Kupi Senye
Persoalan Kultural Pendidikan di Aceh Tengah
Namun untuk memudahkan pemetaannya, saya akan uraikan dari dua sisi pendidikan kultural, yakni keluarga dan masyarakat.
Oleh: Dr Johansyah MA *)
Uraian ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya dengan tema ‘pokok-pokok pikiran blueprint pendidikan Aceh Tengah.
Pada bagian pertama telah dipaparkan persoalan struktural pendidikan di Aceh Tengah.
Maka dalam tulisan ini saya akan fokus pada beberapa hal mendasar dalam kaitannya dengan permasalahan kultural pendidikan.
Tentu begitu banyak persoalan pendidikan di sekitar kita.
Namun untuk memudahkan pemetaannya, saya akan uraikan dari dua sisi pendidikan kultural, yakni keluarga dan masyarakat.
Pertama adalah pendidikan keluarga. Saya melihat peran pendidikan keluarga lemah.
Padahal keluarga adalah unit pertama dan utama bagi anak untuk mengenal berbagai nilai.
Keluarga juga menjadi tiang utama tegaknya masyarakat. Semakin kuat pendidikan keluarga semakin berkualitaslah masyarakatnya.
Ada beberapa persoalan keluarga saat ini yang mungkin oleh sebagian orang bukan masalah.
Secara umum orangtua dalam keluarga tidak pernah menyusun program khusus sebagai acuan aktivitas seluruh anggota keluarga.
Meski tidak harus tertulis, tapi sebenarnya harus ada program jelas yang dijalankan dalam unit keluarga.
Terutama yang berkaitan dengan pendidikan agama dan penanaman nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.
Program yang dimaksud berkaitan dengan aktivitas di pagi hari sebelum sekolah, sore, hingga malam hari.
Kalau siang sampai sore anak berada di sekolah, kursus, dan sebagainya.
Ada sebuah penelitian mandiri tentang pola penumbuhan karakter religius dalam keluarga di Kabupaten Aceh Tengah.
Salah satunya pertanyaan penelitiannya adalah apakah orangtua memiliki program yang terjadwal untuk pendidikan agama di rumah?
Misalnya mengaji setelah maghrib, membaca buku (selain PR sekolah), memperkenalkan nilai-nilai kearifan lokal, dan seterusnya?
Maka mayoritas orangtua menjawab tidak memiliki program terjadwal. Aktivitas pendidikan agama berjalan tanpa panduan khusus.
Lalu ditanyakan juga aktivitas apa yang dilakukan anak-anak mereka setelah berada di rumah?
Kebanyakan menjawab anak-anak mereka berada di kamar, dan rata-rata waktu dihabiskan untuk memengang android.
Kalau mengaji katanya sudah diajarkan di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA).
Selanjutnya ditanyakan pula pola komunikasi antara orangtua dan anak.
Apakah ada jadwal makan bersama dan upaya berkomunikasi dengan anak-anak setelah makan?
Ini juga sebagian besar menjawab jarang melakukannya, dan memberikan nasehat kepada anak setelah itu.
Sebenarnya program keluarga untuk aktivitas di rumah sangat penting dalam membangun pola pendidikan yang benar.
Terutama dalam upaya menanamkan berbagai nilai kepada anak; disiplin, tanggung jawab, tekun, jujur, dan nilai-nilai lainnya.
Dari penelitian tersebut kita mengetahui bahwa ternyata betapa rapuhnya pola pendidikan keluarga saat ini.
Bukankah hadits Nabi SAW begitu gamblang menegaskan bahwa anak itu lahir dalam keadaan fitrah (suci).
Maka orangtualah yang menjadikan anak berkarakter Yahudi, Nasrani, dan Majusi.
Ini artinya pola pendidikaan keluarga menjadi faktor utama dan penentu dalam menumbuhkan karakter anak.
Dalam ungkapan lain dikatakan pula, al-umm madrasat al-uula, wa al-abb mudiiruha (ibu adalah madrasah pertama bagi anak, sedangkan ayah adalah direkturnya).
Dalam keseharian mungkin juga luput dari perhatian kita. Misal ada seorang anak yang mengukir prestasi dalam bidang tertentu.
Hal pertama yang biasa ditanyakan orang adalah ’itu anak siapa ya?’, mereka tidak bertanya; ’siapa gurunya?’.
Hal ini menunjukkan bahwa betapa kuatnya keyakinan kita bahwa keberhasilan seorang anak itu karena pola pendidikan yang baik dalam keluarga.
Meski pun sebenarnya mereka mendapatkan banyak pengetahuan dari para gurunya di sekolah.
Kondisi lemahnya pola pendidikan keluarga, mungkin juga dapat dikaitkan dengan kasus perceraian di Aceh Tengah.
Berdasarkan catatan Mahkamah Syar’iyah tahun 2024, perceraian di Aceh Tengah hampir menembus angka 400 kasus.
Dari sekian kasus, banyak kasus istri yang menggugat cerai suami, dan rata-rata alasannya karena kasus judi online.
Artinya memang kondisi keluarga di Aceh Tengah tidak sedang baik-baik saja, dan ini semua pasti berakibat buruk pada pola pendidikan anak dalam keluarga itu sendiri.
Selanjutnya dalam lingkup kultur yang lebih luas, kita juga melihat lemahnya peran dan partisipasi masyarakat dalam pendidikan, teutama dalam aspek pengawasannya.
Mari kita lihat beberapa sampel. Pertama, jika kita melewati jalur mendale-Oregon pada siang hari, ada banyak anak sekolah yang nongkrong di sana, padahal itu jam sekolah. Ini artinya mereka bolos.
Kerjanya di sana merokok. Ada juga yang melaporkan sebagiannya nyabu, hingga memakai narkoba.
Berdasarkan wilayah, ini berada di kawasan Kecamatan Kebayakan.
Maksudnya, aparatur kampung dan masyarakat di sekitar wilayah tersebut kiranya memiliki rasa tanggung jawab terhadap persoalan ini.
Tidak mungkin dibiarkan begitu saja karena berdampak buruk bagi semua. Dalam hal ini dibutuhkan tata tertib kampung yang mengaturnya.
Lebih baik lagi jika ada kerja sama yang baik antar tripusat pendidikan. Kerja sama antara sekolah, keluarga dan masyarakat.
Terlebih dengan media teknologi saat ini, dalam waktu sekejap kasus seperti ini bisa dikomunikasikan dengan cepat.
Selama ini, memang ada sebagian masyarakat yang peduli dan mengingatkan anak-anak yang bolos sekolah tersebut, tapi kebanyakan abai karena memang merasa itu bukan tanggung jawab mereka.
Apa pun itu, hal seperti ini tidak mungkin dibiarkan terus berlarut. Jika tidak ada teguran berarti mereka menganggap perilakunya itu direstui sehingga terus ketagihan.
Tidak sampai di situ, pasti mereka akan mengajak teman yang lain untuk pergi ke tempat tersebut karena dianggap bebas, tidak ada yang melarang.
Kasus kedua di jalan lintang. Suatu pagi menjelang subuh. saya melintas menuju masjid Agung Ruhama.
Saat melewati wilayah Pertamina jalan lintang, saya melihat para remaja membakar ban sambil teriak-teriak.
Sementara jam tersebut sudah mendekati azan subuh, tapi mereka begadang dan melakukan kegiatan yang sia sia.
Mungkin orang yang melintas juga khawatir, kalau-kalau para remaja ini mabuk.
Saya menduga aktivitas seperti ini terjadi di banyak tempat di berbagai wilayah Aceh Tengah.
Jika ya, ini merupakan masalah serius yang harus segera mendapatkan penanganan serius.
Jika merujuk kepada nilai-nilai kearifan lokal Gayo, sebenarnya kita memiliki semua perangkat untuk menertibkan itu semua.
Tinggal komitmen kita untuk mau mewujudkannya.
Ini pula yang harus menjadi bahan kajian penting untuk menentukan arah dan kebijakan pendidikan Aceh Tengah ke depan yang dituangkan dalam blueprint pendidikan Aceh Tengah.
*) Penulis adalah Pemerhati Pendidikan yang saat ini tinggal di Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah.
KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
| Anak-anak Kita Sedang Diburu |
|
|---|
| Bimbingan Pernikahan dan Ketahanan Keluarga Muslim: Ikhtiar Membangun Generasi Berkualitas |
|
|---|
| Dari Ruang Kelas untuk Bumi: Mengenang Enam Bulan Pascabencana Hidrometeorologi |
|
|---|
| Idul Adha Menyembelih Sifat Kebinatangan dalam Diri |
|
|---|
| Menyembelih Ego: Hikmah Terdalam dari Syiar Qurban |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/JOHANSYAH-PEMERHATI-PENDIDIKAN.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.