Rabu, 10 Juni 2026

Kupi Senye

Apa Salah Guru

Di balik setiap masalah yang dihadapi siswa, guru sering kali dijadikan "kesalahan." "Anak nakal, salah guru." "Anak bolos, salah guru.

Tayang:
FOR TRIBUNGAYO.COM
Guru SMA Negeri 1 Bukit, Bener Meriah, Tazkir SPd MPd. 

Oleh: Tazkir SPd MPd *)

Menjadi guru di era sekarang bukanlah tugas yang mudah karena beban kerja guru terus bertambah, bukan hanya pada tugas mengajar.

Tetapi juga administrasi dan kegiatan tambahan lainnya, memperbaiki moral, etika siswa, ditempa menjadikan siswa berprilaku sopan bukan hal gampang. 

Dalam konteks pendidikan yang semakin kompleks ini, peran guru harus dilihat sebagai bagian dari sebuah ekosistem saling terkait.

Guru bukan hanya penyampai ilmu tetapi juga seorang pembimbing, motivator, dan sosok yang membantu mengarahkan siswa ke arah yang lebih baik,

guru tetap memiliki keterbatasan dalam pengaruhnya terhadap perilaku dan karakter anak sebab waktu mereka habiskan bersama siswa jauh lebih sedikit dibandingkan dengan orang tua dan lingkungan tempat anak tumbuh. 

Di balik setiap masalah yang dihadapi siswa, guru sering kali dijadikan "kesalahan." "Anak nakal, salah guru." "Anak bolos, salah guru.

“ Anak nilai raport rendah, salah guru" "Anak jarang masuk kelas, berkelahi diluar sekolah salah guru dan banyak istilah lainnya".

Kita dapat melihat dibeberapa media elektronik tentang guru disalahkan, para guru selalu berupaya memberikan yang terbaik bahkan dalam situasi sulit.

Orang tua dirumah mengharapkan sewaktu mengantar pertama anaknya diesekolah menyatakan “Nak, guru di sekolah ini sebagai orang tua kedua di sekolah”.

Guru diharapkan mampu memberikan pengaruh positif kepada anak-anak didiknya.

Namun kenyataannya pembentukan karakter seorang anak sangat dipengaruhi oleh banyak faktor.

Lingkungan keluarga, pergaulan, dan teknologi menjadi bagian dari dinamika perkembangan anak yang tidak dapat dikendalikan sepenuhnya oleh guru.

Ketika anak menunjukkan perilaku yang tidak sesuai harapan, guru dianggap gagal dalam mendidik, seolah-olah seluruh tanggung jawab moral anak berada di pundak mereka.

Ironisnya ketika seorang anak sukses, kontribusi guru justru sering terlupakan.

Fenomena ini mencerminkan betapa kompleksnya peran seorang guru dan sayangnya, betapa sedikit penghargaan yang diberikan kepada mereka.

Sebaliknya ketika seorang anak menunjukkan prestasi yang membanggakan, pujian lebih sering dilayangkan kepada keluarga atau bahkan pada kerja keras anak itu sendiri. 

Jarang sekali peran guru diakui dalam perjalanan sukses seorang siswa.

Padahal di balik setiap pencapaian siswa, ada tangan dingin guru yang memberikan ilmu, motivasi, bahkan waktu luang untuk mendampingi siswa saat mereka kesulitan.

Harus diakui bahwa setiap kesuksesan siswa memiliki kontribusi besar dari guru.

Di satu sisi, mereka dituntut untuk "menghasilkan" siswa yang unggul secara akademis maupun moral, tetapi di sisi lain, mereka kurang mendapatkan apresiasi yang sepadan.

Pada akhirnya, banyak guru yang merasa serba salah dalam menjalankan profesi mereka.

Mereka harus menghadapi kritik dari berbagai pihak ketika siswa berperilaku kurang baik atau gagal dalam pelajaran, namun kurang mendapatkan apresiasi atas kerja kerasnya saat siswa sukses.

Menghargai guru bukan hanya dengan ucapan terima kasih atau penghargaan formal, tetapi juga dengan memahami betapa pentingnya dukungan dari keluarga dan lingkungan untuk membentuk siswa yang baik.

Keberhasilan seorang anak adalah hasil kerja bersama, dan keberhasilan ini hendaknya disyukuri dan dikembalikan pada seluruh pihak yang terlibat.

Kondisi ini seharusnya menyadarkan kita semua bahwa tanggung jawab pendidikan bukan hanya milik guru, tetapi juga orang tua dan masyarakat.

Pendidikan adalah proses kolaboratif di mana setiap pihak memiliki peran masing-masing.

Guru memang memiliki peran penting dalam mendidik tetapi tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas seluruh perilaku siswa.

Orang tua harus ikut aktif dalam pembentukan karakter anak di rumah, sementara lingkungan sosial juga harus menyediakan atmosfer yang positif.

Sebaliknya jika ada kegagalan semestinya ini juga dilihat dari berbagai aspek bukan sekadar kesalahan guru semata.

Menghadapi situasi ini penting bagi kita semua untuk bekerja sama membangun pemahaman bahwa pendidikan adalah tugas bersama.

Sekolah, orang tua, dan masyarakat harus saling mendukung dalam menciptakan generasi yang unggul. Guru tidak akan bisa bekerja sendiri tanpa adanya dukungan dari lingkungan sekitar.

Orang tua perlu mengambil peran aktif dalam mendidik anak-anak di rumah, sementara masyarakat perlu memberikan lingkungan serta mendukung perkembangan moral dan etika anak.

Sudah waktunya kita memberikan penghargaan yang lebih besar kepada guru. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang bekerja keras demi masa depan bangsa.

Penghargaan ini bukan hanya dalam bentuk materi atau penghargaan formal tetapi juga dalam bentuk apresiasi yang tulus dari masyarakat.

*) Penulis adalah Guru SMA Negeri 1 Bukit, Bener Meriah.

KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

 

 

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved