Minggu, 7 Juni 2026

Kupi Senye

Tuhan Saja Tidak Ditakuti

Janji politik bukanlah sesuatu yang patut dirisaukan. Janji tersebut beda tipis dengan iklan.

Tayang:
ISTIMEWA
OPINI TRIBUNGAYO - Dr Johansyah MA adalah Pemerhati Sosial, Budaya dan Pendidikan. Ia menulis opini berjudul 'Tuhan Saja Tidak Ditakuti', Minggu (23/3/2025). 

Oleh: Dr Johansyah MA *)

Judul tulisan ini saya kutip dari Prof Salim Said dalam sebuah video berdurasi singkat beberapa tahun lalu terkait dengan semakin menjamurnya kasus korupsi di Indonesia.

Katanya; “Di Indonesia, jangankan KPK, Tuhan saja tidak ditakuti. Indonesia tidak akan menjadi negara maju selama Tuhan tidak ditakuti oleh pejabat di negeri ini”.

Perkataan beliau kiranya benar, sebab banyak sekali bukti yang dapat ditunjukkan untuk menguatkannya.

Salah satunya kasus dugaan korupsi Pertamina dari hasil oplosan pertalite menjadi pertamax sejak 2018, dimana mereka memperoleh keuntungan sepihak hampir mencapai satu kuadriliun.

Di sisi lain masyarakat tertipu dan menjadi pihak yang paling dirugikan.

Belakangan tiba-tiba pihak Pertamina mengklarifikasi bahwa pertamax yang dijual saat ini murni, bukan oplosan.

Dari sini diduga kuat bahwa banyak hal yang disembunyikan dalam kasus ini. Bukankah para pejabat Negara terikat dengan sumpah jabatan?

Ya, tapi sumpah itu tidak lebih dari pembacaan teks Pancasila oleh inspektur upacara lalu diikuti oleh semua peserta.

Tidak ada pemaknaan, penghayatan dan jauh dari pengamalan. Fasih dan mudah dalam ucapan, tapi tidak tercermin dalam perbuatan.

Dengan kata lain, sumpah bagi mereka adalah sampah yang tidak ada gunanya. Fenomena tidak takut Tuhan mungkin juga kerap kita saksikan dalam kampanye.

Janji politik bukanlah sesuatu yang patut dirisaukan. Janji tersebut beda tipis dengan iklan.

Disuguhkan sedemikian menawan untuk menarik perhatian agar yang mendengar dan menyaksikan merasa tertarik dan akhirnya melirik.

Setelah semua didapatkan, janji yang pernah terucap dengan mudah dilupakan.

Ketika banyak yang mengingatkan janji manis di masa kampanye, mereka menangkis dengan berbagai argumen dan alasan, tanpa sedikit pun merasa bahwa itu hutang kata yang harus ditunaikan.

Dianggap Ujaran Kebencian

Setelah berkuasa bahkan berbagai kritik dianggap ujaran kebencian yang mengancam kekuasaan.

Siapa yang tidak setuju dengan program pemerintah dicap melawan. Para kritikus rentan diperkarakan, bahkan sangat mungkin ditersangkakan hingga dipenjarakan.

Meski pun mereka mengetahui bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan, tapi persetan dengan itu semua, kalau memang membangkang harus segera disingkirkan.

Inilah yang dipertontonkan republik saat ini. Sepuluh tahun sebelumnya kita berada di era kekuasaan ‘saya tidak tahu’.

Lalu dilanjutkan dengan kekuasaan ‘ndasmu’ yang dari perspektif psikologi kepemimpinan dinilai sebagai model
kekuasaan anti kritik.

Pemerintah terlalu percaya diri bahwa apa pun kebijakan dan program yang dibuat, mereka yakini sudah tepat dan berada pada jalur yang benar. Contohnya Makan Bergizi Gratis (MBG).

Berbagai macam cara dilakukan dan bahkan ada kesan terlalu dipaksakan, sampai-sampai harus melakukan efesiensi anggaran dan menaikkan tarif pajak tanpa pertimbangan kemaslahatan hanya demi kenduri rutin makan siang. 

Padahal banyak yang memberikan saran agar berbagai hal dipertimbangkan. Bahwa MBG adalah program yang baik, tapi tidak semua anak Indonesia membutuhkannya karena tidak semua kekurangan gizi.

Justru banyak orangtua yang tergolong mampu memberi makan anak-anaknya melebihi MBG itu sendiri, sehingga wajar kalau ada anak yang protes menu makannya karena di rumah mereka mendapatkan lebih dari itu.

Lain ceritanya kalau MBG untuk anak yang kurang mampu, tentu kita mendukung sepenuhnya. Pemerintah kemudian dapat menghemat anggaran dan MBG pasti diberikan tetap sasaran.

Persis seperti zakat yang memang secara kategoris diperuntukkan bagi kalangan tertentu, bukan untuk semua. 

Tapi sayang, hingga sekarang masukan seperti ini dianggap angin lalu, dan MBG terus dipaksakan.

Seperti yang kita saksikan, bahwa Presiden kita dalam berbagai kesempatan tampak sinis menanggapi berbagai kritikan. Katanya anjing menggonggong kafilah berlalu.

Tapi yang pasti masyarakat menanggung derita, sementara penguasa tidak terbeban dan tidak merasa berdosa.

Musibah terbesar demokrasi adalah kekuasaan tanpa nurani. Rakyat dipaksa bertekuk lutut pada kebijakan apa pun yang dikeluarkan pemerintah.

Suara lantang atas nama rakyat begitu sering terdengar, namun kita bingung entah rakyat mana yang dimaksudkan.

Sebab hari-hari yang kita jalani adalah rangkaian kegelisahan terhadap masa depan negeri yang terlihat suram.

Bukan Aksi Berlebihan

Teriakan ‘Indonesia gelap’ yang digaungkan oleh para mahasiswa dalam demonstrasi mereka bukanlah aksi berlebihan dan provokatif.

Hal tersebut adalah respon alamiah yang muncul dari sengkarut kekuasaan karena tampil dengan berbagai kebijakan aneh dan janggal.

Tentu seperti yang dikatakan Salim Said tadi, semua terjadi karena para elit kita sudah tidak takut lagi kepada Tuhan.

Mungkin pula mereka lebih takut kepada tuan karena tidak mau kehilangan jabatan. Atau sebagai upaya mencari perlindungan, di mana kalau tidak lagi berkuasa akan tetap aman dan tidak mungkin ditersangkakan.

Ketidaktakutan kepada Tuhan merupakan cerminan brutalnya batin seseorang.

Tidak ada manusia yang lebih jahat selain mereka yang tidak takut kepada Tuhan. Lalu betapa ngerinya ketika orang jahat diberikan kesempatan untuk berkuasa.

Situasinya persis seperti yang pernah dikatakan oleh Nelson Madela; ‘penjahat itu tidak membangun Negara, mereka hanya memperkaya diri sambil merusak Negara’.

Soal Indonesia emas 2045 tentu harus disikapi dengan optimis, tapi juga harus realistis.

Indonesia emas sebagai sebuah cita-cita, akan sulit menjadi nyata apabila tidak dijalani dengan penuh kejujuran dan kesungguhan untuk menggapainya melalui cara-cara yang patut dan menarik untuk dipertontonkan.

Tapi kalau masih seperti saat ini, rasanya Indonesia emas tidak lebih dari sekedar khayalan pengantar tidur.

Mungkin yang kita peroleh hanya Indonesia cemas, dimana rakyatnya sering memelas. 

Kecuali itu, kalau penguasa kita tampil seperti Presiden Senegal yang usianya masih sangat muda saat ini, Bassirou Diomaye Faye.

Dia tidak mau fotonya dipajang di kantor-kantor dan rumah karena menurutnya dia bukanlah Tuhan yang harus dipuji.

Faye bahkan meminta para pejabat untuk memajang foto anak-anaknya agar mereka selalu mengingat ketika akan mengambil kebijakan.

Sekiranya itu mengarah kepada penyimpangan, mereka segera ingat pada anak-anaknya di rumah.

Jangan sampai gara-gara mencuri uang Negara anak mereka dicap sebagai anak pencuri.

Presiden Faye adalah sosok pemimpin yang bersahaja dan dalam kekuasaanya tetap menghamba pada Tuhan dengan penuh kesadaran.

Sementara para penguasa negeri ini banyak yang menuhankan jabatan dan mengabdi pada tuan.

Kekuasaan seperti ini tentunya semu, penuh kepalsuan dan hanya akan melahirkan kebijakan semena-mena yang pada akhirnya akan membuat rakyat menderita.

Kalau demikian, tunggulah Tuhan yang tidak lagi ditakuti itu suatu saat pasti menghentikannya.

*) Penulis adalah Pemerhati Sosial, Budaya dan Pendidikan.

KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved