَةٍ ۗ ٥

wujụhuy yauma`iżin khāsyi'ah 'āmilatun nāṣibah taslā nāran hāmiyah tusqā min 'ainin āniyah laisa lahum ṭa'āmun illā min darī'

Artinya: 'Sudahkah sampai kepadamu berita tentang al-Gāsyiyah (hari Kiamat yang menutupi kesadaran manusia dengan kedahsyatannya)? Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk hina, karena) berusaha keras (menghindari azab neraka) lagi kepayahan (karena dibelenggu). Mereka memasuki api (neraka) yang sangat panas. (Mereka) diberi minum dari sumber mata air yang sangat panas.'

- Ruku’, sujud, dan seterusnya hingga salam.

- Setelah salam, maka disunnahkan mendengarkan khutbah Idul Adha.

Untuk khutbah pertama takbir dibaca 9 kali, sedangkan khutbah kedua takbir dibaca 7 kali.

Larangan memotong kuku dan rambut sebelum Idul Adha menurut Ustadz Adi Hidayat

Dilansir Tribungayo.com dari YouTube Ceramah Pendek pada, Kamis (22/6/2023), Ustadz Adi Hidayat menyebut larangan potong kuku dan rambut sebelum qurban ada dalam hadist yang sahih.

Dalam ceramahnya, Ustadz Adi Hidayat pun mengutip sebuah hadits Muslim nomor 1977 bab 39 halaman 152 jilid ke-7, kitab syarah An-nawawi, terbitan darul hadits cetakan 2004.

مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّى

Artinya: “Siapa saja yang ingin ber kurban dan apabila telah memasuki awal Dzulhijah (1 Dzulhijjah), maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sampai ia ber qurban.”

"Jika Anda berkeinginan kurban, maka jangan sekali-kali memotong atau menyentuh kuku dan rambut yang melekat pada tubuh," ungkap Ustadz Adi Hidayat.

Kemudain, ustadz Adi Hidayat menyebutkan bahwa hal tersebut merupakan sunnah yang pertama.

Rupanya bukan tanpa tujuan larangan potong kuku dan rambut sebelum qurban.

Baca juga: Pemerintah Resmi Tetapkan Libur Cuti Bersama Idul Adha 2023, Ini Jadwal Libur Sekolah Per Daerah

Para ulama menafsirkan larangan potong kuku dan rambut ini memiliki keistimewaan.

Ustadz Adi Hidayat mengatakan rambut dan kuku adalah bagian tubuh yang banyak melakukan perbuatan dosa.

Rambut dan kuku ini yang nantinya akan menjadi saksi di akhirat, terkait ibadah yang dilakukan seorang muslim.

Padahal Allah berkenan mengampuni dosa orang yang melakukan kurban.

Dengan begitu, dikhawatirkan kuku dan rambut yang menjadi jejak dosa tersebut terlepas dari tubuh sebelum Allah mengampuni dosa-dosanya.

"Sekiranya Allah berkenan mengampuni dosa orang bersangkutan (orang yang melakukan kurban) dari rambut paling atas sampai ujung kukunya ," jelas Ustadz Adi Hidayat.

“Diminta untuk tidak dipotong dulu, khawatirnya nanti saat Anda potong terpisah dari sini belum diistighfari itu” lanjut ustadz Adi Hidayat.

“Jadi ketika Allah ampuni dosanya, terpisah bagian dari tubuh kita dia menjadi saksi di akhirat. Kan mulut dikuncikan saat diakhirat nanti?” smabung ustadz Adi Hidayat lagi.

Kmeudian, ustadz Adi Hidayat membacakan surat Yaasin, dan menjelaskan Kembali mengenai kesempurnaan yang didapakan seorang muslim yang ingin ber qurban dengan tidak memotong kukudan rambutnya sampai hewan tersebut disembelih.

Baca juga: Pemerintah Resmi Tetapkan Libur Cuti Bersama Idul Adha 2023, Ini Jadwal Libur Sekolah Per Daerah

“nanti mulut akan dikunci, tangan yang bersaksi dan tempat-tempat ini akan bicara, khawatirnya pernah tangan ini berlaku sesuatu yang salah, sebelum diistighfari dipotong kukunya, ketika dia bertaubat diampuni dosanya, kuku lebih dulu terpisah” Lanjut ustadz Adi Hidayat.

Kendati demikian, hukum larangan potong kuku dan rambut adalah sunnah, bukan wajib.

Sehingga tidak akan dikenakan dosa jika memotong rambut dan kuku sebelum Idul Adha, namun akan kehilangan pahala.

"Jadi kalau Anda potong pun tidak dosa, akan tetapi Anda kehilangan pahala kebaikan," ujar Ustadz Adi Hidayat.

(TribunGayo.com/Intan Mutia)

Baca Berita seputaran Idul Adha lainnya di TribunGayo.com dan GoogleNews

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved