Jumat, 5 Juni 2026

Berita Nasional

Perusahaan Tekstil Sritex Tutup 1 Maret 2025, Ekonom Angkat Bicara

Yusuf Rendy Manilet menilai apa yang terjadi pada Sritex merupakan peringatan mengenai perlunya kebijakan yang lebih seimbang.

Tayang:
DOK SRITEX
SRITEX TUTUP- Sejumlah pekerja sedang melewati area perkantoran Sritex. Mulai hari ini, Sabtu (1/3/2025) perusahaan tekstil yang berkantor pusat di Sukoharjo, Jawa Tengah itu ditutup. 

TRIBUNGAYO.COM - PT Sri Rejeki Isman Tbk atau biasa dikenal dengan nama Sritex, adalah sebuah perusahaan tekstil yang berkantor pusat di Sukoharjo, Jawa Tengah per hari ini, Sabtu (1/3/2025) resmi ditutup.

Sebanyak 10 ribu karyawan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat dari penutupan Sritex.

Penutupan Sritex ini semakin menegaskan tren deindustrialisasi yang terjadi di sektor padat karya. 

Menanggapi peristiwa ini, Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet angkat bicara.

Yusuf Rendy Manilet menilai apa yang terjadi pada Sritex merupakan peringatan mengenai perlunya kebijakan yang lebih seimbang.

"Secara keseluruhan, penutupan Sritex tidak hanya menegaskan tren deindustrialisasi. 

Tetapi juga menjadi peringatan perlunya kebijakan yang lebih seimbang untuk menjaga peran strategis industri padat karya dalam perekonomian nasional.

Agar stabilitas sosial-ekonomi tetap terjaga di tengah persaingan global yang semakin ketat," ujarnya kepada Kontan, Jumat (28/2/2025). 

Rendy menyebutkan fenomena yang terjadi pada Sritex tidak terjadi secara tiba-tiba.

Melainkan merupakan akibat dari serangkaian faktor yang saling terkait dan memperparah situasi industri dalam negeri. 

Salah satu faktor utamanya adalah kebijakan pemerintah seperti Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 8 Tahun 2024 yang mempermudah impor tekstil, terutama dari China. 

Sehingga pasar domestik dibanjiri dengan produk-produk murah yang dijual di bawah biaya produksi lokal atau praktik dumping. 

Rendy menilai kebijakan tersebut menunjukan lemahnya koordinasi antarkementerian.

Di samping itu, kondisi pasar global yang lesu akibat krisis ekonomi dunia dan ketidakstabilan geopolitik.

Seperti perang Rusia-Ukraina, turut menekan permintaan ekspor tekstil dari Indonesia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved