Senin, 20 April 2026

Ramadhan 2024

Tradisi Num Lepat dalam Masyarakat Gayo Jelang Ramadhan

Lepat yang masih hangat sangat enak langsung dimakan. Namun bukan berarti lepat yang sudah tersimpan lama, tidak enak.

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Mawaddatul Husna
TRIBUNGAYO.COM/INTAN MUTIA
Lepat adalah menu khas suku Gayo yang bisa tahan dalam jangka waktu lama. 

Tradisi Num Lepat dalam Masyarakat Gayo Jelang Ramadhan

Laporan Fikar W Eda | Aceh Tengah

TRIBUNGAYO.COM, TAKENGON - Num Lepat adalah peristiwa budaya yang dilakukan masyarakat Gayo menjelang Ramadhan, Idul Fitri atau Idul Adha.

Tradisi Num Lepat bagi sebagian kalangan masyarakat Gayo terus dipertahankan sampai sekarang, baik yang bermukim di Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues maupun Gayo perantauan.

Num Lepat artinya membuat lepat yang merupakan salah satu jenis kue yang tahan lama, bahkan bisa sampai sebulan. Kue ini sangat khas. 

Sebetulnya tradisi Num Lepat saat ini tidak lagi identik dengan hari-hari tertentu, sebab di beberapa kedai kopi di Takengon sudah menyediakan menu kue lepat.

Baca juga: Resep Lepat Kue Tradisional Khas Gayo yang Diburu Saat Lebaran, Bisa Tahan hingga Satu Bulan

Lepat memang sangat sepadan dengan minuman kopi. Kopi dan lepat adalah pasangan  serasi. Apabila rasa kopi itu pahit, maka rasa manis ditawarkan dari lepat.

Lepat yang masih hangat sangat enak langsung dimakan. Namun bukan berarti lepat yang sudah tersimpan lama, tidak enak.

Melainkan juga tambah enak, karena bisa menciptakan sensasi tersendiri, lepat dingin bisa dipanggang atau digoreng. Rasanya tetap sensasional.

Lepat panggang dinamakan “lepat tunu.” Pekerjaan memanggang lepat disebut “mununu lepat.”

“Lepat tunu” umumnya dimakan pagi hari, ditemani kopi panas. Lepat juga bisa digoreng, juga sepadan dengan kopi tanpa gula.

Baca juga: Penyair Gayo Berusia 85 Tahun, LK Ara Nikmati Lepat Gayo di Taman Ismail Marzuki

Dulu orang-orang tua di Gayo mulai Num Lepat sebelum masuk Ramadhan. Sehingga pas buka puasa di hari pertama Ramadhan, dilengkapi dengan lepat.

Num Lepat dikerjakan oleh kaum ibu dan anak gadisnya. Sebelum mesin penggiling tepung ditemukan, orang Gayo membuat tepung dengan cara menumbuk dengan lusung dan  jingki.

Lesung adalah alat penumbuk menggunakan tangan. Sementara jingki alat penumbuk tepung digerakkan dengan kaki dan dilakukan oleh dua orang atau lebih.

Masa itu pemilik alat jingki juga masih jarang. Artinya tidak setiap rumah tangga punya jingki. Berbeda dengan lusung, relatif lebih umum ditemui. 

Lepat Gayo bisa dikonsumsi hingga satu bulan lamanya.
Lepat Gayo bisa dikonsumsi hingga satu bulan lamanya. (Dok IST)
Sumber: TribunGayo
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved