Kupi Senye
Zulhijjah: Antara Puasa Arafah dan Euforia Meugang
Dalam hadis riwayat Bukhari, Nabi menegaskan bahwa tidak ada hari dimana amal saleh lebih dicintai Allah dibanding sepuluh hari pertama Zulhijjah.
Oleh : Zakiul Fuady Muhammad Daud *)
Ada ironi yang berulang hampir setiap tahun di tengah masyarakat Muslim kita.
Ketika jutaan jamaah haji sedang berdiri di Padang Arafah dengan air mata, doa, dan penghambaan yang begitu dalam kepada Allah.
Sebagian masyarakat di kampung justru sibuk dengan hiruk-pikuk meugang, memasak daging, berbelanja besar, dan pesta makan yang nyaris menghilangkan ruh spiritual Zulhijjah itu sendiri.
Padahal hari Arafah bukan sekadar momentum kuliner tahunan. Ia adalah salah satu hari paling agung dalam Islam.
Rasulullah SAW menyebut puasa Arafah sebagai ibadah yang dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi bersabda: “Puasa Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.”
Ini bukan keutamaan kecil. Ini tawaran pengampunan yang sangat besar dari Allah kepada umat Muhammad SAW.
Tetapi lihatlah yang sering terjadi. Banyak rumah lebih sibuk menyiapkan menu daging dibanding menyiapkan hati untuk ibadah.
Dapur hidup semalaman, tetapi masjid justru sepi dari zikir dan munajat.
Orang rela menghabiskan jutaan rupiah untuk makanan, tetapi terlalu berat menahan lapar satu hari demi puasa sunnah yang luar biasa itu.
Inilah yang perlu direnungkan bersama: jangan sampai budaya mengalahkan sunnah. Jangan sampai tradisi lebih hidup daripada syariat.
Sebab agama ini tidak melarang makan enak, tidak melarang megang, dan tidak melarang kegembiraan keluarga.
Tetapi ketika seluruh energi spiritual Zulhijjah habis hanya untuk urusan perut, sementara ruh ibadahnya mati, maka ada yang sedang salah dalam orientasi keberagamaan kita.
Zulhijjah Bulan Mulia
Zulhijjah adalah bulan haram, bulan mulia, bulan yang diagungkan Allah sejak dahulu.
Kupi Senye
Opini TribunGayo
Zulhijjah
puasa
Arafah
meugang
Zakiul Fuady Muhammad Daud
dosen
IAIN Takengon
Aceh Tengah
TribunGayo.com
| Aceh dan Sinyal Kemunduran: Ketika Kekhususan Kehilangan Ruhnya |
|
|---|
| Implementasi Kurikulum Merdeka untuk Membentuk Karakter Religius Siswa di SMAN 15 Takengon |
|
|---|
| Jangan Sentuh Harta Wakaf: Kutukan Sejarah bagi Mereka yang Mengkhianati Amanah Umat |
|
|---|
| Kesehatan Mental Anak Harus Menjadi Perhatian Bersama |
|
|---|
| Melawan Tafsir Patriarkal atas Perempuan dalam Islam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Zakiul-Fuady-Muhammad-Daud_2105.jpg)