Senin, 8 Juni 2026

Kupi Senye

Puasa, Spiritual Journey Menuju Tuhan

Dalam Islam, kita juga dianjurkan untuk memulai perubahan dari diri sendiri sebelum melangkah ke wilayah yang lebih besar.

Tayang:
ISTIMEWA
OPINI TRIBUNGAYO- Dr Johansyah MA adalah Dosen STIT Al-Washliyah Aceh Tengah. Ia menulis opini berjudul Puasa, Spiritual Journey Menuju Tuhan, Senin (3/3/2025). 

Oleh: Dr Johansyah MA *)

Sudah beberapa hari kita menjalankan puasa Ramadhan.

Dengan spirit baru kita berharap Ramadhan kali ini menjadi jalan baru perubahan, baik secara individu, sosial, hingga dalam lingkup struktural kebangsaan.

Terlebih dalam situasi terpuruk Negara saat ini yang ditandai dengan beberapa peristiwa memilukan.

Demonstrasi mahasiswa yang bertemakan ‘Indonesia gelap’, tagar ‘kabur aja dulu’, band Sukatani, dugaan korupsi Pertamina hasil dari hasil mengoplos pertalite menjadi pertamax, dan sederet peristiwa lainnya.

Untuk tidak terlalu muluk-muluk dalam melakukan perubahan dalam lingkup makro, paling tidak puasa Ramadhan ini dapat menjadi jalan spiritual bagi kita masing-masing untuk menata diri ke arah yang lebih baik.

Dalam Islam, kita juga dianjurkan untuk memulai perubahan dari diri sendiri sebelum melangkah ke wilayah yang lebih besar.

Berbicara proses puasa sebagai perjalanan spiritual menuju Tuhan berarti berbicara upaya seseorang dalam menata jiwa yang erat kaitannya dengan menundukkan hawa nafsu.

Semakin mampu seseorang dalam menundukkan hawa nafsu, maka semakin besar pula peluangnya untuk mudah menempuh perjalanan spiritual menuju Tuhan.

Hawa nafsu dalam diri manusia memiliki 4 level. Nafsu pada level yang paling bawah dinamakan amarah.

Di atasnya ada lawwamah, lalu mulhamah, dan level nafsu yang paling tinggi adalah nafsu muthmainnah.

Tahap demi tahap inilah yang harus diperjuangkan oleh seseorang, di mana dia harus mampu menaikkan level nafsunya hingga sampai pada nafsu muthmainnah.

Berikut akan saya uraikan satu persatu.

Pertama, nafsu amarah, yakni dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan yang buruk.

Menurut Fakhrudin Faiz, nafsu ini bukan saja mendorong orang untuk melakukan perbuatan keji, tapi juga merasa nyaman dengan apa yang dia lakukan.

Tidak ada rasa bersalah maupun cemas dalam dirinya.

Contohnya orang yang melakukan perbuatan zina. Setelah melakukan perbuatan yang dilarang tersebut, dia biasa saja dan sama sekali tidak menyesal.

Mungkin juga kasus dugaan korupsi Bahan Bakar Minyak (BBM) oplosan pertalite menjadi pertamax dapat dikategorikan pada level ini.

Sebab praktik oplosan ini diduga sudah berjalan sejak 2018.

Artinya mereka melakukannya secara terstruktur dan terencana, namun tetap nyaman dalam kebohongannya.

Kedua, nafsu lawwamah, yakni dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan perbuatan buruk.

Namun tidak seperti nafsu amarah, pada level ini ada semacam pertikaian batin antara kebaikan dan keburukan.

Ada semacam pertimbangan dan keraguan dalam dirinya ketika akan melakukan perbuatan maksiat meski pun pada akhirnya dia melakukannya juga.

Seperti perbuatan zina tadi, jika orang yang melakukannya pada level nafsu amarah, dia tidak pernah menyesal.

Tapi orang yang sudah berada pada level nafsu lawwamah, meski pun dia melakukan tapi ada penyesalan dalam dirinya. Contoh lain ketika seseorang mencuri.

Sebelum melakukan, ada perdebatan batin dalam dirinya, seolah ada yang melarang. Namun pada akhirnya dia tetap melakukan dan akhirnya menyesal.

Maka inilah yang paling menonjol dari orang yang berada pada level nafsu lawwamah, yakni menyesal setelah melakukan perbuatan maksiat.

Ketiga, nafsu mulhamah. Sebagaimana nafsu lawwamah, pada level ini seseorang juga mengalami pertikaian batin antara melakukan atau tidak melakukan sebuah perbuatan keji, dan pada akhirnya dia batal melakukannya.

Kebaikan yang ada dalam dirinya berhasil mengalahkan keburukan. Maka setelah dia membatalkan perbuatan tersebut ada rasa lega dalam dirinya.

Orang yang berada pada level nafsu ini akan batal untuk melakukan perbuatan seperti zina.

Meskipun sebelumnya terlintas dalam pikirannya untuk melakukan itu karena ada kesempatan yang kalau dia lakukan, tidak seorang pun mengetahuinya. 

Tapi karena dia cepat menyadari bahwa yang mengawasi itu sebenarnya Tuhan, sehingga dia batal melakukannya karena takut dosa.

Keempat, nafsu muthmainnah, yakni level nafsu yang tertinggi, di mana seseorang sudah tidak terdorong untuk melakukan perbuatan buruk.

Jika ada yang berpotensi untuk mendatangkan keburukan, dia lebih memilih menghindar, atau pun kalau harus berhadapan dia akan melawannya.

Ketika terlintas dalam pikirannya hal-hal jelek, dia bersegera untuk memohon ampun kepada Allah SWT.

Orang yang berada pada level inilah yang akan diseru oleh Allah SWT untuk memasuki surga-Nya sebagaimana yang ditegaskan dalam alqur’an;

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya, maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS. al-Fajr: 27-30).

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka puasa yang diwajibkan kepada kita sebenarnya adalah bentuk kasih sayang Allah SWT untuk meningkatkan level nafsu kita.

Jangan sampai kita berada pada level nafsu yang terendah, yakni nafsu amarah.

Sebab level nafsu ini tidak mungkin mampu mewujudkan tugas utama seseorang yakni mengabdi kepada Allah SWT.

Metode yang dianjurkan untuk meningkatkan level nafsu ini adalah puasa.

Di mana seseorang diwajibkan untuk menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang dapat membatalkan puasa.

Tahapannya dimulai dari mengosongkan perut. Hal ini dilakukan karena secara psikologis keinginan seseorang akan menurun ketika dia dalam kondisi yang lapar.

Kondisi fisik yang lemah akan cenderung membuat orang untuk mengurangi aktivitas, dan tidak tertarik untuk mengurusi orang lain.

Dia akan lebih fokus kepada dirinya. Pada saat yang sama, dia juga dituntut untuk menjaga indra, pikiran dan hatinya dari hal-hal yang negatif.

Maka dalam situasi ini, orang akan digiring pada pengembaraan spiritual. Dia mulai banyak berpikir hal-hal yang abstrak; Tuhan, hari kiamat, kematian, dan lain.

Secara bertahap, seseorang yang awalnya dipaksa, mulai menikmati pengembaraan spiritualnya ketika dia terus memperbanyak amal-amal kebaikan; 

Shalat sunat, mengaji dan mengkaji alqur’an, i’tikaf, sedekah sebagai bentuk kepedulian sosial dan berbagai amalan lainnya yang mendapat balasan berlipat ganda khusus di bulan Ramadhan.

Pada tahap akhir spiritual journey (pengembaraan spiritual) seseorang akan sampai pada proses kesadaran tinggi, dan inilah yang disebut dengan takwa.

Bukan hal yang mudah tentunya untuk sampai pada tahapan ini.

Namun inilah ujiannya, siapa yang mau sampai ke puncak untuk dapat menikmati keindahannya, maka dia harus mau mendaki jalan yang penuh duri dan ancaman.

Setelah sampai di puncak, dia juga dihadapkan lagi pada tantangan lain, yakni mampu atau tidaknya istiqamah di posisinya tersebut. Wallahu a’lam Bishawab!

*) Penulis adalah Dosen STIT Al-Washliyah Aceh Tengah

KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

 

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved