Rabu, 10 Juni 2026

Kupi Senye

Mereka Bilang PON di Aceh Gagal dan Terburuk, Benarkah?

Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI yang digelar di Aceh dan Sumatera Utara telah berlalu beberapa hari berlalu

Tayang:
Editor: Rizwan
For TribunGayo.com
Fazil, S.S.,M.I.Kom 

Oleh Fazil, S.S.,M.I.Kom *)

Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI yang digelar di Aceh dan Sumatera Utara telah berlalu beberapa hari berlalu. Namun, pesta olahraga terbesar di Indonesia ini masih berjejak dan beraroma yang belum habis dibawa waktu.

Semangat sportivitas yang membara, dan tentunya, kenangan tak terlupakan bagi para atlet dan masyarakat
kedua provinsi.

Akan tetapi, dibalik gemerlap acara, ada riak-riak kecil yang berusaha mengusik
kenangan. Suara-suara sumbang di media sosial, melabeli PON kali ini sebagai "gagal" dan "terburuk", bermunculan bak jamur di musim hujan.

Sentimen negatif ini berakar dari berbagai kekurangan yang terjadi selama penyelenggaraan, mulai dari
masalah konsumsi yang kurang memuaskan hingga kontroversi keputusan wasit yang memancing emosi.

Lantas, benarkah PON di Aceh seburuk yang digambarkan? Mari kita selami lebih dalam, melihat dari berbagai sudut pandang, dan mencoba memahami kompleksitas di balik sebuah perhelatan akbar.

Mengkritisi dengan Perspektif yang Lebih Luas: Melampaui Stigma Negatif

Setiap peristiwa besar, tak terkecuali PON, pasti memiliki kekurangan. Namun, apakah adil jika kita menilai keseluruhan penyelenggaraan hanya berdasarkan beberapa kekurangan tersebut?

Jika kita menggunakan kacamata yang lebih luas, melihat secara holistik, tentu ada banyak aspek positif yang patut diapresiasi.
Mungkin ada 10-20 persen kekurangan, tapi bagaimana dengan 80-90 % lainnya yang berjalan lancar?

Sayangnya, media sosial seringkali bertindak bak kaca pembesar, memperbesar kekurangan dan mengaburkan keberhasilan. Narasi negatif yang terus-menerus digaungkan dapat membentuk opini publik yang keliru, membuat masyarakat terjebak dalam pusaran pesimisme.

PON bukan sekadar ajang adu kekuatan dan ketangkasan para atlet. Lebih dari itu, PON adalah instrumen strategis pemerintah dalam mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia. Banyak yang tidak menyadari bahwa penunjukan daerah-daerah tertentu sebagai tuan rumah PON memiliki tujuan mulia,
yaitu mengalirkan dana pembangunan dari pusat ke daerah.

Infrastruktur yang dibangun, seperti stadion megah, venue olahraga modern, hingga fasilitas pendukung lainnya, akan menjadi aset berharga bagi daerah tersebut di masa depan.

Kita bisa belajar dari Papua, yang menyelenggarakan PON XX pada tahun 2021. Meski awalnya diragukan karena keterbatasan infrastruktur, Papua berhasil membuktikan bahwa mereka mampu.

Kini, giliran Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang akan menjadi tuan rumah PON pada tahun 2028. Ini adalah kesempatan emas bagi kedua provinsi tersebut untuk mengejar ketertinggalan dan membangun fondasi yang kuat untuk masa depan yang lebih baik.

Bukan Soal Sempurna, Tapi Keberanian Bertindak

Menyelenggarakan event besar seperti PON bukanlah tugas yang mudah. Ada begitu banyak aspek yang harus dipersiapkan dengan cermat, mulai dari keamanan, konsumsi, akomodasi, transportasi, hingga manajemen pertandingan.

Wajar jika ada kekurangan, terutama bagi daerah yang baru pertama kali menjadi tuan rumah. Aceh dan Sumatera Utara telah menunjukkan keberanian luar biasa dengan menerima tantangan ini.

Mereka berani melangkah keluar dari zona nyaman, membangun dan meningkatkan infrastruktur, serta mengerahkan seluruh sumber daya untuk menyukseskan PON.

Semangat inilah yang seharusnya kita apresiasi. Bukan soal sempurna atau tidak, tetapi tentang keberanian untuk bertindak, untuk belajar, dan untuk tumbuh.

Kekurangan yang ada harus dijadikan pelajaran berharga, bukan alasan untuk menjatuhkan atau merendahkan. Seperti yang dikatakan oleh Pj Gubernur Aceh, "PON Aceh-Sumut 2024 bukan hanya tentang prestasi olahraga, tetapi juga tentang semangat kebersamaan dan kolaborasi. Kita semua telah bekerja
keras untuk menyukseskan acara ini, dan saya bangga dengan apa yang telah kita capai bersama"

Belajar dari Kekurangan, Merayakan Keberhasilan

Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Dito Ariotedjo, memberi nilai 80,50 untuk penyelenggaraan PON Aceh-Sumut. Angka ini bukanlah hasil akal-akalan atau upaya untuk menjaga citra pemerintah, melainkan refleksi dari banyaknya hal positif yang telah dicapai.

Keamanan terjaga dengan baik, transportasi berjalan lancar, dan yang terpenting, semangat sportivitas tetap menyala di setiap arena pertandingan.

Mari kita belajar dari kekurangan yang ada, mengevaluasi dengan jujur dan objektif, agar PON di masa depan dapat berjalan lebih baik lagi.

Namun, jangan lupa untuk merayakan keberhasilan yang telah diraih. PON Aceh-Sumut telah memberikan banyak pelajaran berharga, baik bagi Aceh dan Sumatera Utara sendiri, maupun bagi daerah-daerah lain yang akan menjadi tuan rumah di masa mendatang.

PON Aceh-Sumut tidak hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga warisan berharga bagi masyarakat Aceh. Beberapa dampak positif yang dapat dirasakan antara lain:

Pembangunan Infrastruktur: Berbagai fasilitas olahraga baru dan modern telah dibangun, seperti Stadion Harapan Bangsa di Banda Aceh dan Sport Center di Aceh Tamiang.

Selain itu, infrastruktur pendukung seperti jalan, jembatan, dan bandara juga ditingkatkan.

Peningkatan Ekonomi: PON memberikan dorongan signifikan bagi sektor pariwisata, perhotelan, restoran, transportasi, dan UMKM di Aceh. Ribuan atlet, ofisial, dan pengunjung yang datang selama acara berlangsung menciptakan perputaran ekonomi yang besar.

Pengembangan Sumber Daya Manusia: Masyarakat Aceh, terutama generasi muda, mendapatkan kesempatan untuk terlibat langsung dalam penyelenggaraan PON, baik sebagai volunteer, panitia, maupun pelaku UMKM. Hal ini memberikan pengalaman berharga dan meningkatkan kapasitas mereka.

Di era media sosial yang serba cepat dan penuh informasi, kita harus lebih bijak dalam mencerna berita. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan dari sepotong informasi atau narasi negatif yang dibangun oleh segelintir pihak.

Mari kita berpikir adil, melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang, dan menghargai upaya serta kerja keras semua pihak yang terlibat.

Belajarlah untuk bertumbuh, baik secara jiwa maupun raga. Buka pikiran kita lebar- lebar, agar mudah memahami dan mengerti. Isilah hati dan pikiran dengan kebaikan, agar kita mampu menyaring informasi dengan bijak dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Mari kita awali hari ini dengan positif thinking, dan teruslah berusaha menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri.

PON Aceh-Sumut mungkin bukan yang terbaik, tapi juga bukan yang terburuk. Ada banyak pelajaran yang bisa kita petik, ada banyak potensi yang bisa kita kembangkan. Mari kita jadikan PON ini sebagai batu loncatan untuk meraih masa depan yang lebih baik, bagi Aceh, Sumatera Utara, dan Indonesia secara
keseluruhan.

Seperti yang dikatakan oleh Ketua Umum KONI Pusat, Marciano Norman, "PON Aceh-Sumut telah menunjukkan bahwa kita mampu menyelenggarakan event olahraga besar dengan baik. Ini adalah bukti bahwa Indonesia siap menjadi tuan rumah event internasional lainnya di masa depan,"

*) Penulis adalah Pegawai RRI Banda Aceh. Lulusan S1 Sastra Indonesia UGM Yogyakarta dan S2 Ilmu Komunikasi Andalas Padang) EmAil: fazil_abdullah@yahoo.com Wa/hp: 085358109509

KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca juga: Guru Penggerak Harus Dapat Menciptakan Mutu Pendidikan Hebat

Baca juga: Kota Takengon Sudah Layak Dimekarkan

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved