Rabu, 10 Juni 2026

Kupi Senye

Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi tahun 2023 dengan angka 5,6 persen merupakan pertumbuhan ekonomi kedua tertinggi di Aceh setelah Nagan Raya.

Tayang:
FOTO IST
Kepala BPS Aceh Tengah, Dr Nuri Rosmika SST MSi. 

Oleh: Dr Nuri Rosmika SST MSi *)

Pertumbuhan Ekonomi

Ukuran proses pembangunan yang dijalankan pemerintah erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi. Sehingga pertumbuhan ekonomi diharapkan dapat dicapai setinggi mungkin.

Selama tahun 2023, pertumbuhan ekonomi Aceh Tengah terbilang sangat baik, mencapai 5,6 persen.

Berada di atas pertumbuhan ekonomi Aceh yang sebesar 4,23 % , lebih besar dari pertumbuhan ekonomi pulau sumatera yaitu 4,59 % , dan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yakni 5,05 % .

Angka ini juga merupakan pertumbuhan ekonomi tertinggi selama 10 tahun terakhir. Selama 1 dekade ini, pertumbuhan ekonomi Aceh Tengah periode 2022 dan 2023 memang sangat pesat.

Pertumbuhan ekonomi tahun 2023 dengan angka 5,6 persen merupakan pertumbuhan ekonomi kedua tertinggi di Aceh setelah Nagan Raya.

Pada tahun 2022, Aceh Tengah juga mampu tumbuh tinggi sebesar 4,93 persen dan juga tergolong pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Aceh setelah Banda Aceh.

Secara teori, pertumbuhan ekonomi pasti akan menyebabkan kenaikan harga (inflasi). Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi yang dicapai maka akan semakin besar pula kenaikan harga yang terjadi di masyarakat.

Kenaikan harga ini akan memicu perusahaan untuk meningkatkan produksinya, sehingga akan menambah jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan.

Hal ini akan menurunkan angka pengangguran dan akhirnya akan menurunkan angka kemiskinan.

Akan tetapi, dari sisi masyarakat, Inflasi yang tinggi akan membuat hidup rakyat sulit karena harga barang dan jasa mahal.

Sementara inflasi terlalu rendah tidak menarik bagi pengusaha untuk berbisnis, tetapi menguntungkan masyarakat.

Oleh karena itu, pemerintah menerapkan batas inflasi yang baik/terkendali setiap tahunnya, yaitu 2-4 persen pada tahun 2023 dan 2,5 – 3,5 persen pada tahun 2024.

Untuk daerah Aceh Tengah dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, tentu akan menyebabkan jumlah uang yang beredar di masyarakat menjadi lebih banyak.

Terlebih lagi sektor pariwisata di Aceh Tengah sedang maju pesat, sehingga permintaan agregat tidak hanya dipengaruhi oleh masyarakat domestik tetapi juga masyarakat luar penikmat wisata di Aceh Tengah.

Tingginya permintaan agregat tersebut membuat harga barang dan jasa meningkat. Hal ini merupakan hal yang wajar sesuai dengan teori ekonomi.

Dalam ilmu ekonomi, pertumbuhan ekonomi akan menyebabkan inflasi.

Dalam beberapa jurnal penelitian disebutkan bahwa di Indonesia pada periode 1994 – 2018 terjadi lag 4 dalam hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

Artinya, pertumbuhan ekonomi akan mempengaruhi inflasi hingga 4 triwulan/setahun mendatang.

Hal inilah yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi Aceh Tengah yang lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi 4 kota inflasi lainnya di Aceh, akan menyebabkan inflasi yang juga akan lebih tinggi dari 4 kota inflasi lainnya.

Pertumbuhan ekonomi Aceh Barat tahun 2023 adalah sebesar 4,08 persen dan pertumbuhan ekonomi Aceh Tamiang tahun 2023 adalah 2,5 persen.

Sedangkan pertumbuhan ekonomi Banda Aceh dan Lhokseumawe pada tahun 2023 masing-masing sebesar 5,06 persen dan 4,21 persen.

Hal inilah yang menyebabkan inflasi Aceh Tengah tidak mirip dengan inflasi Lhokseumawe walaupun secara daerah berdekatan.

Inflasi

Pada April 2024 ini, inflasi Aceh Tengah secara tahunan Year on Year (YoY) sebesar 4,73 persen, diikuti oleh Meulaboh sebesar 4,21 persen dan Lhokseumawe sebesar 3,31 persen.

Sementara inflasi Aceh Tamiang dan Banda Aceh masing-masing sebesar 2,9 persen dan 2,16 persen.

Selain perbedaan pertumbuhan ekonomi, inflasi sangat terkait dari pola konsumsi masyarakatnya yang tergambar dari Survei Biaya Hidup (SBH).

Dari SBH 2022 terlihat bahwa persentase konsumsi makanan secara berurutan adalah Aceh Tengah (51,32 % ), Meulaboh (48,07 % ), Aceh Tamiang (47,7 % ), Lhokseumawe (47,61 % ), dan Banda Aceh (38,81 % ).

Semakin besar persentase konsumsi makanan maka akan semakin besar pula perubahan harga bahan makanan seperti cabai, bawang, tomat, dan sayuran mempengaruhi inflasi.

Hal inilah yang menjadi penyebab kedua inflasi di Aceh Tengah lebih tinggi dibanding empat daerah lainnya.

Barang hortikultura merupakan komoditas yang tidak tahan lama dan mudah busuk. Sehingga harganya akan bergejolak/volatile food.

Ketika harga nya naik maka akan membuat inflasi menjadi tinggi, demikian juga sebaliknya.

Harga produsen/harga jual sektor hortikultura yang sedang mahal akan menguntungkan petani hortikultura yang merupakan mata pencaharian menghasilkan di Aceh Tengah.

Akan tetapi hal ini juga menyebabkan inflasi Aceh Tengah menjadi tinggi.

Sebaliknya, bila harga cabai, tomat, kentang, bawang, dan sayuran rendah maka inflasi Aceh Tengah menjadi rendah tetapi sayangnya produsen/petani hortikuktura juga merugi.

Oleh karena itu, inflasi di Aceh Tengah yang dianggap lebih tinggi dibandingkan 4 daerah lainnya tidak bisa dipandang hanya dari satu sisi saja.

Ini merupakan akibat dari pertumbuhan ekonominya yang tinggi dan perbedaan pola konsumsi masyarakatnya.

Penyebab ketiga inflasi tidak ditekan serendah mungkin adalah sebagai bentuk menjaga pendapatan petani lokal.

Sangat tidak mungkin bila harga jual petani cabai, tomat, bawang, kentang dan sayuran dipaksa rendah di Aceh Tengah sedangkan di daerah lain konsumen mau membeli lebih mahal.

Inflasi yang Stabil

Untuk menyimpulkan bahwa inflasi suatu daerah tergolong tinggi atau rendah harus melihat angka inflasi tahunan periode Desember setiap tahunnya.

Oleh karena itu, masih terlalu dini untuk menyimpulkan inflasi Aceh Tengah mengingat tahun 2024 masih pada inflasi triwulan 1.

Untuk mencapai target inflasi tahunan dalam rentang nasional yaitu 2,5 – 3,5 persen di tahun 2024 ini, maka inflasi bulanan secara rata-rata harus dicapai 0,2 – 0,3 persen setiap bulannya.

Pada Januari, inflasi Bulanan month to month (mtm) Aceh Tengah terbentuk sebesar 0,17 persen, angka ini meningkat menjelang ramadhan menjadi 1,52 persen pada februari.

Kemudian menurun menjadi 0,25 persen periode Maret, dan meningkat menjadi 0,3 persen pada April.

Kenaikan harga karena faktor musiman seperti lebaran, ramadhan, dan tahun baru adalah hal yang tidak bisa dihindarkan.

Selama angkanya masih dalam batas rentang 0,2 – 0,3 persen dianggap tidak akan terlalu mengganggu inflasi tahunan.

Bila keberhasilan menjaga angka inflasi bulanan pada Januari, Maret, dan April bisa terus dijaga oleh pemerintah daerah maka Inflasi Tahunan 2024 pada Desember nanti diharapkan dapat dikendalikan normal.

