Rabu, 10 Juni 2026

Kupi Senye

Perempuan dan Peran Gandanya

Selain berperan sebagai ibu dan istri, perempuan juga sering berkontribusi dalam perekonomian rumah tangga melalui pekerjaan formal maupun informal.

Tayang:
Editor: Rizwan
For TribunGayo.com
Kusni Rohani Rumahorbo SST MSi 

Oleh Kusni Rohani Rumahorbo SST MSi *)

Peran ganda perempuan adalah fenomena yang semakin umum di era modern.

Selain berperan sebagai ibu dan istri, perempuan juga sering berkontribusi dalam perekonomian rumah tangga melalui pekerjaan formal maupun informal.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia terus meningkat, dengan tingkat partisipasi mencapai 54,52 persen pada tahun 2023.

Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak perempuan yang terlibat dalam kegiatan ekonomi di luar rumah.

Peran ganda ini menambah beban yang harus diemban perempuan.

Di satu sisi, mereka harus memastikan kenyamanan dan kesejahteraan keluarganya, sementara di sisi lain, mereka juga dituntut untuk berkinerja baik dalam karier atau usaha yang dijalankan.

Kombinasi tanggung jawab ini memerlukan manajemen waktu, tenaga, dan perhatian yang baik agar keseimbangan dapat terjaga.

Data dari International Labour Organization (ILO) menunjukkan bahwa perempuan di Indonesia bekerja rata-rata 13 jam lebih banyak per minggu dibandingkan laki-laki, yang menggambarkan bahwa perempuan sering menghadapi beban kerja ganda.

Mereka harus mengelola waktu antara pekerjaan di luar rumah dan tanggung jawab rumah tangga seperti mengurus anak, membersihkan rumah, dan memasak.

Meskipun perempuan semakin aktif di sektor publik, masih ada anggapan bahwa pekerjaan domestik adalah tanggung jawab utama perempuan.

Dalam banyak rumah tangga, tugas seperti memasak, membersihkan rumah, dan mengasuh anak masih dianggap sebagai kewajiban perempuan.

Tren kesetaraan gender yang berkembang tidak selalu diikuti dengan peningkatan keterlibatan laki-laki dalam pekerjaan rumah tangga.

Penelitian dari UN Women menunjukkan bahwa stereotip tradisional tentang peran gender di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, masih sangat mempengaruhi pembagian tugas di rumah tangga.

Laki-laki sering dianggap sebagai pencari nafkah utama, sementara perempuan diharapkan mengurus rumah tangga, meskipun mereka juga bekerja di luar rumah.

Penelitian Kusni Rohani Rumahorbo dalam "Karakteristik Laki-Laki Aceh yang Melakukan Pekerjaan Domestik" memberikan wawasan penting terkait peran laki-laki dalam pekerjaan rumah tangga.

Penelitian ini menemukan bahwa salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kesediaan laki-laki untuk terlibat dalam pekerjaan domestik adalah klasifikasi wilayah tempat tinggal. 

Laki-laki yang tinggal di pedesaan cenderung tidak bersedia melakukan pekerjaan rumah tangga, sementara mereka yang tinggal di perkotaan lebih terbuka untuk berbagi tanggung jawab domestik.

Penelitian ini menunjukkan bahwa peran tradisional yang lebih kuat dipegang di daerah pedesaan Aceh mempengaruhi pembagian tugas rumah tangga.

Di pedesaan, pekerjaan domestik sering kali masih dianggap sebagai tanggung jawab perempuan, sementara laki-laki dipandang sebagai pencari nafkah utama.

Sebaliknya, di perkotaan yang lebih dinamis dan modern, pembagian tugas antara suami dan istri cenderung lebih fleksibel dan adil.

Beban kerja ganda yang dihadapi perempuan sering berdampak negatif pada kesejahteraan fisik dan mental. Penelitian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa perempuan yang menghadapi beban kerja ganda lebih rentan terhadap stres, kelelahan fisik, dan gangguan kesehatan mental.

Beban ini dapat menurunkan kualitas hidup serta produktivitas perempuan, baik di rumah maupun di tempat kerja.

Di sisi lain, keterlibatan laki-laki dalam pekerjaan domestik dapat memberikan manfaat besar bagi keluarga. Penelitian dari McKinsey Global Institute menemukan bahwa keluarga dengan pembagian tugas domestik yang lebih adil cenderung memiliki hubungan yang lebih harmonis dan tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi.

Selain itu, anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan dengan pembagian tugas yang setara lebih mungkin mengembangkan pandangan yang positif tentang kesetaraan gender di masa depan.

Peran ganda perempuan dalam rumah tangga merupakan tantangan besar yang memerlukan perubahan sosial mendalam.

Dukungan dari pasangan, komunitas, dan kebijakan publik sangat penting untuk meringankan beban perempuan.

Dengan meningkatnya kesadaran akan kesetaraan gender, diharapkan bahwa peran ganda perempuan dapat lebih dihargai dan laki-laki lebih terlibat dalam tanggung jawab domestik, sehingga tercipta keluarga yang lebih adil dan harmonis.

* Penulis adalah Fungsional Statistisi Muda BPS Kabupaten Bener Meriah

KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca juga: Strategi Pengurangan Food Waste di Pasar Tradisional Melalui Pendekatan Ekonomi Sirkular

Baca juga: Pacuan Kuda Ikon Baru Kota Wisata Takengon

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved