Kupi Senye
Bingung Mengisi Minyak Antara Kualitas dan Harga
Kendaraan pribadi, transportasi umum, dan sektor industri semuanya membutuhkan bahan bakar untuk beroperasi dengan lancar.
Oleh: Tazkir SPd MPd *)
Minyak kendaraan merupakan salah satu kebutuhan utama bagi masyarakat modern.
Hampir setiap aktivitas sehari-hari mulai dari bekerja, berbelanja, hingga bepergian, bergantung pada ketersediaan bahan bakar.
Kendaraan pribadi, transportasi umum, dan sektor industri semuanya membutuhkan bahan bakar untuk beroperasi dengan lancar.
Pertamax adalah singkatan dari Pertamina Maximum mengacu pada bahan bakar berkualitas tinggi dengan angka oktan (RON) 92 diproduksi oleh Pertamina.
Ini mencerminkan bahwa Pertamax dirancang untuk memberikan performa maksimal bagi kendaraan dengan mesin berkompresi tinggi.
Pertamax adalah salah satu jenis bahan bakar minyak (BBM) diproduksi oleh Pertamina dengan angka oktan (RON) 92.
BBM ini termasuk dirancang untuk kendaraan bermotor dengan rasio kompresi mesin yang lebih tinggi, sehingga lebih ramah lingkungan dibandingkan Premium atau BBM dengan RON lebih rendah.
RON (Research Octane Number) atau Angka Oktan adalah ukuran yang menunjukkan ketahanan bahan bakar terhadap tekanan sebelum terbakar secara spontan di dalam ruang bakar mesin.
Semakin tinggi angka RON, semakin baik bahan bakar tersebut dalam mencegah knocking (detonasi dini) yang dapat merusak mesin.
Contoh:
- Premium (RON 88) cocok untuk mesin dengan rasio kompresi rendah.
- Pertalite (RON 90) lebih baik daripada Premium, cocok untuk mesin dengan rasio kompresi sedang.
- Pertamax (RON 92) lebih stabil, cocok untuk mesin berteknologi modern dengan rasio kompresi lebih tinggi.
- Pertamax Turbo (RON 98) lebih optimal untuk kendaraan berperforma tinggi.
Bulan Februari akhir masyarakat terkejut, berbagia media cetak dan elektronik menayangkan penangkapan Riva Siahaan selaku Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga.
Tak hanya Riva Siahaan, sejumlah petinggi Pertamina lainnya juga diamankan dan ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung (Kejagung).
Riva Siahaan dkk terlibat dalam skandal dugaan pencampuran (pengoplosan) BBM Pertalite menjadi Pertamax (RON 90 menjadi RON 92) mulai 2018 hingga 2023 berpotensi merugikan negara hingga Rp 193,7 triliun/tahun.
Selama ini masyarakat banyak menggunakan Pertamax agar kondisi tahan mesin terjaga.
Kepercayaan masyarakat terhadap Pertamax memang sedang di ujung tanduk, krisis ini bisa menjadi momentum bagi Pertamina untuk berbenah dan berinovasi.
Di tengah persaingan pasar energi semakin ketat, hanya perusahaan yang responsif terhadap kebutuhan konsumen akan bertahan.
Jika tidak, Pertamax mungkin akan menjadi sekadar kenangan produk legendaris kalah oleh zaman.
Sebagai produk yang dirancang untuk meningkatkan performa kendaraan dan ramah lingkungan, Pertamax seharusnya menjadi pilihan utama masyarakat.
Namun, bagaimana jika kepercayaan itu mulai luntur? Peran edukasi dan transparansi menjadi kunci untuk membangun kembali relasi antara Pertamina dan publik.
Pertamina sebagai perusahaan besar BUMN ( Badan Usaha Milik Negara), ia memiliki tanggung jawab sosial dan lingkungan yang melekat.
Kasus ini harus menjadi momentum untuk memperkuat sistem, bukan sekadar menghukum oknum.
Masyarakat berhak mendapat energi berkualitas, tetapi juga dikelola dengan integritas.
Kepercayaan selama ini menjadi modal sosial lambat laun akan terkikis dan memulihkannya jauh lebih sulit.
Sebagai produk selama ini diyakini masyrakat Pertamax sebagai minyak unggulan ternyata lain dari perkiraaan, masyarakat tentu sangat kecewa apakah masyarakat masih percaya?
Selain kerugian konsumen, kasus ini berpotensi merusak reputasi Pertamina sebagai penyedia energi nasional.
Jika publik mulai mempertanyakan kredibilitas SPBU, bisa memicu migrasi ke merek saingan seperti Shell, Vivo, dan lain-lain.
Jadi kedepan Pertamina harus menyediakan teknologi pengaduan berupa aplikasi digital dan nomor WA untuk melaporkan kecurangan SPBU secara real-time.
Dilengkapi insentif bagi dan setiap adanya pengaduan dari masyarakat ditanggapi oleh pihak Pertamina bukan hanya sekedar simbol angka-angka pengaduan.
Edukasi konsumen harus Pertamina mensosialisasikan pada media adanya audit manajemen dan pelayanan disetiap SPBU.
Mudah-mudahan tidak terulang lagi dan kedepan pelayanan Pertamina akan lebih baik serta masyarakat tidak lagi antri dalam pengisian bahan bakar.....amin.
*) Penulis adalah Guru SMA Negeri 1 Bukit Bener Meriah
KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/TAZKIR-4.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.