Sabtu, 6 Juni 2026

Kupi Senye

Fenomena Gunung Es

Ada sebuah pepatah mengatakan ‘tidak ada asap jika tidak ada api’, peristiwa tersebut hanya asap dari ‘kobaran api’ yang sedang terjadi di sekitar.

Tayang:
ISTIMEWA
OPINI TRIBUNGAYO- Ansor merupakan Dosen pada IAIN Takengon yang mengajar pada Fakultas Tarbiyah dan Program Pascasarjana. Ia menuliskan opini berjudul Fenomena Gunung Es, Kamis (20/2/2024). 

Oleh: Ansor *)

Beberapa waktu yang lalu masyarakat Aceh Tengah seolah kebakaran jenggot karena ada sebuah peristiwa yang sepertinya mencoreng setiap wajah penduduk di salah satu kabupaten bersyariat Islam ini.

Peristiwa yang viral itu terjadi di salah satu kecamatan yang ada di negeri berhawa sejuk, hampir semua tangan menuliskan komentar negatif, komentar menghakimi bahkan sebagian menghina dan berbau sara.

Apakah yang viral itu tidak salah? Pasti jawabannya salah, dari berbagai sisi jawabannya akan sama, baik sosial, budaya apalagi agama, sudah pasti itu hal yang tidak baik.

Tulisan ini tidak hendak menjadikan peritiwa itu seolah jadi baik, tidak juga hendak menambah hujatan dan caci maki, tapi tulisan ini ingin mengajak kita melihat lebih dalam viralnya hal tersebut.

Ada sebuah pepatah mengatakan ‘tidak ada asap jika tidak ada api’, peristiwa tersebut hanya asap dari ‘kobaran api’ yang sedang terjadi di sekitar.

Mari kita buka mata melihat lebih jernih apa yang sebenarnya yang sedang terjadi.

Salah satu asas dalam agama Islam ‘amar ma’ruf nahi mungkar’ seolah hanya isapan jempol hari ini, pepatah Gayo ‘beru berama, bujang berine’ juga sama saja, hanya tinggal tulisan.

Hari ini orang sudah ‘malas’ untuk menegur jika ada sesuatu yang tidak baik, menutup mata pada ketidakbaikan, seolah tidak melihat peristiwa yang tidak layak yang terjadi dihadapannya.

Acuh pada prilaku orang lain, hal ini tentu tidak terjadi begitu saja, pasti ada alasan kenapa ini terjadi.

Sekolah yang merupakan lembaga yang didirikan untuk mendidik dan mewujudkan ‘insan kamil’, manusia sempurna karena ilmu pengetahuan yang luas, akhlak yang mulia juga akidah yang kokoh.

Hari ini seolah hanya sebagai wadah untuk menerbitkan surat legalitas bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, kenapa?

Karena proses transfer of knowledge berjalan apa adanya, transfer of value seolah tidak terjadi.

Karena guru merasa takut untuk melakukan tindakan yang ‘agak keras’ dalam membentuk akhlak yang mulia pada murid muridnya.

Takut melanggar HAM, takut dilaporkan ke pihak yang berwajib akhirnya timbul sebuah habit “yang penting saya masuk, anak mau paham atau tidak, mau beretika atau tidak, tidak jadi persoalan”.

Maka anak akan merasa benar walau mereka sedang melakukan suatu kesalahan, sekali berbuat salah dibiarkan.

Dua kali berbuat salah tidak ditegur, lama- lama mereka menganggap kesalahan sebagai suatu kebenaran.

Sarak opat yang dibentuk untuk mewujudkan masyarakat yang menghidupkan nilai-nilai adat yang berlandaskan agama, terdiri dari reje, petue, imem dan RGM.

Sinergitas elemen-elemen tersebut dalam mejalankan tugas dan fungsinya akan menjadi hal penting dalam upaya menjalankan nilai-nilai adat dan agama ditengah-tengah masyarakat.

Namun hari ini pepatah Gayo “salah bertegah, benar berpapah” jauh panggang dari api, hal ini juga tidak jauh berbeda dari apa yang terjadi di sekolah, ketakutan akan ‘menegur kesalahan orang’ semakin mengental.

Pembiaran terhadap pelanggaran nilai- nilai adat dan agama menjamur bahkan mendarah daging.

Lebih jauh dari itu, ketika ada bawahan atau seseorang yang menyampaikan saran atau kritikan terhadap kebijakan atau program seorang pejabat.

Maka dianggap sebagai sebuah penentangan dan ketidakpatuhan, bukan menerima apalagi mengucapkan terima kasih dan menjadikannya sebagai instrumen untuk melakukan evaluasi.

Tidak jarang berakhir dengan mutasi bahkan ‘mematikan karir’, yang akhirnya apatisme menjadi pribadi setiap orang.

Kejadian yang viral itu laksana puncak gunung es, kita melihat seolah itu hanya hal kecil, laksana gunung es di lautan samudra yang terlihat hanya kecil karena itu hanya puncaknya.

Sesungguhnya ada gunung besar yang berdiri di dalam lautan, nyata namun tidak kelihatan.

Fungsi kontroling sangat diperlukan dalam setiap hal, jika fungsi ini tidak berjalan maka setiap orang akan merasa benar.

Apalagi berubah menjadi fungsi puja puji, apapun kebijakannya baik atau buruk, yang penting dipuji.

Apapun programnya bermanfaat atau tidak yang penting dipuji, maka kesalahan akan dianggap kebenaran, dan jika itu sudah menjadi budaya, mari kita khawatir akan letusan gunung es yang sangat dahsyat.

Pada akhirnya, mari kita fungsikan kembali kontrol dikalangan kita, amar ma’ruf dan nahi mungkar kita budayakan.

Dan membuka diri dengan berbagai kritikan membangun serta mengapresiasi setiap saran dan kritik dari siapapun.

Apabila hendak menyalakan api dari kayu, kayunya harus ditata saling bersinggungan dan bahkan harus berlawanan agar api dapat menyala.

Jika kayu disusun searah dan tidak saling bersinggungan maka dipastikan apinya tidak akan hidup, kalaupun hidup tidak akan bertahan lama.

Berbeda bukan berarti bermusuhan, mengkritik bukan berarti benci.

*) Penulis adalah Dosen pada IAIN Takengon yang mengajar pada Fakultas Tarbiyah dan Program Pascasarjana.

KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved