Kamis, 16 April 2026

Kupi Senye

Baju Adat dan Motif Gayo

Para anthropolog sepakat kebudayaan adalah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang dipengaruhi oleh "kitaran geografis” dimana dia hidup.

Dok Muchlis Gayo
OPINI TRIBUNGAYO- Muchlis Gayo adalah peserta PKA II 1972 dan mantan dosen Anthropogi Hukum di UNTAG Jakarta. Ia menuliskan opini berjudul 'Baju Adat dan Motif Gayo', Minggu (5/11/2025). 

Oleh: Muchlis Gayo *)

Mengikuti komentar di media sosial (medsos) tentang topi yang dipakai Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, dan pakaian adat peserta yang disarankan Bupati pada upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional, menggelitik penulis untuk nimbrung membahasnya melalui media ini.

Budaya berasal dari kata “colere”, bahasa latin, kata jamak dari budi dan daya, atau kekuatan yang mendorong akal untuk berfikir.

Para anthropolog sepakat kebudayaan adalah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang dipengaruhi oleh "kitaran geografis” dimana dia hidup.

Wujudnya ada dua. Pertama, berupa benda-benda atau artefak, kedua, bersifat ide-ide, konsep, dan gagasan, mengenai apa yang diyakini akan bernilai, penting.

Dan berfungsi sebagai pedoman yang memberi arah dan orientasi bagi kehidupan masyarakat, dapat disebut “sistem nilai budaya” atau “paling abstrak dari adat istiadat”.

Menurut bapak Antropolog Indonesia Prof Koentjara Ningrat, ada tujuh unsur kebudayaan disetiap kehidupan bersama dimanapun mereka berada.

Yaitu bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem relegi/agama, dan kesenian. 

Semua unsur itu dapat diperkecil, contoh unsur Kesenian: seni lukis, seni pahat, seni suara, theatre, musik, sastra dan lain-lain. Menganyam, menenun, menyepuh, tembikar dan sebagainya.

Faktor kitaran geografis memaksa manusia tunduk kepada hukum-hukumnya, manusia memiliki akal melakukan penyesuaian dengan kitaran geografis alam dimana ia hidup.

Orang-orang yang hidup dipinggir laut atau dataran rendah, akan menyesuaikan diri dengan alamnya yang berhawa panas, berangin kencang.

Suara deburan ombak, mewujudkan budaya: vocal suara ringan, nyaring dan keras, pakaiana tipis, tanpa penutup kepala.

Rumahnya tinggi jenjang berjendela, agar udara masuk seni tidak beragam, tarinya bergerak dan berdiri, peralatan hidupnya terkait pertanian dan bersawah, serta nelayan laut.

Sebaliknya yang hidup di dataran tinggi, atau pergunungan, hutannya lebat terjal, kabutnya tebal, hewannya beragam. 

Ada yang liar buas dan jinak, di kitaran alam seperti ini orang Gayo hidup, maka budayanya; vocal suara tebal berat, mata pencaharia hidupnya berburu, berternak, bersawah, nelayan sungai dan danau.

Seninya, seni vocal, tari, mengukir, menganyam, membuat tembikar, menenun, menepa, dan menyepuh.

Rumahnya bertingkat rendah tanpa jendela, kecuali “tingkep” untuk mengeluarkan asap dapur. Berpakaian dan berselimut tebal, kepala di tutupi beragam bentuk kain.

Berdasarkan kajian tersebut, dikaitkan dengan pakaiaan adat peserta upacara, dan topi yang dipakai Bupati Drs Haili Yoga, yang sebelumnya dipakai juga oleh mantan Bupati Ir Nasaruddin, MM dan Drs Sabela Abu Bakar.

Penulis berpendapat:

1. Sesuai hukumnya, budaya Gayo baik di Kabupaten Aceh Tengah, maupun Bener Meriah, telah mengalami perubahan, karena pengaruh discovery dan Invention.

Akibat faktor akultrasi dan asimilasi sejak abad ke 16 antara orang Gayo dengan Karo, dan orang Gayo dengan pendatang dari pulau Jawa tahun 1917 dan 1980.

2. Topi : orang Gayo menyebutnya ” Ruje ni Ulu”, ( Ind; kain kepala) karena terbuat dari kain tanpa dijahit.

Dari beragam bentuknya, yang punya nama hanya 4, Seléng, Sėréng, Pengkah, Jembolang, mungkin juga Mekeutup yang dipakai Teuku Umar juga dari Gayo, seperti Debus, Serune Kale, dan Rencong atau Reuntjeong .

Pada PKA ke 2 tahun 1972, Bupati Aceh Tengah Alm Nurdin Sufie memakai penutup kepala model Pengkah yang tonjolan depannya diangkat keatas/tegak, tanpa motif dikerawang.

Selain Bupati, memakai model Serėng, modelnya mirip penutup Meuketeup yanag dipakai Sultan
Iskandar Muda.

3. Pakaian Adat Gayo, terlebih dahulu dibedakan kata pakaian adat dengan pakai bermotif yang di kerawang; pakaian adat, pakaian yang dipakai secara turun temurun, oleh masyarakat adatnya.

Sebelum Tanoh Gayo diduduki oleh Belanda, kainnya hasil tenunan, motifnya kotak-kotak bersegi, mirip hasil tenunan etnis Karo dan Batak, kain panjangnya disebut “opoh Ules”.

Terakhir yang memakai Syeh Sahak saat menari tari guru didong solo di pendopo era Bupati Nutrdin Sufie saat
menerima tamu daerah.

Setelah terbentuk pemerintahan hindia Belanda, alat tenun dimusnahkan muncul kain-kain produksi mesin, pakaian wanita berubah, bagian bawah tetap kain tenunan.

Memakai baju kurung kerah sanghai, kepala ditutupi selendang yang dilipat diatas, yang pria tetap pakai sarung.

Pertemuan lipatan kain digulung didepan pinggang, sebagain tetap memakai tutup kepala dari kain, sebagian memakai peci, sebagian tanpa tutup. 

4. Pakaian yang dipakai peserta upacara hari Pendidikan, pakaian yang bermotif di kerawang.

Kerawang dalam kamus Bahasa Indonesia ; lubang2 kecil, ( tenunan, Sulaman, sujian), mengerawang adalah pekerjaan jahit menjahit, renda merenda, sulam menyulam.

Di Takengon orang yang pertama mengerawang alm Abdullah dari kampung Bale.

Beliau juga mengerawang pakaian peserta PKA ke II 1972, dan opoh ulen-ulen yang dikenakan ke Pundak alm Presiden Soeharto, saat meresmikan pabrik gula Mini di Buter Balik Kecamatan Ketol 17 oktober 1979.

Pertanyaan hari ini; bagaimana mempertahankan budaya Gayo?

Jawabnya, Bupati Aceh Tengah dan Bener Meriah, wajib melaksanakan Amanah UU Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, pelaksanaannya diatur dalam PP Nomor 87 tahun 2021. 

Implementasinya Dikbudristek Nomor 6 tahun 2022 tentang Pedoman Penyusunan Pokok Pokok Pemikiran Kebudayaan Daerah (PPKD).

*) Penulis adalah peserta PKA II 1972 dan mantan dosen Anthropogi Hukum di UNTAG Jakarta.

KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved