Senin, 8 Juni 2026

Berita Nasional

Diskusi Buku "Sajak-Sajak Malam Gerimis Setangkai Mawar Chairil" Karya Idrus F Shahab

Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin di Taman Ismail Marzuki menjadi tempat berlangsungnya diskusi sastra yang hangat dan reflektif.

Tayang:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Rizwan
Fikar W. Eda/Tribungayo.com
DISKUSI BUKU - Moderator dan pembicara dalam diskusi buku puisi karya Idrus F Sahab di PDS HB Jassin Jakarta, Minggu (13//4/2025). 

Laporan Fikar W. Eda I Jakarta

TRIBUNGAYO. COM, JAKARTA – Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin di Taman Ismail Marzuki menjadi tempat berlangsungnya diskusi sastra yang hangat dan reflektif pada Minggu (13/4/2025).

Buku puisi karya Idrus F. Shahab berjudul "Sajak-Sajak Malam Gerimis Setangkai Mawar Chairil" dibahas oleh sastrawan dan budayawan Betawi Chairil Gibran Ramadhan, pengamat politik kenamaan Dr Fachry Ali, serta penyair muda sekaligus dosen IAI Al Ghurobba Nuthayla Anwar.

Diskusi  dipandu oleh M Syakur Usman dari Aliansi Jurnalis Betawi, dengan Muhammad Sartono dari Sahabat Budaya Indonesia sebagai pembawa acara.

Diskusi ini mengungkap berbagai sisi dari karya Idrus yang dinilai memadukan renungan, pemberontakan, serta pencarian spiritual dalam sajak-sajaknya.

Chairil Gibran Ramadhan menyampaikan kritik tajam terkait rendahnya dukungan terhadap budaya literasi di Indonesia.

“Yang kurang bukan minat baca, tapi minat beli. Orang banyak yang mau baca, kalau diberi buku gratis,” ujarnya.

Ia juga menyoroti lemahnya peran negara dalam mendukung penerbitan dan distribusi buku sastra.

“Pemerintah tidak mau biayai soal buku. Majalah Horison pun akhirnya mati karena tidak ada uang. Tidak ada itu bantuan pemerintah,” katanya.

Ia menekankan bahwa karya-karya Idrus yang melanglang buana ke berbagai tema harus terus dibukukan agar tak hilang dari khazanah sastra Indonesia.

Sementara itu,  Nuthayla Anwar memandang karya Idrus sebagai bentuk kontemplasi mendalam.

“Pesan dalam puisi Idrus luar biasa. Tempatnya dalam peta sastra mungkin tidak mudah ditemukan, tapi Idrus punya maqam-nya sendiri,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa puisi Idrus lebih cocok untuk direnungkan daripada dibacakan di forum pembacaan puisi.

“Sajaknya sangat lembut meski isinya sebuah pemberontakan. Bahkan tragedi seperti tenggelamnya kapal selam pun ia sampaikan dengan cara yang unik dan khas,” jelasnya.

Fachry Ali membuka cakrawala pembacaan dengan menyebut bahwa buku ini diawali dengan Rumi dan ditutup dengan Chairil Anwar.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved