Minggu, 7 Juni 2026

Kupi Senye

Acara Selesai, Sampah Berserakan

Selesai pelaksanaannya tersebut, kita lihat penampakan lautan sampah yang luas yang sangat memperihatikan meyakitkan mata kita untuk memandangnya.

Tayang:
ISTIMEWA
Hammaddin Aman Fatih adalah seorang antropolog dan pemerhati masalah sosial yang berdomisili di seputaran kota Takengon. Hammaddin mengirimkan opini berjudul Acara Selesai, Sampah Berserakan, Selasa (4/2/2025). 

Oleh: Hammaddin Aman Fatih *)

Permasalahan sampah terus akan menjadi permasalahan yang sangat serius dan kompleks, yang tidak hanya berdampak pada kebersihan dan keindahan lingkungan.

Setiap ada acara atau kegiatan yang mengumpulkan orang banyak, seperti tempat wisata, hajatan, konser, dan lain-lainya, endingnya memunculkan yang namanya sampah.

Maka sampah akan menjadi permasalahan yang kompleks terjadi bila telah selesai pelaksanaan acara tersebut.

Terutama yang tidak dikelola dengan baik, dapat menyebabkan pencemaran tanah, air, dan udara, serta memperburuk kerusakan ekosistem.

Berbagai kegiatan yang dilaksanakan yang pada akhirnya terlihat tumpukan sampah, baik yang melimpah dari tempat sampah yang ada dan banyak yang berserakan merusak pemandangan.

Itu belum kita bercerita tentang dampak lingkungan yang ditimbulkannya, terutama sampah plastik.

Contoh kasus memperihatinkan yang telah begitu membudaya dalam ritual tahunan didaerah kita (Dataran Tinggi Tanoh Gayo).

Yakni pacuan kuda yang berlangsung selama 7 hari berturut-turut, baik yang diadakan di lapangan HM Hasan Gayo Blang Bebangka Aceh Tengah maupun yang diadakan dilapangan Sengeda kabupaten Bener Meriah.

Selesai pelaksanaannya tersebut, kita lihat penampakan lautan sampah yang luas yang sangat memperihatikan meyakitkan mata kita untuk memandangnya.

Citra daerah tercoreng ketika gambar-gambar pemandangan lautan sampah yang membentang, menghiasi media sosial yang dengan cepatnya tersebar.

Budaya buang sampah sembarangan memang sudah cukup pantas kita sebut merupakan budaya kita.

Kita tidak peduli lagi dengan lingkungan kita sendiri, walaupun telah banyak tulisan yang terkadang sudah sangat menyakitkan bagi orang-orang yang beradap membacanya, seperti:

"Ya Allah percepatkanlah cabut nyawa orang yang membuang sampah diareal ini. Hanya orang gila yang mau buang sampah disini. 

Terkutuklah orang-orang yang buang sampah disini. Hanya anjing, monyet dan babi yang mau buang sampah disni, dan lain sebagainya".

Kita masih tetap biasa-biasa saja hingga muncul sebuah guyon “mungkin hanya ketika batu yang mendarat
dikepalanya, baru mereka berhenti untuk tidak buang sampah secara sembarangan”.

Mengapa ini bisa terjadi? Setelah selesai acara, sampah sering kali berserakan karena beberapa alasan yang saling terkait.

Berikut adalah beberapa faktor yang dapat menjelaskan mengapa hal ini terjadi :

Pertama, masih kurangnya kesadaran pengunjung dan yang membuka lapak berjualan.

Banyak pengunjung dan yang membuka lapak berjualan.yang tidak memiliki kesadaran atau kebiasaan untuk membuang sampah pada tempatnya.

Hal diatas bisa disebabkan oleh kurangnya edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan dan dampak negatif sampah terhadap lingkungan.

Tanpa kesadaran tersebut, pengunjung dan yang membuka lapak berjualan cenderung menganggap bahwa pembersihan adalah tanggung jawab panitia acara atau pihak lain, atau dengan alasan karena mereka sudah menyewa lapak bin terselip uang setoran.

Kedua, fasilitas pengelolaan sampah yang tidak memadai. Kadang-kadang, meskipun ada tempat sampah, jumlahnya tidak cukup atau tidak tersebar dengan merata di lokasi acara.

Kurangnya tempat sampah yang terjangkau dan mudah diakses dapat membuat pengunjung dan yang membuka lapak berjualan dalam acara membuang sampah sembarangan, terutama jika mereka harus berjalan jauh untuk membuang sampah.

Ketiga, tidak ada pemilahan sampah yang jelas. Tanpa sistem pemilahan sampah yang jelas (sampah organik, anorganik, dan sampah yang dapat didaur ulang), banyak orang cenderung membuang segala jenis sampah dalam satu tempat sampah.

Hal ini membuat pembersihan dan pengelolaan sampah setelah acara menjadi lebih sulit dan memakan waktu lebih lama.

Keempat, keterbatasan waktu dan tenaga. Setelah acara selesai, panitia sering kali menghadapi keterbatasan waktu dan tenaga untuk segera membersihkan area acara.

Banyaknya sampah yang harus dikelola setelah acara besar, terutama jika acara tersebut melibatkan banyak orang, dapat membuat proses pembersihan memakan waktu dan tidak dapat dilakukan secara instan.

Kelima, kebiasaan membuang sampah sembarangan.

Di beberapa budaya atau masyarakat, membuang sampah sembarangan masih dianggap tidak terlalu serius atau bahkan diterima sebagai kebiasaan.

Kebiasaan buruk ini bisa tercermin dalam acara-acara, objek wisata di mana peserta terbiasa membuang sampah begitu saja tanpa merasa ada konsekuensi langsung.

Keenam, sifat acara yang meningkatkan produksi sampah.

Dalam penyelenggaran kegiatan, seperti festival, konser, tempat wisata atau pasar rakyat, cenderung menghasilkan banyak sampah sekali pakai, seperti kemasan makanan, botol plastik, dan kertas.

Dalam suasana ramai, sering kali pengunjung tidak peduli atau merasa kesulitan untuk mencari tempat sampah yang sesuai, sehingga sampah menjadi berserakan.

Ketujuh, kurangnya penegakan aturan atau kebijakan kebersihan. Kadang-kadang, tidak ada aturan yang cukup tegas terkait kebersihan selama acara berlangsung.

Meski sudah ada pengumuman untuk membuang sampah pada tempatnya, kurangnya pengawasan atau pengingat secara langsung di lokasi acara bisa menyebabkan peserta acuh tak acuh terhadap kebersihan.

Kedelapan, kurangnya kerjasama antara panitia dan peserta, atau pengelola tempat wisata dangan pengunjung.

Dalam beberapa acara, panitia mungkin kurang berkoordinasi dengan peserta untuk memastikan kebersihan terjaga.

Misalnya, tidak ada upaya yang cukup untuk mendorong peserta untuk membawa sampah mereka ke tempat sampah atau bahkan membantu dalam memilah sampah.

Mencegah Sampah Berserakan

Untuk mencegah sampah berserakan setelah kegiatan, ada beberapa langkah yang dapat diambil, baik dari pihak penyelenggara maupun pengunjung acara :

1. Menyiapkanan tempat sampah yang cukup

Penyelenggara acara atau pengelola tempat wisata harus memastikan bahwa tempat sampah disediakan di berbagai titik strategis di area acar atau tempat Wisata.

Tempat sampah yang mudah dijangkau akan memudahkan pengunjung untuk membuang sampah dengan benar.

Selain itu, pastikan ada pemisahan sampah organik dan non-organik, sehingga pengelolaan sampah lebih efektif dan efesien.

2. Kampanye kesadaran kebersihan

Sebelum dan selama kegiatan atau acara, lakukan kampanye edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan.

Bisa berupa pengumuman, spanduk, atau bahkan pengingat melalui media sosial agar pengunjung tahu betapa pentingnya membuang sampah pada tempatnya.

Pengunjung yang lebih sadar akan kebersihan cenderung lebih bertanggung jawab terhadap sampah mereka.

3. Penyediaan wadah atau kemasan ramah lingkungan

Penyelenggara acara atau pengelola wisata bisa memilih untuk menyediakan wadah atau kemasan yang ramah lingkungan, seperti menggunakan bahan daur ulang atau kompos yang lebih mudah terurai.

Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai akan mengurangi jumlah sampah yang sulit diolah.

4. Tindak lanjut pengelolaan sampah

Sebelum acara dimulai atau sebelum memasuki areal wisata, pastikan ada tim kebersihan yang siap membersihkan area tersebut selama dan setelah acara.

Sebagai contoh, tim kebersihan bisa memantau tempat-tempat yang sering dilewati dan mengumpulkan sampah yang berserakan, sehingga kebersihan tetap terjaga.

5. Fasilitasi pengunjung dengan sistem pengumpulan sampah

Penyelenggara juga bisa menyediakan kantong sampah kecil di setiap kursi atau area untuk membantu pengunjung membuang sampah mereka selama acara.

Hal ini memudahkan mereka untuk membuang sampah tanpa harus mencari tempat sampah terlebih dahulu.

6. Penggunaan aplikasi atau teknologi untuk pemantauan sampah.

Beberapa acara besar dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pengelolaan sampah.

Seperti aplikasi yang memberikan informasi tentang lokasi tempat sampah terdekat atau cara pengelolaan sampah dengan baik.

7. Penegakan aturan dan sanksi

Jika perlu, penyelenggara bisa menegakkan aturan dan memberikan sanksi bagi pengunjung yang sengaja membuang sampah sembarangan.

Sanksi ini bisa berupa peringatan, denda, atau larangan mengikuti acara di masa depan. Hal ini akan meningkatkan rasa tanggung jawab setiap orang.

8. Keterlibatan komunitas dan relawan

Melibatkan komunitas lokal atau relawan dalam kegiatan kebersihan setelah acara dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan.

Mereka bisa membantu mengumpulkan sampah dan memastikan bahwa semua sampah terkelola dengan baik.

9. Follow-Up Setelah Acara

Setelah acara selesai, lakukan inspeksi atau pengecekan untuk memastikan area tersebut sudah bersih dan semua sampah terkelola dengan baik.

Laporan kebersihan juga bisa dibagikan kepada publik untuk menunjukkan komitmen terhadap lingkungan.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan dapat tercipta budaya kebersihan yang lebih baik di setiap acara, dan sampah tidak akan berserakan begitu saja setelah kegiatan selesai.

Atau secara lebih ekstrem pemasangan CCTV (Closed-Circuit Television) atau kamera pengawas di berbagai tempat yang strategis untuk melihat pengunjung atau masyarakat yang membuang sampah sembarang dan mempublikasikan di media sosial sebagai pemberi efek jera kepada pelaku.

Kalau pemerintah daerah (Pemda) mau melakukan aksi diatas, penulis sangat yakin tidak akan ada masyarakat yang berani membuang sampah secara sembarangan.

Kecuali mereka-mereka yang memang tidak ada lagi urat malunya. Orang bijak bilang “malu adalah baju. Kalau orang tidak ada lagi punya rasa malu berarti dia sama dengan bintang.

Maka kekerasanlah salah satu jalan yang harus bisa menghentikan aksinya itu”. Naudzubillah min dzalik.

*) Penulis adalah hanya seorang antropolog dan pemerhati masalah sosial yang berdomisili di seputaran kota Takengon.

KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved