Kisah Inspiratif
Sosok Mohammad Amin Usman, Putra Aceh Bangun Bengkel Pesawat Terbang
Ia mengistilahkan dirinya sebagai "konsultan jalanan" dan "juru taksir pesawat terbang."
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Rizwan
Laporan Fikar W.Eda I Jakarta
TRIBUNGAYO.COM, JAKARTA - Ia mengistilahkan dirinya sebagai "konsultan jalanan" dan "juru taksir pesawat terbang."
Asli putra Aceh. Namanya Mohammad Amin Usman disingkat MAU, lahir di Buerawe, Banda Aceh pada 1955, memiliki perjalanan karier yang beragam dan penuh prestasi di berbagai bidang teknologi dan penerbangan.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala pada tahun 1979, ia memulai kariernya di bidang telekomunikasi dengan bekerja di sistem komunikasi satelit Indonesia, Palapa, dari tahun 1974 hingga 1976.
Dalam periode ini, ia turut membangun stasiun bumi kecil di seluruh Aceh pada era 1980-an, yang menjadi bagian penting dari perkembangan infrastruktur komunikasi di wilayah tersebut.
Pada tahun 1985, Mohammad Amin juga terlibat dalam proyek penting di Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), dimana ia turut serta dalam pembangunan reaktor serba guna di Serpong.
Proyek ini menjadi salah satu tonggak penting dalam pengembangan teknologi nuklir di Indonesia dan membuktikan kontribusi besarnya dalam bidang energi dan teknologi.
Tidak berhenti di situ, Mohammad Amin kemudian mengalihkan perhatiannya ke dunia penerbangan. Ia menempuh pendidikan di bidang civil aviation internasional selama tiga bulan, yang mempersiapkannya untuk menjadi seorang ahli dalam teknik perawatan pesawat terbang.
Pada tahun 1995, ia menjadi salah satu dari sedikit profesional di Indonesia yang bersertifikat sebagai juru taksir pesawat terbang, sebuah keahlian yang sangat langka pada masa itu.
Saat ini, ia bekerja sebagai konsultan penerbangan di Jakarta dengan kantor yang berpusat di Lapangan Terbang Pondok Cabe.
Nah pekerjaan sebagai konsultan inilah yang ia istilah sendiri sebagai "konsultan jalanan."
Di samping karier teknisnya, Mohammad Amin juga aktif di bidang akademik dan organisasi profesional.
Ia merupakan anggota Masyarakat Profesi Penilai Indonesia dan mengajar di Universitas Assyafiyah serta Sekolah Tinggi Teknik Indonesia.
Kepeduliannya terhadap pendidikan terlihat jelas dalam dukungannya terhadap sekolah menengah kejuruan penerbangan di Aceh.
Ia percaya bahwa sekolah tersebut dapat melahirkan tenaga kerja terdidik yang dapat bekerja di berbagai bidang penerbangan seperti pilot, teknisi, atau pengendali lalu lintas udara (ATC), sehingga memberikan peluang lebih besar bagi anak-anak Aceh untuk berkembang di luar industri lokal yang terbatas.
| Dibalik Suasana Pagi Pasar Paya Ilang Takengon Tersimpan Tekad Kuat, Salati: Demi Anak-anak |
|
|---|
| Sosok Khalimah, Seorang Ibu dan Guru Inspiratif di Bener Meriah |
|
|---|
| Kisah Fadli di Aceh Tengah, Petani Kopi Gayo Raih Gelar Doktor dengan Nilai Cumlaude |
|
|---|
| Kisah Pemuda Cabe Asal Kalimantan Selatan, Berjualan Aksesoris hingga Blangkejeren Gayo Lues |
|
|---|
| Kisah Siti Nurbaya di Gayo Lues, Penjual Keripik Oleh-oleh Khas Gayo yang Sangat Diminati |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Mohammad-Amin-Usman-men-genakan-topi-bersama-siswa-SMKN.jpg)