Kamis, 11 Juni 2026

Kupi Senye

Daerah Dingin Tidak Dingin Lagi

Tapi kini, suasana itu mulai menghilang. Muncul pernyataan "daerah dingin tidak dingin" mungkin adalah sebuah opini semata.

Tayang: | Diperbarui:
FOTO IST
Kepala SMA Negeri 1 Permata kabupaten Bener Meriah, Hammaddin Aman Fatih. 

Oleh: Hammaddin Aman Fatih *)

……Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita. Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita. Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang (Lirik Lagu “Berita Kepada Kawan” Karya Ebiet G Ade).

Tanah Gayo adalah daerah yang berada di salah satu bagian punggung pegunungan Bukit Barisan atau secara khusus membentang dari Belangkejeren sampai kawasan Cut Panglima Bener Meriah.

Secara administratif meliputi wilayah Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues yang identik dengan suasana alam yang sejuk dan dingin.

Biasanya kalau berkunjung ketanah Gayo, langsung terbayang dibenak kita suasana dingin yang menyergap, apalagi ketika matahari mulai kembali keperaduannya.

Dingin pasti mulai bersahabat dengan tubuh kita.

Tapi kini, suasana itu mulai menghilang. Muncul pernyataan "daerah dingin tidak dingin" mungkin adalah sebuah opini semata.

Jika dataran tinggi tidak lagi dingin, hal ini bisa menjadi indikasi perubahan iklim yang signifikan.

Perubahan iklim telah menyebabkan peningkatan suhu secara global, yang dapat mempengaruhi berbagai wilayah di seluruh dunia dengan cara yang berbeda.

Perubahan iklim telah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia pada abad ini.

Salah satu dampak yang paling terlihat dari perubahan ini adalah perubahan suhu global, yang mengubah karakteristik iklim di berbagai wilayah di seluruh dunia.

Salah satu fenomena yang semakin menjadi sorotan adalah daerah dingin yang tidak lagi dingin.

Seorang peneliti yang 5 tahun yang lalu datang ke kawasan seputaran Gunung Leuser siap dengan baju jaket yang tebal.

Tapi, sekarang baju yang telah disiapkan tidak pernah dia pakai ketika berkunjung kesana lagi.

Seorang wisatawaan yang menghabiskan malam minggu di seputaran danau Laut Tawar berkata, dulu kalau kita ke Takengon, jaket tidak pernah lepas dari badan.

Tapi, sekarang terasa gerah bila berjalan di malam hari diseputaran kota Takengon.

Opini semacam itu mungkin muncul karena beberapa alasan, seperti perubahan suhu yang lebih mencolok dalam beberapa tahun terakhir atau pengalaman individu yang berbeda dalam suhu lokal.

Dari deskripsi diatas, telah mulai terjadi perubahan iklim di daerah bagian tengah wilayah Aceh, terkhusus kawasan ekosistem Leuser yang dianggap sebagai salah satu kawasan hutan hujan tropis terbesar di dunia (bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO yang dikenal sebagai "Hutan Hujan Tropis Sumatera”).

Dan merupakan rumah bagi berbagai spesies flora dan fauna yang unik, memiliki peran penting dalam menjaga fungsi ekologis yang mendukung keberlangsungan kehidupan manusia, seperti pengaturan iklim, penyediaan air bersih, dan menjaga tanah serta sungai tetap produktif.

Informasi diatas merupakan sebuah alaram bahwa kondisi alam disekitar kawasan tengah pengunungan wilayah Aceh sekarang tidak sedang baik-baik saja.

Bayangkan bila kawasan itu mulai mengalami kerusakan serius, dampaknya akan sangat luas dan serius, baik secara lokal maupun global.

Bila kita tak bergerak untuk mulai berbenah memperbaikinya. Maka kita akan dicap oleh generasi yang akan datang, sebagai generasi perusak.

Generasi yang tidak bisa menjaga bin merawat anugerah besar yang ada itu.

Harus ada aksi nyata yang konsisten dan kontinyu untuk menanggulangi kerusakan kawasan tersebut dan memerlukan pendekatan yang holistik dan melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga konservasi, masyarakat lokal, dan sektor swasta.

Beberapa langkah yang dapat diambil diharapkan dapat memperlambat dan menghentikan kerusakan kawasan ini serta memastikan keberlanjutan ekosistem yang penting ini untuk masa depan.

Pertama penegakan hukum. Kedua pengelolaan kawasan. Ketiga pemberdayaan masyarakat sekitarnya.

Keempat pendidikan dan kesadaran. Kelima koloborasi antar sektor. Keenam pemantauan dan evaluasi.

Dari enam point tahap tersebut, ada satu point yang sangat berperan vital karena menyangkut minset atau pola pikir, Orang bijak bilang, apa yang dipikirkan, maka itulah yang akan dilakukan.

Apa yang dilakukan berulang-ulang maka itu akan menjadi karakter, yaitu point keempat pendidikan dan kesadaran.

Pernyataan itu menggarisbawahi konsep bahwa tindakan kita sering kali dipengaruhi oleh pemikiran kita. Jika seseorang terus memikirkan suatu hal, itu dapat memengaruhi keputusan dan perilaku.

Jadi, sementara pemikiran dapat menjadi faktor penting dalam menentukan tindakan, walaupun itu tidak selalu menjamin bahwa tindakan akan mengikuti pemikiran tersebut secara langsung.

Hal ini penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kawasan tengah Aceh dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya.

Ini dapat dilakukan melalui program pendidikan lingkungan di sekolah-sekolah atau jelasnya ada kurikulum berbau
lingkungan.

Kurikulum pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk pemikiran dan sikap generasi masa depan.

Dalam era di mana isu-isu lingkungan semakin mendesak, pertanyaan mendasar timbul : apakah kita memerlukan kurikulum khusus yang fokus pada pendidikan lingkungan?

Dalam tulisan singkat ini penulis mencoba menjelaskan mengapa kurikulum lingkungan penting dan apa manfaatnya dalam konteks masa kini.

1. Kesadaran lingkungan yang meningkat

Isu-isu lingkungan seperti perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan polusi telah menjadi perhatian global.

Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan, pendidikan menjadi kunci dalam mempersiapkan generasi masa depan untuk menghadapi tantangan ini.

2. Mendorong perubahan perilaku

Kurikulum lingkungan tidak hanya menyediakan pengetahuan tentang masalah lingkungan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku.

Dengan pemahaman yang lebih baik tentang dampak individu terhadap lingkungan, siswa dilengkapi dengan keterampilan dan motivasi untuk mengambil tindakan yang ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Peningkatan keterlibatan masyarakat

Pendidikan lingkungan juga membawa manfaat bagi masyarakat secara keseluruhan.

Dengan meningkatkan kesadaran akan isu-isu lingkungan, kurikulum ini dapat menginspirasi tindakan kolektif dalam melindungi lingkungan dan memperjuangkan kebijakan yang berkelanjutan.

4. Persiapan untuk pekerjaan di era hijau

Di tengah perubahan menuju ekonomi hijau, kurikulum lingkungan mempersiapkan siswa untuk karir-karir yang berkelanjutan.

Ini mencakup bidang seperti energi terbarukan, teknologi ramah lingkungan, dan manajemen sumber daya alam yang berkelanjutan.

5. Perlunya integrasi kurikulum lingkungan

Meskipun pentingnya kurikulum lingkungan tidak dapat disangkal, tantangannya adalah integrasinya ke dalam kurikulum yang sudah ada.

Perlu adanya kerja sama antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk menyusun kurikulum yang efektif dan relevan dengan kebutuhan saat ini.

Penutup

Dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin mendesak, perlunya kurikulum lingkungan tidak dapat dipungkiri.

Ini bukan hanya tentang memberikan pengetahuan, tetapi juga tentang mempersiapkan generasi masa depan untuk menjadi agen perubahan dalam melindungi planet kita.

Dengan pendidikan lingkungan yang terintegrasi, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih sadar dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Mencegah kerusakan alam memerlukan pendekatan holistik yang mencakup langkah-langkah kongkret seperti konservasi sumber daya alam, pengelolaan limbah yang bijaksana, perlindungan habitat alami, serta pendidikan dan kesadaran lingkungan yang luas.

Selain itu, perlu juga adanya kebijakan dan regulasi yang ketat serta penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggaran lingkungan.

Namun, yang terpenting adalah perubahan paradigma dan gaya hidup masyarakat secara keseluruhan.

Kita perlu beralih ke pola konsumsi yang lebih berkelanjutan, mengurangi jejak karbon, dan menghargai nilai-nilai alam.

Ini membutuhkan perubahan budaya yang mendalam dan kesadaran akan dampak dari setiap tindakan kita terhadap lingkungan.

Meskipun tantangannya besar, penulis percaya bahwa dengan kerja sama dan komitmen yang kuat, kita dapat menciptakan dunia yang lebih baik dan seimbang antara kebutuhan manusia dan keberlangsungan alam.

Menutup kerusakan alam bukan hanya untuk kepentingan kita sendiri, tetapi juga untuk generasi-generasi yang akan datang.

Kita juga harus mengapresiasi telah terbitnya buku Suplemen Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Lingkungan dan kawasan Ekosistem Leuser untuk SMA dan SMK yang dikarang oleh Muksalmina, SPd, MSi dan kawan-kawan yang cetak pertama oktober 2023 yang lalu dan telah munculnya sekolah alam di Aceh Tengah.

Semoga hal ini merupakan langkah awal, aksi nyata untuk menuju penyelamatan alam secara umum dari kerusakan yang lebih parah dan membangun masa depan yang lebih berkelanjutan bagi tanah Gayo.

Jangan sampai julukan Takengon Kota Dinginnya Aceh Tinggal kenangan. Naudzubillah Min Dzalik….

*) Penulis adalah penulis buku People of the Coffe Penerbit Mujahid Press 2015 dan Goresan Pena Cekgu Penerbit Guepedia, 2018 dan Kepala SMA Negeri 1 Permata kabupaten Bener Meriah.

KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

 

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved