Selasa, 9 Juni 2026

Peringatan Hari Puisi Nasional di UHAMKA: Puisi Membuka Jalan bagi Kebebasan Berekspresi

 “Chairil Anwar memberi pengaruh besar dalam perjalanan sastra Indonesia. Ia mengubah wajah puisi menjadi lebih bebas dan personal,” ujarnya.

Tayang:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Mawaddatul Husna
ISTIMEWA
PERINGATAN HARI PUISI NASIONAL- Para pembicara foto bersama dengan mahasiswa dan dosen seusai sesi kuliah Umum Hari Puisi Nasional di Kampus UHAMKA, Jakarta, Selasa (15/4/2025). Kuliah umum dibuka langsung oleh Dekan FKIP UHAMKA, Purnama Syaepurohman MPd PhD. 

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

TRIBUNGAYO.COM, JAKARTA - Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) menyelenggarakan kuliah umum dalam rangka memperingati Hari Puisi Nasional, di Kampus UHAMKA, Jakarta, Selasa (15/4/2025).

Kegiatan itu menghadirkan penyair-penyair terkemuka Indonesia, antaranya Fikar W Eda, Remmy Novaris DM, Mustafa Ismail, dan Devie Matahari.

Kuliah umum dibuka langsung oleh Dekan FKIP UHAMKA, Purnama Syaepurohman, MPd PhD yang menekankan pentingnya puisi sebagai ruang pembelajaran nilai-nilai kemanusiaan dan kebebasan berpikir.

 “Puisi itu melembutkan hati. Puisi memiliki makna di baliknya dan itu tidak bisa digantikan oleh AI.

Kita bisa belajar tentang sastra yang sebenarnya kepada para penyair,” ungkapnya.

“Chairil sangat mengagumkan. Usianya hanya 27 tahun tapi produktivitasnya sangat tinggi. Ini yang harus kita maknai.

Mahasiswa silakan buka pikirannya untuk belajar. Chairil itu unik,” tambahnya.

Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UHAMKA, Abdurrahman Jufri, MPd juga menggarisbawahi peran besar Chairil Anwar dalam sejarah sastra Indonesia.

 “Chairil Anwar memberi pengaruh besar dalam perjalanan sastra Indonesia. Ia mengubah wajah puisi menjadi lebih bebas dan personal,” ujarnya.

Salah satu narasumber, Mustafa Ismail, menyampaikan bahwa Chairil Anwar adalah tokoh revolusioner dalam puisi Indonesia.

“Chairil memberi perubahan besar dalam sastra Indonesia. HB Jassin bahkan menyebutnya sebagai pelopor Angkatan ’45 karena sajak-sajaknya yang penuh terobosan.

Chairil mendekonstruksi rima dan membebaskan puisi sebagai jalan ekspresi yang tak biasa,” sebutnya.

Remmy Novaris DM menambahkan bahwa meskipun sempat ditolak oleh sastrawan Pujangga Baru seperti Sutan Takdir Alisjahbana, posisi Chairil tetap kuat di mata sejarah sastra.

“HB Jassin tetap menempatkan Chairil sebagai pelopor Angkatan 45 karena semangat pembaruannya," ujarnya.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved