Kamis, 16 April 2026

Berita Nasional

Buku Karya Sutradara Berdarah Aceh, Sulaiman Juned Dibedah di Ruang Baca Rimba Bulan

Buku "Teater, Memungut Gagasan Tradisional Jadi Karya Modernitas" karya sastrawan dan sutradara teater berdarah Aceh,  Dr Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn.

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Rizwan
TribunGayo.com
Kulit buku karya Sulaiman Juned 

Laporan Fikar W.Eda I Jakarta

TRIBUNGAYO.COM, JAKARTA - Buku "Teater, Memungut Gagasan Tradisional Jadi Karya Modernitas" karya sastrawan dan sutradara teater berdarah Aceh,  Dr Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn., dibedah di Ruang Baca Rimba Bulan Padang Panjang, Sabtu (9/12/2023) mendatang.

Acara itu ditaja Ruang Baca Rimba Bulan Padang Panjang bekerja sama dengan Sekolah Menulis elipsis, dan Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang.

Buku tersebut  dibedah dua doktor seni dari ISI Padang Panjang, yaitu Dr. Sahrul N. S.S., M.Si. (Kritikus Teater, Dosen Pascasarjana ISI Padang Panjang) dan Dr. Dharminta Soeryana, M.Sn. (Sutradara Teater, Dosen Jurusan Seni Teater ISI Padang Panjang).

Diskusi dipandu moderator Muhammad Subhan (Penulis, Pegiat Literasi, Founder Sekolah Menulis elipsis). 

Penulis buku "Teater, Memungut Gagasan Tradisional Jadi Karya Modernitas", Sulaiman Juned, mengatakan, teater sebagai sebuah kesenian yang kompleks mengeksplorasi intensitas seniman dalam bentuk emosi dan bahasa panggung. 

“Emosi dalam bahasa panggung teater menjadi ruang yang digarap oleh sutradara secara struktur dan tekstur lakon menjadi realitas teater dalam wujud tontonan,” ujarnya. 

Baca juga: Panitia Desember Kopi Gayo Lakukan "Mango" ke Pj Bupati Bener Meriah

Baca juga: Kolaborasi Eksklusif W.Essentiels dan One Piece, Eksklusif di Shopee 12.12 Birthday Sale

Atas dasar itu, jelas Sulaiman Juned, sutradara dan aktor yang bekerja sebagai tim artistik mampu mengubah naskah lakon tidak hanya permainan kata-kata (dialog), tetapi juga dapat mewujudkan permainan teater yang menarik melalui bentuk pendengaran (audio), penglihatan (visual) dan gerak (kinesik).

Salah satu teater tradisi yang dikupas Sulaiman Juned dalam bukunya itu adalah teater di Aceh.

Aceh memiliki teater yang perkembangannya cukup signifikan, mulai dari teater tradisional, modern, hingga kontemporer. 

“Namun, perkembangan tersebut tetap berpijak pada budaya Aceh dalam proses kreatif berteaternya,” katanya.

Ia memberi contoh teater tutur Dangderia, Poh Tem atau Peugah Haba yang dipopulerkan Teungku Adnan dengan sebutan PM TOH dimainkan satu orang. Teungku Adnan PM TOH dalam pertunjukannya lebih kaya dengan ekspresi, karakter tokoh, dan karakter bahasa dialog yang berubah-ubah. 

Menurut Sulaiman Juned, pemberian nama PM TOH terhadap seni tutur ini, Teungku Adnan PM TOH menjelaskan, bahwa PMTOH adalah salah satu nama bus yang berada di Aceh.

Baca juga: Buku “Puisi Cinta untuk Palestina” Diluncurkan Akhir Desember 2023

Baca juga: Seniman Jakarta Hadiri ke Tanah Gayo, Baca Puisi di Desember Kopi Gayo 2023

Mengapa kesenian ini dikenal dengan sebutan PM TOH karena Teungku Adnan sering menaiki bus tersebut untuk bepergian keliling Aceh sebagai penjual obat keliling.

Ditambah lagi ada salah seorang supir trayek Aceh Selatan Banda Aceh, keponakan Teungku Adnan sehingga beliau cenderung lebih suka menumpangi bus PMTOH.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved