Jumat, 5 Juni 2026

Berita Nasional

Unik, Penyair Peringati Hari Puisi Nasional dengan Upacara di PDS HB Jassin TIM

Ada yang berbeda di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Senin (28/4/2025) siang.

Tayang:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Rizwan
Istimewa
PERINGATI HARI PUISI - Jalannya upacara hari puisi Nasional di PDS HB Jassin, Senin (28/4/2025)  

Laporan Fikar W. Eda I Jakarta

TRIBUNGAYO.COM, JAKARTA – Ada yang berbeda di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Senin (28/4/2025) siang.

Para penyair, sastrawan, siswa, dan pecinta sastra menggelar upacara puisi untuk memperingati Hari Puisi Nasional.

Upacara ini menjadi pembuka rangkaian acara puncak Hari Puisi Nasional yang digelar Komunitas Hari Puisi Nasional (Harsinar) Indonesia.

Bukan upacara biasa, ini pertunjukan puisi, melibatkan lintas komunitas sastra Jabodetabek, disutradarai langsung oleh Fikar W. Eda, penyair sekaligus salah seorang penggagas Hari Puisi Nasional.

"Ini upacara dalam bentuk pertunjukan. Kami ingin menghadirkan suasana khidmat, tapi tetap berjiwa seni," kata Fikar. 

Sejumlah nama tampil dalam upacara ini. Imam Ma’arif dari Dewan Kesenian Jakarta memimpin jalannya upacara, didampingi Remmy Novaris DM sebagai pembina upacara, Berryl Ivana sebagai pembawa dan pengibar bendera, serta partisipasi komunitas sastra lainnya.

Protokol Elisa Hutajulu. Uniknya pembacaan Doa dilakukan oleh Davis Sanggar Matahari. 

Komandan upacara Imam Ma'arif membacakan puisi "Aku" dan Pembina Upacara Remmy Novaris DM membacakan "Siap Sedia" saat memberikan amanat. 

Saat pengibaran bendera hari puisi, diiringi dengan musikalisasi puisi "Derai Derai Cemara. "

Dalam kesempatan itu, Fikar membacakan Surat Kepercayaan Gelanggang - manifesto budaya yang lahir pasca-kemerdekaan, digagas oleh Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin, dan kawan-kawan dari Angkatan '45.

"Surat ini menegaskan semangat bahwa kebudayaan Indonesia lahir dari keberanian bertemu dengan dunia," ujar Fikar.

Surat Kepercayaan Gelanggang pertama kali terbit di majalah Siasat pada 23 Oktober 1950, sebagai suara bebas seniman muda Indonesia, menolak sekat-sekat sempit dalam dunia kebudayaan.

Usai upacara, acara berlanjut dengan diskusi bertajuk Si Binatang Jalang. Fikar W. Eda, Remmy Novaris DM, Mustafa Ismail, dan Kunni Masrohanti tampil sebagai pembicara, dengan Ratna Ayu Budhiarti memandu diskusi.

Mereka mengupas tuntas inspirasi dan pemberontakan estetik Chairil Anwar - penyair legendaris yang menjadi roh Hari Puisi Nasional.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved