Kupi Senye
Wajah Pariwisata Kota Takengon
Semoga Kota Takengon semakin ramai dikunjungi wisatawan. Semakin banyak penduduknya yang terserap dalam dunia kerja ’pariwisata’.
Oleh: Kusni Rohani Rumahorbo SST MSi *)
Selama lima tahun terakhir, terutama pasca wabah besar Covid-19 melanda dunia secara global banyak perubahan besar yang kita rasakan di Kota Takengon.
Salah satu perubahan terbesar ada di sektor ekonomi. Dulu kegiatan ekonomi masyarakatnya berputar di sektor pertanian, kini mulai merambah ke sektor pariwisata.
Yaitu dengan bermunculan banyaknya objek wisata, penyedia akomodasi seperti hotel dan homestay, dan penyedia makan minum seperti cafe, restoran dan rumah makan.
Objek wisata yang bermunculan memang sebagian besar masih di sekitar Danau Lut Tawar.
Mulai dari hanya sekedar menyediakan gubuk di pinggir danau atau yang sampai menyediakan fasilitas camping, atau kombinasi dengan cafe atau homestay serta arena olahraga.
Sebelum covid-19 melanda, jumlah penginapan tidak lebih dari 20 penginapan saja, dengan jumlah hotel sebanyak 2. Saat ini jumlah penyedia akomodasi di Takengon bertambah lima kali lipat lebih.
Menurut Catatan Dinas Pariwisata Kabupaten Aceh Tengah, saat ini tercatat ada 109 penyedia akomodasi di Kota Takengon, mulai dari hotel hingga wisma.
Bagaimana dengan penyedia makan minum? Seperti yang kita lihat bersama di Kota Takengon. Untuk dapat menikmati makan minum dengan berbagai macam fasilitas saat ini sangat mudah.
Bahkan beberapa makanan franchise juga sudah tersedia di kota ini. Wisatawan hampir pasti tidak ada kendala soal makan dan minum selama liburan di Kota Takengon.
Sektor pariwisata yang meningkat juga dapat kita lihat dari tumbuhnya sektor transportasi. Saat ini akses tranportasi darat ke Kota Takengon sangat mudah diakses oleh para pengunjung dari luar.
Meningkatnya kualitas pelayanan seperti adanya transportasi AC semakin menarik para pengunjung ke Kota Takengon.
Salah satu armada bahkan juga menyediakan layanan VVIP dengan kondisi HI-Ace mewah khas sultan. Bagaimana dengan transportasi di dalam kota?
Meski belum dijamah oleh layanan transportasi online sebesar Grab dan Gojek, namun sudah ada satu transportasi online berbasis aplikasi yang beroperasi di kota ini.
Selain itu, transportasi online lokal berbasis Whatsapp sangat mudah kita temui. Para drivernya tidak kalah dengan driver transportasi online berbasis aplikasi.
Mereka sangat gesit dan cekatan dalam menerima orderan, seperti antar-jemput, membelikan sesuatu dan sebagainya.
Hal lainnya yang mulai bertumbuh di Kota Takengon adalah sektor-sektor pendukung pariwisata lainnya. Seperti sektor perdagangan dan industri pengolahan.
Keduanya juga tumbuh cukup pesat seiring sektor pariwisata di Kota Takengon yang meningkat tajam.
Bermunculan berbagai gerai ritel minimarket seperti Indomart dan Alfamart di berbagai sudut Kota Takengon juga pusat perdagangan grosir/eceran pakaian.
Hal ini tentu juga merupakan kabar yang baik bagi pertumbuhan ekonomi di Kota Takengon. Industri pengolahan makanan dan minuman juga tidak kalah.
Bermunculan usaha industri makan/minum rumah tangga yang turut serta meningkatkan sektor pariwisata. Kopi-kopi yang diolah oleh tangan-tangan hebat peracik kopi adalah salah satunya.
Apakah anda tahu? Jika kita akses Google Trends dan membandingkan antara pencarian ”Takengon” dan ”Sabang” pada saat Liburan Hari Raya Idul Fitri Tahun 2022 hingga 2024 misalnya akan kita temukan bahwa jumlah pencarian ”Takengon” lebih banyak daripada ”Sabang”.
Misal pada tanggal 13 April 2024 yang lalu. Terdapat 100 pencarian ”Takengon” di google, sedang Sabang sebanyak 88 kali pencarian.
Tentu hal ini menjadi sesuatu yang cukup menggembirakan. Pariwisata Kota Takengon mulai diminati oleh masyarakat dalam dan luar Provinsi Aceh.
Namun ada beberapa hal yang harus menjadi catatan penting bagi kemajuan dan keberlangsungan pariwisata di Kota Takengon.
Yang pertama tentu kita harus setuju bahwa jalan di dalam kota sangat buruk. Lubang dan genangan air dimana-mana.
Jangankan untuk wisatawan, bagi penduduk lokal tentu hal ini sangat tidak nyaman.
Pemerintah daerah dalam hal ini diharapkan segera melakukan tindakan dengan segera melakukan perbaikan pada jalan-jalan di dalam kota dan akses menuju objek-objek wisata.
Yang kedua, menurut saya adalah sampah. Di mana-mana masih banyak kita temukan tumpukan sampah. Jalan menuju Kota Takengon misalnya.
Di kiri kanan jalan banyak kita temukan sampah bertebaran. Yang bila kita bersihkan pun tak lama akan muncul sampah baru.
Untuk wilayah tertentu memang sudah ada petugas sampah yang berkeliling mengambil sampah, ke rumah-rumah.
Namun di banyak kampung, sampah masih dibuang ke belakang rumah atau parit depan rumah. Sehingga saat hujan, sampah terbawa ke tempat yang lebih rendah, seperti jalan raya, sungai dan danau.
Rumah tangga atau personal yang membuang sampah sembarang masih belum dikenakan sanksi tegas. Sehingga perlu adanya gerakan bersama yang tertuang ke dalam qanun, misalnya.
Ketiga, mengenai biaya masuk atau biaya parkir yang tidak sesuai dengan fasilitas yang dimiliki oleh objek wisata. Perlu adanya pembinaan dan aturan dari pihak terkait untuk hal ini. Sehingga pengunjung tidak merasa kecewa.
Semoga Kota Takengon semakin ramai dikunjungi wisatawan. Semakin banyak penduduknya yang terserap dalam dunia kerja ’pariwisata’.
Semakin banyak produk-produk yang dihasilkan dikonsumsi oleh para pengunjung. Semoga pajak-pajak yang ditarik dari pengusaha dimanfaatkan dengan maksimal untuk pembangunan daerah terutama sektor pariwisata itu kembali.
Dan tidak lupa, semoga Kota Takengon mulai berbenah dengan serius untuk menyambut pengunjung wisata dengan memperbaiki hal-hal yang menjadi penunjangnya. (*)
*) Penulis adalah Ketua Komunitas Soloh Takengon
KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Kupi Senye
wisata
Takengon
Aceh Tengah
Danau Lut Tawar
Opini Tribun Gayo
Kusni Rohani Rumahorbo
Ketua Komunitas Soloh
TribunGayo.com
| Anak-anak Kita Sedang Diburu |
|
|---|
| Bimbingan Pernikahan dan Ketahanan Keluarga Muslim: Ikhtiar Membangun Generasi Berkualitas |
|
|---|
| Dari Ruang Kelas untuk Bumi: Mengenang Enam Bulan Pascabencana Hidrometeorologi |
|
|---|
| Idul Adha Menyembelih Sifat Kebinatangan dalam Diri |
|
|---|
| Menyembelih Ego: Hikmah Terdalam dari Syiar Qurban |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/KUSNI-KUPI-SENYE.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.