Strategi penanganan inflasi pada triwulan 1 tahun 2024 yang telah terbukti jitu inilah yang harus terus dilakukan oleh pemerintah daerah hingga akhir tahun.

Strategi Penanganan Inflasi

Inflasi terjadi disebabkan karena ketidakseimbangan antara stok/barang yang dijual dengan permintaan/kebutuhan dari masyarakat.

Ketika stok menipis karena faktor musiman seperti belum musim panen, banjir, longsor dan sejenisnya maka harga menjadi mahal.

Demikian juga bila kebutuhan masyarakat meningkat seperti ramadhan, lebaran, dan liburan maka juga akan terjadi kenaikan harga barang/jasa.

Oleh karena itu Pemda harus memastikan stok tercukupi sepanjang tahun.

Ada 9 langkah pengendalian inflasi yang telah ditetapkan oleh Mendagri sebagai acuan pemda, yaitu (1) Pemantauan harga, (2) Rapat teknis, (3) Menjaga pasokan, (4) Gerakan Menanam Serentak.

(5) Operasi Pasar Murah, (6) Sidak Pasar, (7) Kerjasama Antar Daerah, (8) Belanja Tak Terduga untuk mengendalikan inflasi, dan (9) Bantuan Transportasi untuk ongkos angkut.

Dari semua intruksi Mendagri tersebut, 7 langkah telah dilakukan Pemda Aceh Tengah sejak tahun 2023 lalu, yaitu langkah 1 hingga 7.

Pemda juga sedang mempersiapkan implementasi langkah 8 dan 9 untuk kedepannya. Diharapkan hal ini dapat menjaga inflasi tahunan Aceh Tengah 2024 pada Desember nanti berada di bawah angka 4 persen.

Selain intruksi mendagri tersebut, beberapa daerah melakukan inovasi lain seperti urban farming dan mobil inflasi menyasar warga terpencil (di Samarinda); Gerakan Tanam Sayur Mayur (Gertas), Gerakan Memelihara Ternak Unggas (Gemar Tugas).

Gerakan Pengembangan Perikanan Rakyat (Gerbang Perak), dan Pulau Buah (di Banyuasin); pelibatan badan usaha, mengefektifkan komponen zakat, dan gerakan menanam dengan mengoptimalkan ibu PKK (di Banten); serta Toko Tani Indonesia Center (TTIC).

Pelaksanaan outlet pemasaran ikan segar, Lapau tani, program bajak sawah gratis, pemanfaatan pekarangan, desa mandiri pangan, lumbung pangan masyarakat, pengembangan teknologi padi salibu, dan asuransi usaha tani padi dan asuransi usaha ternak sapi kerbau (di Tanah Datar).

Semakin banyak hal yang dilakukan tentu akan semakin mengendalikan inflasi. Akan tetapi hal yang juga harus diingat adalah seberapa banyak sumber daya yang dimiliki.

Sumber daya dapat berupa Anggaran yang tersedia, Pegawai yang dapat melaksanakan, serta Waktu kegiatan apakah tepat atau sangat sempit.

Yang juga tidak kalah penting adalah kesiapan masyarakat Aceh Tengah sendiri untuk menghadapi inflasi. Yaitu dengan memanfaatkan iklim pegunungan dan juga tanah yang subur.

Setiap rumah tangga menanam sendiri komoditas yang fluktuatif harganya seperti cabai, bawang, tomat dan sayuran di pekarangan.

Sehingga harga komoditas hortikultura yang tinggi tetap dapat dinikmati petani dan menggerakkan pertumbuhan ekonomi, namun masyarakat pun tidak terpengaruh dengan angka inflasi.

*) Penulis adalah Kepala BPS Kabupaten Aceh Tengah

KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca juga: PJ Gubernur Aceh Jamin Tamu PON XXI Aceh-Sumut 2024 Nyaman

Baca juga: Wakil Ketua DPRK Gayo Lues: Penanganan Longsor Lambat Jalan Nasional Masih Lumpuh Total

Baca juga: Profil Armia Bakal Calon Wakil Bupati Bener Meriah 2024 dari Jalur Independen

 

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved