Kamis, 16 April 2026

Aceh Coffee Day Lelang Dua Lukisan Kopi, Terjual Seharga Rp 9 Juta

Zul MS, memukau audiens dengan lukisan kopi yang menggambarkan seekor badak, menggunakan kopi sebagai catnya.

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Mawaddatul Husna
TRIBUNGAYO.COM/FIKAR W EDA
Lukisan badak dibuat dengan media cat dari kopi karya Zul MS, dan mozaik budaya kopi karya Iswadi Basri. 

Laporan Fikar W Eda | Banda Aceh

TRIBUNGAYO.COM, BANDA ACEH - Acara Aceh Coffee Day tidak hanya menyuguhkan talkshow inspiratif, tetapi juga menampilkan lelang karya lukisan yang menggunakan cat dari  kopi dan yang satu lagi tentang budaya kopi.

Dua lukisan tersebut karya dua seniman berbakat, Zul MS dan Iswadi Basri, mempersembahkan karya seni yang dihasilkan secara live painting atau melukis langsung di lokasi acara Aceh Coffee Day,di Hermes Hotel Banda Aceh, Minggu, (15/9/2024).

Zul MS, memukau audiens dengan lukisan kopi yang menggambarkan seekor badak, menggunakan kopi sebagai catnya.

Karya ini menunjukkan keterampilan luar biasa dan kemampuan seniman dalam mengolah kopi menjadi media seni yang unik. Karya ini terjual seharga Rp 4,5 juta.

Sementara itu, Iswadi Basri  menyelesaikan lukisan yang menggambarkan perjalanan kopi, mulai dari proses penanaman hingga kopi menjadi minuman yang dinikmati.

Karyanya yang dinamis ini menggambarkan siklus kehidupan kopi dengan penuh simbolisme dan estetika. Karya ini juga terjual dengan harga Rp 4,5 juta.

Kedua lukisan tersebut dilelang kepada para penonton yang hadir.

Cek Din Solong, salah satu tokoh kopi terkemuka di Aceh, memenangkan lelang lukisan mozaik kopi karya Iswadi Basri dan akan dipajang di Solong Roastery di Banda Aceh, sebagai bentuk penghargaan terhadap seni dan budaya kopi

Solong Rostery adalah usaha yang didirikan Cek Din Solong.

Cek Din Solong juga berbagi kisah tentang asal mula nama "Solong", yang berasal dari cerita ayahnya, Abu Ahmad.

Pada tahun-tahun awal, Abu Ahmad pernah membantu seorang warga Tionghoa yang kemudian mengucapkan rasa terima kasih dengan menyebutnya sebagai “Ahmad yang tolong”.

Karena logat Tionghoa tersebut, kata “tolong” terdengar seperti “solong”, dan sejak saat itu, nama “Solong” menjadi identitas kuat dalam keluarga dan bisnis kopi mereka.

Acara ini juga menghidupkan kembali kenangan tahun 1996, di mana Solong Coffee menjadi tempat berkumpulnya mahasiswa, penyiar radio,  Romy, penyiar radio Flamboyant yang terkenal di masanya.

Solong Coffee tidak hanya menjadi tempat ngopi, tetapi juga menjadi pusat interaksi sosial dan intelektual bagi generasi muda Aceh pada waktu itu.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved